<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076</id><updated>2012-02-16T04:11:36.814-08:00</updated><category term='nasehat'/><category term='Aliran Sesat'/><category term='Tulisan Ikhwah'/><category term='fiqh'/><category term='info'/><category term='Tarbiyah'/><category term='Tsaqfah Islamiyyah'/><category term='Tsaqafah Islamiyyah'/><category term='hadits'/><title type='text'>..::: BEM STIBA :::..</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-8547487604118729934</id><published>2011-08-06T07:01:00.000-07:00</published><updated>2011-08-06T07:11:11.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ikhwah'/><title type='text'>DAN BERTAQWALAH WAHAI ORANG ORANG YANG MEMIKIRKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mYYG5NN_vno/Tj1LZYwSrVI/AAAAAAAAAH0/KyKivB1N6es/s1600/6.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mYYG5NN_vno/Tj1LZYwSrVI/AAAAAAAAAH0/KyKivB1N6es/s320/6.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5637745208051543378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tanda tanda kebesaran Allah subahaanahu wata’aala adalah Dia menciptakan siang dan malam yang silih berganti, menciptakan langit sebagai atap dan bumi sebagai tempat manusia berpijak. Begitupula Allah subahaanahu wata’aala menciptakan laki laki dan perempuan yang berlainan jenis, kesemuaanya itu adalah agar manusia dapat selalu mengingat dan berpikir bahwa Dialah satu satunya Rabb yang berhak untuk disembah dan Dialah satu satunya Sang  Pencipta.&lt;br /&gt;Demikianlah Allah subhaanahu wata’aala telah memberikan kenikmatan kepada manusia yang begitu banyak, agar manusia selalu berpikir akan hak hak Sang Pencipta, Allah Subhaanahu Wata’aala.&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu Wata’aala telah banyak mentabih dan mentandzir memberikan peringatan kepada manusia agar mereka senantiasa memikirkan akan  kenikmatan kenikmatan yang begitu banyak tersebut. Karena dengan yang demikian itu manusia akan selalu sadar akan kelalaian kelalaian mereka. Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.&lt;br /&gt;Allah juga berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (٣١)وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٣٢)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(31). sungguh telah rugilah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; orang-orang yang mendustakan Pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan Kami, terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, Amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(32). dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?&lt;br /&gt;Demikian diantara ayat ayat yang menjelaskan akan bentuk peringatan Allah Subhaanahu Wata’aala akan kelalaian manusia. Namun, firah manusia yang selalu ingin hidup senang, hidup mewah, hidup dalam kekayaan dan kemegahan, membuat manusia lupa diri akan semakin dekatnya hari yang dijanjikan oleh Rabb mereka.&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu Wata’aala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (١)مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٢)لاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٣)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1). telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).(2). tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main,(3). (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir itu[*], Padahal kamu menyaksikannya?"&lt;br /&gt;[*] Yang mereka maksud dengan sihir di sini ialah ayat-ayat Al Quran.&lt;br /&gt;Banyak dari kalangan manusia, yang enggan untuk memikirkan betapa di balik semua penciptaan yang sempurna ini terdapat banyak tanda  dari tanda tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Olehnya Allah Subhaanahau Wata’aala mengabarkan kepada kita tentang tanda tanda ulull Albab yaitu orang orang yang berakal sehat yang akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagian di dunia dan di akhirat kelak. Allah subhaanahu Wata’aala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(191) yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu “alaihi Wasallam ketika membaca ayat ini beliau menangis, karena khawatir dari umatnya banyak yang tidak mentadabburi ayat ini.&lt;br /&gt;Jika saja manusia hendak meluangkan sedikit waktunya untuk memikirkan betapa sempurnanya penciptaan Allah Subhaanahu Wata’aala terhadap dirinya, maka sungguh ia akan banyak bersyukur dan akan banyak melinangkan air matanya untuk senatiasa bertaubat kepada Allah akan dosa dosanya. Betapa tidak, semua yang Allah Subhaanahu Wata’alaa berikan pada dirinya akan dimintai pertanggung jawabannya. Mulut, telinga, mata, kaki, tangan dan semua organ organ tubuhnya yang lain akan menjadi saksi di hari kiamat kelak. Hari yang tidak bermanfaat lagi harta dan anak anak, keculai orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wata’aala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا (٣٦)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.&lt;br /&gt;Masih ada waktu yang Allah Subhaanahu Wata’aala berikan kepada kita untuk senantiasa memikirkan dan bertaubat dari kesalah kesalahan kita semua. Sebelum datang waktu yang Allah janjikan, dimana kita Akan melihatnya dengan Ainul Yaqiin. Olehnya, semoga kita tidak termasuk diantara orang orang yang lalai yang terlena dengan kenikmatan dunia yang fana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (١)حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (٢)كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٣)ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (٤)كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (٥)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (٦)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (٧)ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (٨)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(1). Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,(2). sampai kamu masuk ke dalam kubur.(3). janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),(4). dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.(5). janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,(6). niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,(7). dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.(8). kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢٤)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;24. Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[Maksudnya: bumi yang indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya.], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya [Maksudnya: dapat memetik hasilnya], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.&lt;br /&gt;Permisalan manusia di dunia ini dengan Tuhan-Nya ibarat penjual dan pembeli. Manusia sebagai penjualnya dan Allah sebagai pembelinya. Jika dagangan manusia itu baik maka Allah Subhaanahu Wata’aala Akan menerima dagangan tersebut dan jika dagangan itu buruk maka Allah Subhaanahu Wata’aala akan menolak dagangan tersebut. Maka perbaikilah daganganmu wahai sekalian orang orang yang beriman.&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١١١)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.&lt;br /&gt;Manusia hanyalah ibarat kumpulan hari hari, ia menjual dirinya untuk membebaskan dirinya dari adzab Allah Subhaanahu Wata’aala atau mengahabiskan potongan hari harinya untuk membinasakan dirinya ke adzab Allah Subhaanahu Wata’aala Dzat yang kepada-Nya semua akan di kembalikan.&lt;br /&gt;Hasan Al Bashri Rahimahullah  mengatakan:&lt;br /&gt;يا ابن آدم إنك أنت الأيام إذا ذهب يومك ذهب بعضك&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wahai bani Adam sesungghunya engkau hanyalah kumpulan dari hari hari, jika telah pergi harimu maka pergilah sebagian dari dirimu&lt;br /&gt;Raulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;الطهور شطر الإيمان, و الحمد لله تملأ الميزان و سبحان الله و الحمد لله تملآن أو تملأ ما بين السماء و الأرض و الصلاة نور و الصدقة برهان و الصبر ضياء و القرآن حجة لك أو عليك, كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها. رواه مسلم&lt;br /&gt;Bersuci itu adalah separuh dari iman, bacaan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) itu memnuhi timbangan, bacaan subhaanallah (Maha Suci Allah) dan Alhamdulillah itu,keduanya memenuhi antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti nyata, kesabaran adalah sinar, sedangkan Al Qur-an adalah hujah yang membelamu atau yang menuntutmu. Setiap menusia berbuat, seakan akan ia menjual dirinya, ada yang memerdekakan dirinya dan ada pula yang membiasakan dirinya. “ ( diriwayatkan oleh imam Muslim)&lt;br /&gt;إن الليل و النهار رأس مال المؤمن, ربحها الجنة و خسرانها النار&lt;br /&gt;Sesungguhnya malam dan siang adalah modal utama kaum muslimin. Keuntungannya adalah surga dan kerugiannya adalah neraka. ( thoifur al baththami )&lt;br /&gt;Sungguh indah apa yang dikatakan oleh seorang penyair:&lt;br /&gt;Engkau begitu terobsesi pada dunia&lt;br /&gt;Apakah engkau tahu wahai manusia yang tertipu&lt;br /&gt;Apa yang engkau kejar?&lt;br /&gt;Jika seseorang terlalu keras berusaha untuk dunianya&lt;br /&gt;Hingga terlalai dari Akhirat, tidak ragu lagi ia adalah manusia yang rugi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kupersembahkan untuk saudara saudara sekampung halamanku. Ketahuilah bahwa  saudaramu yang lemah ini telah bertaubat kepada Allah subhaanahu Wata’aala akan dosa dosanya. Jika kalian melihatku dalam kekelirauan maka luruskanlah dan nasihatilah diriku. Jika aku bersalah pada kalian maka maafkanlah aku karena sesungguhnya aku hanyalah manusaia lemah yang tidak pernah lepas dari kesalahan kesalahan. Namun yang ku tahu adalah bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun. Maka aku meminta maaf kepada kalian semua. Jika waktu esok bukan milikku lagi dan kalian tidak menemuiku lagi maka kuharap kalain tetap mengikhlaskan dan memaafkan segala kesalaahnku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhuukum Fillah:  Alfaqiir ilaa ‘afwi Rabbihi&lt;br /&gt;                                 Abu Abdillah Wahyu Al Munawy&lt;br /&gt;                                (Muhammad Ode Wahyu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-8547487604118729934?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/8547487604118729934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/08/diantara-tanda-tanda-kebesaran-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8547487604118729934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8547487604118729934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/08/diantara-tanda-tanda-kebesaran-allah.html' title='DAN BERTAQWALAH WAHAI ORANG ORANG YANG MEMIKIRKAN'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mYYG5NN_vno/Tj1LZYwSrVI/AAAAAAAAAH0/KyKivB1N6es/s72-c/6.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-1439507873186270692</id><published>2011-08-02T08:28:00.000-07:00</published><updated>2011-08-02T08:44:23.853-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>17 Hari Menghafal Qur-an</title><content type='html'>Dalam rangka menghadapi bulan suci ramadhan, Badan Pembinaan dan Pengembangan Tahfizhul Qur-an (BP2TQ) DPP WI bekerja sama dengan Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) Ma’had Aly Al Wahdah menyelenggarakan acara 17 hari menghafal qur’an. Kegiatan ini diadakan di masjid Al Ihsan kampus Ma’had Aly Al Wahdah ( STIBA Makassar) mulai dari tanggal 2 ramadhan hingga tanggal 18 ramadhan. Dalam acara pembukaan yang dilakukan pagi tadi (02 agustus 2011) yang membuka langsung acara ini secara resmi adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyyah (DPP WI) Al Ustadz Muhammad Ikhwan Abdul Jalil Hafizhohullah. Beliau memberikan banyak motivasi dan juga adab adab dalam membaca Al qur’an. dalam acara pembukaan ini pula turut memberikan sambutan adalah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Direktur ma’had Ali Al Wahdah ( STIBA) Makassar Al Ustadz Muhammad Yusran Anshar Hafizhohullah dan juga ketua BP2TQ al ustadz Harman Tajang  Hafizhohullah. dalam  Acara ini di ikuti 120 peserta yang terdiri dari 60 ikhwah dan 60 akhwat. Ikhwah  dan akhwat  masih dapat mendaftar dalam acara ini hingga tanggal 3 ramadhan. Teknik kegiatan mengahafalnya akan dibuat perhalaqah berdasarkan jumlah hafalan dan umur. Serta yang menjadi muhafizh (pembina Hafalan) adalah mahasiswa Ma’had Aly Al Wahadah yang hafalannya  minimal telah mencapai 10 juz. Dan kebanyakan pula telah mencapai 30 juz al qur-an   dan juga para asatidzah dari BP2TQ WI.&lt;br /&gt;Setiap Peserta secara umum akan mendapatkan hadiah dari DPP WI terlebih juga jika peserta telah mencapai target yang diberikan oleh panitia pelaksana.  Apabila bisa menghafal 1 juz dalam 17 HARI maka ia akan mendapat 1 point dan jika bisa menghafal 2 juz mendapat 2 point dan seterusnya, yang point -point tersebut  bisa di tukarkan dengan hadiah  yang lebih bermakna nantinya. Bapak Ustadz tidak memberitahukan apa bentuk hadiahnya sebagai bentuk motivasi kepada para peserta agar lebih semangat dan ikhlash karena Allah. Demikian yang di katakan oleh Wakil Ketua DPP WI hafizhohullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-1439507873186270692?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/1439507873186270692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/08/17-hari-menghafal-qur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/1439507873186270692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/1439507873186270692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/08/17-hari-menghafal-qur.html' title='17 Hari Menghafal Qur-an'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-3603700791282876810</id><published>2011-07-28T22:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T23:07:22.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tulisan Ikhwah'/><title type='text'>Pintu Taubat Terbuka Wahai Saudaraku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vdt1oQDnTI8/TjJNklmFKiI/AAAAAAAAAHk/lIYAzZr5nlQ/s1600/2573w8x62808.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vdt1oQDnTI8/TjJNklmFKiI/AAAAAAAAAHk/lIYAzZr5nlQ/s320/2573w8x62808.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634651374756375074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh : Muhammad Ode Wahyu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang patut dibanggakan oleh kaum muslimin adalah mereka memliki Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, Allah subhaanahu wata’aala. Tidak  ada satu dosapun yang dilakukan oleh hamba hamba-Nya melainkan Allah subhaanahu wata’aala akan mengmpuni dosa mereka. Itulah salah satu diantara sifat sifat-Nya yang mulia.&lt;br /&gt;Namun, terkdang syaithon dapat menembus benteng pertahanan seorang muslim yang kuat hingga ia  menjatuhkannya  dalam sebuah kesalahan dan kemaksiatan. Syaithon terus membisikkan kepadanya rayuan dan makarnya hingga muslim tersebut semakin jauh terjatuh terperosok dan akhirnya ia putus asa akan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Manusia tidak sadar bahwa mereka memiliki Allah subhaanahu wata’aala. Dzat yang memiliki segalanya. Dzat yang memiliki langit dan bumi. Dzat yang Maha Kaya. Kepadanyalah semua akan di kembalikan. Kepada-Nya seluruh makhluk meminta tanpa mengurangi sedikitpun dari apa yang ada pada-Nya.&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; hadits qudsi, Allah subhanahu wata’aala berfirman : wahai hamba hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat kesalahan di siang hari dan malam hari sedangkan Aku mengampuni segala dosa, maka mohon ampunlah kepada-Ku niscaya aku akan mengampuni kalian. Wahai hamba hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan mudharat kepada-Ku hingga kalian dapat memudharatkan-Ku, dan kalian tidak akan bisa memberikan manfaat kepada-Ku hingga kalian dapat memberi manfaat kepada-Ku. Wahai hamba hamba-Ku, jika seandainya sejak orang yang pertama di ciptakan hingga yang terakhir di ciptakan, seluruh manusia dan jin, keadaannya seperti seorang yang paling bertaqwa diantara kalian, maka hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba hamba-Ku seandainya sejak orang yang pertama diciptakan hingga yang terakhir diciptakan, seluruh jin dan manusia, keadaannya seperti seorang yang paling jahat diantara kalian maka hal tersebut tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba hamba-Ku, seandainya sejak orang yang pertama diciptakan hingga yang terakhir diciptakan, seluruh jin dan manusia berdiri disatu tanah lapang, kemudian mereka semua meminta kepada-Ku, kemudian Aku memberikan satu persatu permintaan mereka, maka apa yang ada di sisi-Ku tidak akan berkurang kecuali seperti berkurangnya air laut di samudra yang luas ketika sebuah jarum dicelupkan kedalamnya kemudian jarum tersebut diangkat.  (HR: Muslim)&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluq yang lemah, namun terkadang rasa sombong dan hawa nafsunya mengalahkan dirinya hingga ia berjalan di atas bumi dengan congkak dan angkuh. Iapun melupakan sesuatu yang berada diatasnya, ia lupa akan kewajiban kewajibannya kepada sesama manusia, terlebih hak hak Allah sunhaanahu wata’aala padanya yang belum ia penuhi. Demikinlah Allah subhaanahu wata’aala menciptkan manusia, sangat lemah, karena dari sifat itulah fitrahnya sebagai manusia ia membutuhkan Dzat yang Maha Besar, Dzat Yang Menciptkan seluruh Alam semesta. Hanya saja terkadang orang orang yang hatinya telah terkena penyakit lalai menghendaki agar manusia semua berpaliang sejauh jauhnya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٢٦)وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلا عَظِيمًا (٢٧)يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا (٢٨) &lt;br /&gt;26. Allah hendak menerangkan (hukum syari'at-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para Nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana (27) dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran) (28) Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.&lt;br /&gt;Tatkala manausia telah tenggelam dalam lautan kemaksiatan, seolah mata telah menjadi buta, telinga menjadi tuli dan hati tidak dapat lagi merasa. Keindahan dunia menjadikannya lupa akan hakikat diciptakannya dirinya di dunia ini. Namun ternyata Allah subhaanahu wata’aala Dzat yang merupkan Pemilik kerajaan langit dan bumi itu tidak pernah menutup pintu taubat selama  nyawa belum  berada di tenggorokan atau matahari terbit dari barat.&lt;br /&gt;Rasa sayang-Nya akan hamba hamba-Nya sangat begitu besar hingga dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Allah sangat senang tatkala meliihat seorang hamba yang taubat dari dosa dosanya.&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : &lt;br /&gt;عن أبي هريرو رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: الله أشد فرحا بتوبة احدكم بضالته إذا وجدها&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: sungguh Allah lebih senang dengan taubat salah seorang diantara kalian daripada senangnya salah seorang yang kehilangan barang kemudian menemukannya. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt; Bahkan Allah begitu cemburu saat melihat hamba hamba-Nya berbuat sesuatu apa yang Ia haramkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;إن الله يغار و غيرة الله أن ياتي المؤمن ما حرم الله&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecmburuan-Nya itu tatkala seorang muslim mengerjakan apa apa yang Ia haramkan. (muttafaqun ‘alaihi)&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran betapa  besarnya rasa sayang Allah suabhaanahu wata’aala pada hamba-Nya, maka sungguh sangat menyedihkan tatkala seorang muslim menukar rasa sayang yang begitu besar tersebut dengan kenikmatan dunia yang tidak lebih berharga dari sebilah sayap nyamuk tersebut.&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits qudsi rassulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman: Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa dan mengharap kepada-Ku, Aku akan megampunimu atas dosa dosamu dan tidak Aku pedulikan lagi. Wahai anak Adam, seandainya dosa dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu, Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula. (HR: Tirmidzi,dan ia berkata hadist ini hasan)&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak ada kata, kecuali mulai dari sekarang kita bertaubat kepada Allah subhaanahu wata’aala, mengucapkan kalimat istigfar sebanyak banyaknya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang. Dunia begitu singkat tak terasa perputaran roda waktu berputar. Hari menjadi bulan dan bulan menjadi tahun dan silih berganti. Setiap hari banyaknya orang yang kembali ke kampung halamannya, negri akhirat. sedangkan maliakat maut telah bersiap siap datang menyapa kita dengan menarik nyawa yang ada dalam tubuh kita, mununggu giliran kita kapan tiba waktunya. Pintu akhiratpun terbuka, antara pintu surga dan neraka sementara kuncinya ada di tangan kita, amal amal yang telah kita perbuat.&lt;br /&gt;Sungguh mengagumkan kisah seorang sahabat yang tatkala sakaratul maut hendak tiba menjemputnya ia menangis, ditanykan kepadanya apa yang membuatmu menangis? Apakah karena sedih akan berpisah dengan sanak keluargamu? Apakah sedih karena harta mu, namun beliau menjawab, sungguh aku takut, setelah ini aku tidak tahu akan kemana, entah itu surga atau neraka, semantara persiapanku masih begitu sangat sedikit.&lt;br /&gt;Allah subhaanahu wata’aala berfirman: &lt;br /&gt;قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٥٣)&lt;br /&gt;53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Wahai Rabb yang memiliki Kerajaan langit dan bumi, ampunulah kami atas dosa dosa kami karena sesungguhnya kami ini hanyalah manusia yang lemah yang tak berdaya. Wahai Rabb kami jika Engkau menakdirkan aku wafat pada hari ini maka jadikanlah kematianku tersebut dalam  keadaan islam dan husnul khaatimah, wahai Rabb kami, jika senadainya Engkau menakdirkan kami wafat pada hari ini maka janganlah engaku mencabut ruh dari diri kami keculai telah Engkau ampuni dosa dosa kami seluruhnya,, wahai Rabb, sesungguhnya kami hanyalah manusia yang lemah Dan engkaulah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-3603700791282876810?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/3603700791282876810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/pintu-taubat-terbuka-wahai-saudaraku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/3603700791282876810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/3603700791282876810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/pintu-taubat-terbuka-wahai-saudaraku.html' title='Pintu Taubat Terbuka Wahai Saudaraku'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vdt1oQDnTI8/TjJNklmFKiI/AAAAAAAAAHk/lIYAzZr5nlQ/s72-c/2573w8x62808.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-2241164570136302007</id><published>2011-07-19T10:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-19T10:25:12.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqh'/><title type='text'>Hukum dan Memakan Jual Beli Tokek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-AS1swdVrFF8/TiW88cdy6KI/AAAAAAAAAHc/aMr2g7dgDN0/s1600/tokek.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-AS1swdVrFF8/TiW88cdy6KI/AAAAAAAAAHc/aMr2g7dgDN0/s200/tokek.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5631114655716010146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berikut jawaban Ustadz Muhammad Arifin bin Badri, MA atas pertanyaan hukum budidaya tokek, di milis pm-fatwa@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaki tokekPertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon bisa diberikan penjelasan apakan budidaya tokek dan memperdagangkannya diperbolehkan dalam Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum serangga, termasuk tokek dan cicak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan ulama’ menyatakan bahwa serangga adalah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; haram, karena termasuk binatang yang menjijikkan, bila demikian adanya maka serangga termasuk dalam keumuman ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan)” (Qs. Al A’araf: 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari ulama’ menyatakan bahwa setandar barang yang menjijikkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ialah pendapat masyarakat umum, bila masyarakat umum menyatakan suatu hal itu menjijikkan maka itu haram, bila kebanyakan mereka menyatakan tidak menjijikkan maka itu halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkaitan dengan cicak dan tokek, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam secara khusus telah memerintahkan kita untuk membunuhnya acap kali kita melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang membunuh cicak dengan sekali pukul, maka ia mendapatkan pahala seratus kebaikan, dan bila ia membunuhnya pada pukulan kedua, maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu, dan bila pada pukulan ketiga, maka ia mendapatkan pahala kurang dari itu.” (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada riwayat imam Muslim lainnya, beliau shallallaahu alaihi wa sallam menjulukinya sebagai binatang jahat (fuwaisiq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن سعد بن أبي وقاص t أن النبي rأمر بقتل الوزغ وسماه فويسقا رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari sahabat Sa’a bin Abi Waqqas radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memerintahkan agar kita membunuh cicak, dan beliau menyebutnya sebagai fuwaisiq (binatang jahat). (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama’ diantaranya ialah imam An Nawawi telah menjelaskan bahwa hikmah dijulukinya sebagian binatang dengan (fasiq atau fuwaisiq) adalah dikarenakan binatang-binatang tersebut menyelisihi keumumam binatang melata lainnya, dalam hal kehalalan atau larangan membunuhnya. (Nailul Authar 5/80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu para ulama’ menegaskan bahwa setiap binatang yang dijuluki sebagai binatang fasiq atau fawasiq atau fuwaisiq. Halal untuk di bunuh, baik di tanah halal atau tanah haram, baik ketika sedang berihram atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa riwayat lain, dijelaskan hikmah disyari’atkannya kita membunuh cicak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dahulu cicak itu meniup-niup (api agar semakin berkobar membakar-pen) nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” (Riwayat Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, cicak dan juga tokek tidak dapat dikatagorikan sebagai hal yang baik (thayyibaat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Ibnu Hazem Al Andalusi menyatakan: “Cicak adalah salah satu binatang yang paling menjijikkan.” (Al Muhalla 7/405)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa ulama’ telah menegaskan bahwa tokek adalah satu spesies dengan cicak, dengan demikian hukumnyapun sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Syaukani menyatakan: “Cicak itu termasuk binatang melata yang mengganggu manusia, dan tokek adalah salah satu spesies darinya yang berbadan lebih besar.” (Nailul Authar 8/200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila penjelasan ini telah dapat diterima, maka dapat disimpulkan bahwa memperjual-belikan tokek, cicak dan yang serupa tidak dibenarkan alias haram. Yang demikian itu dikarenakan setiap yang haram, pasti haram pula untuk diperjual-belikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ الله إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيءٍ حَرَّمَ عَلَيهِمْ ثَمَنَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bila Allah telah mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu, pasti Ia mengharamkan pula atas mereka hasil penjualannya.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud dan dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang menurut hemat saya dan sebatas ilmu yang saya miliki paling kuat dalam permasalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’alam bisshowab, semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Arifin bin Badri, M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.pengusahamuslim.com/fatwa-perdagangan/tanya-jawab/547-tanya-jawab-hukum-jual-beli-tokek.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://tholib.wordpress.com/2009/08/17/tanya-jawab-hukum-jual-beli-tokek/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-2241164570136302007?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/2241164570136302007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/berikut-jawaban-ustadz-muhammad-arifin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/2241164570136302007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/2241164570136302007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/berikut-jawaban-ustadz-muhammad-arifin.html' title='Hukum dan Memakan Jual Beli Tokek'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-AS1swdVrFF8/TiW88cdy6KI/AAAAAAAAAHc/aMr2g7dgDN0/s72-c/tokek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-3751163952428856621</id><published>2011-07-18T15:06:00.001-07:00</published><updated>2011-07-18T15:12:55.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqh'/><title type='text'>HUKUM MEMAKAN KATAK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-o1dynitnNco/TiSvrknrzMI/AAAAAAAAAHU/RLY1TYvrDJs/s1600/080117-kodok.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 158px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-o1dynitnNco/TiSvrknrzMI/AAAAAAAAAHU/RLY1TYvrDJs/s200/080117-kodok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630818597219323074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu alaikum, apakah ada hadist yang shahih tentang larangan membunuh katak, dan apakah haram memakannya, karena saya pernah mendengar ada hadistnya (Munawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa’alaikum  salam warahmatullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang melarang membunuh katak diriwayatkan oleh Abu Daud (no. 3871 dan 5269), Nasaai (no. 4355) dan Daarimi (no. 1998)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عُثْمَانَ أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِي دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَتْلِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdurrahman bin Utsman radhiyallohu anhu bahwa seorang dokter bertanya kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam tentang katak dijadikan obat maka Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat Hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Daud telah meriwayatkan hadits ini dengan sanad sebagai berikut : Abu Daud —&amp;gt; Muhammad bin Katsir —&amp;gt; Sufyan Ats Tsauri —&amp;gt; Ibn Abi Dzi’b —&amp;gt; Said bin Kholid —&amp;gt; Said bin Musayyib —&amp;gt; Abdurrahman bin Utsman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanad hadits&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Abu Daud di atas semuanya perowi yang tsiqoh (terpercaya) kecuali Said bin Kholid, derajat beliau menurut Ibnu Hajar : shaduq (jujur). Dengan demikian sanad Abu Daud hasan namun Syaikh Albani menghukumnya sebagai hadits shohih, mungkin saja karena beliau melihat beberapa syawahid (pendukung) yang menguatkannya.  Kesimpulannya hadits ini adalah hadits yang diterima dan pantas dijadikan hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarah Hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Imam Khaththabi rahimahulloh berkata, “Hadits ini merupakan dalil bahwa katak haram dimakan dan tidak termasuk hewan air yang boleh dimakan…”&lt;br /&gt;  Imam Abul Barakaat Ibn Taimiyah dalam kitab beliau Muntaqa Al Akhbar memasukkan hadits ini dalam bab yang beliau beri judul : “Bab Yang Diambil Manfaat tentang Hukum Keharamannya Berdasarkan Perintah untuk Membunuhnya atau Larangan Membunuhnya”. Maksud beliau bahwa kita bisa mengambil faidah haramnya suatu hewan berdasarkan salah satu dari dua sebab yaitu adanya perintah untuk membunuhnya atau adanya larangan membunuhnya.&lt;br /&gt;  Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahulloh –ketika menjelaskan hadits ini- beliau berkata, “Larangan membunuh katak menunjukkan haramnya dan tidak boleh dijadikan sebagai obat karena seandainya dibolehkan membunuhnya maka boleh saja digunakan untuk obat, karena kaidahnya adalah sesuatu yang boleh dibunuh dan digunakan maka boleh dijadikan sebagai obat dan sebaliknya sesuatu yang tidak boleh dibunuh maka tidak boleh dijadikan sebagai obat dan tidak boleh dimakan. Hal ini menunjukkan bahwa katak tidak boleh dimakan dan ini merupakan pengecualian dari hukum hewan yang hidup di laut. Maka katak tidak boleh dimakan karena Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam telah melarang membunuhnya karena seandainya boleh dimakan tentu beliau mengizinkan untuk mengambil manfaat darinya sebagai makanan dan obat akan tetapi ketika beliau melarangnya maka jelaslah bahwa katak tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijadikan sebagai obat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Fuqaha tentang larangan membunuh katak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli fiqh berbeda pendapat tentang larangan yang terdapat pada hadits di atas; apakah haram atau makruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat  Pertama : Makruh; ini pendapat madzhab Malikiyyah dan sebagian dari Syafi’iyyah dan Hanabilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Kedua : Haram; ini pendapat Jumhur ulama yaitu dari kalangan Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah. Imam Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah juga sepakat mengharamkannya. Pendapat kedua inilah yang rojih karena hukum asal dari larangan adalah haram,wallohu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kami mengakhiri penjelasan ini maka hal lain yang perlu diingatkan adalah ketika kita mengatakan memakan katak haram berarti kita juga mengharamkan untuk menjadikannya lahan bisnis, sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  (وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Sesungguhnya jika Allah mengharamkan atas suatu kaum memakan sesuatu maka berarti Allah juga mengharamkan harganya” (HR. Abu Daud dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu A’lam bish Shawab wa Huwa Waliyyu At Taufiq&lt;br /&gt;sumber: markazassunnah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-3751163952428856621?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/3751163952428856621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/hukum-memakan-katak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/3751163952428856621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/3751163952428856621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/hukum-memakan-katak.html' title='HUKUM MEMAKAN KATAK'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-o1dynitnNco/TiSvrknrzMI/AAAAAAAAAHU/RLY1TYvrDJs/s72-c/080117-kodok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-8999902750346482159</id><published>2011-07-18T06:18:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T15:02:27.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiqh'/><title type='text'>MENGHIDUPKAN MALAM RAMADHAN DENGAN SHALAT TARAWIH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-I8AR8t6ftE0/TiQ0gfPmf6I/AAAAAAAAAHM/gWpy9oJfgKA/s1600/index.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-I8AR8t6ftE0/TiQ0gfPmf6I/AAAAAAAAAHM/gWpy9oJfgKA/s200/index.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630683166867357602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I. TA’RIF (DEFINISI) SHALAT TARAWIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Tarawih adalah shalat lail (shalat malam) yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Shalat lail mempunyai banyak nama yang disebutkan oleh ulama kita dan semuanya diambil berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah atau makna dari segi bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara nama-nama yang disebutkan oleh ulama kita adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Qiyamul Lail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ يَاأَيـُّهَا الْمُزَّمـِّلُ . قُمِ اللَّـيْلَ إِلاَّ قَلِيْلاً ] (سورة  المزمل :  1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari (qiyamul lail), kecuali sedikit (dari padanya)” ( QS. Al Muzzammil : 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ عَلَـيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّـيْلِ ... ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaknya kalian melaksanakan qiyamul lail” [ HR. At Tirmidzi (3549) dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shohih At Targhib (hal. 328 no. 618) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Shalat Tahajjud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Azza wa Jalla :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ وَمِنَ اللَّـيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ … ]  ( سورة الإسراء : 79 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu …”(QS. Al Isra : 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As Suyuthi رحمه الله berkata : “At Tahajjud adalah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; qiyamul lail” &lt; Lihat At Tahajjud wa Qiyam Al Lail (hal. 89) &gt;, namun demikian jumhur ulama memandang bahwa tahajjud adalah qiyamul lail yang khusus dikerjakan sesudah tidur, dan jika tidak didahului dengan tidur maka tidak dinamakan tahajjud &lt; Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (27 : 136) &gt;. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Shalat Lail&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ...]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat lail itu (dikerjakan) dua raka’at dua raka’at …” [ HR. Bukhari (990) dan Muslim (lihat Al Minhaj 6:272 no. 1745) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Shalat Witir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat witir merupakan salah satu shalat yang dikerjakan pada malam hari dan dia merupakan rangkaian dari shalat lail, bahkan sebagai penutup dari shalat lail yang dikerjakan. Shalat ini dinamakan witir (ganjil) karena jumlah rakaatnya ganjil &lt; Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (27 : 136) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] إِنَّ اللهَ عز وجل زَادَ كُمْ صَلاَةً فَصَلُّـوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الصُّـبْحِ :الْوَتْرُ الْوَتْرُ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menambah (atas) kalian satu shalat, maka kerjakanlah shalat tersebut antara shalat Isya’ dan shalat Shubuh : (yaitu) shalat witir, shalat witir” [ HR. Ahmad dan Thabrani serta dishahihkan oleh Al Albani dalam Shohih At Targhib (hal. 316 no. 593) ].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadikanlah akhir shalatmu pada waktu malam witir” [ HR. Bukhari (no. 998) dan Muslim (lihat Al Minhaj 6 : 274 no. 1752) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Qiyam Ramadhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamakan demikian karena dia adalah qiyamul lail yang dikerjakan pada bulan Ramadhan dan baginya pahala dan fadhilah yang lebih khusus karena dilaksanakan pada bulan yang sangat mulia. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا …[&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan didasari oleh keimanan dan keikhlasan (mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala) …” [HR. Bukhari (no. 37 dan 2009) dan Muslim (lihat Al Minhaj 6 : 282 - 283 no. 1776 dan 1777) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Shalat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Imam Nawawi shalat tarawih maknanya sama dengan qiyam Ramadhan &lt; Lihat Al Minhaj (6 : 282) &gt;. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله ketika menjelaskan perkataan Imam Al Bukhari رحمه الله dalam kitab Shahihnya : Kitab Shalat At Tarawih : “Dan At Tarawih  adalah  bentuk  jama’  dari  Tarwihah ( ترويحة ) yang berarti istirahat yang sekali, berasal dari kata rahah”. Dinamakan shalat berjama’ah pada malam-malam Ramadhan Tarawih karena awal dilaksanakannya shalat tersebut para jama’ah beristirahat diantara setiap dua kali salam (sesudah empat rakaat) &lt; Fathul Bari (4 : 317) &gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ash Shon’ani berkata : “Adapun sebab penamaannya dengan shalat tarawih sepertinya diambil dari hadits yang dikeluarkan oleh Baihaqi dari hadits Aisyah radhiyallohu ‘anha, beliau menceritakan : Adalah Rasulullah shallallohu alaihi wasallam shalat empat rakaat pada waktu malam kemudian beliau beristirahat lalu beliau memanjangkan shalat hingga aku iba melihatnya”. Imam Baihaqi menyebutkan bahwa Mughirah bin Diyab bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dan dia bukan seorang yang kuat, seandainya haditsnya shohih maka ini merupakan dasar istirahatnya imam pada saat shalat tarawih“ &lt; Subulus Salam (2: 23) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin رحمه الله mengatakan : “Dinamakan At Tarawih karena dahulu para manusia (jama’ah) sangat memanjangkan shalatnya sehingga setiap selesai empat raka’at mereka beristirahat sejenak”.     &lt; Majalis Syahri Ramadhan (hal. 49) dan Asy Syarhu Al Mumti’ (4:64), lihat juga perkataan dari Syaikh Sholih Al Fauzan dalam kitab beliau Al Mulakhkhash Al Fiqhi (1 : 117) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ulama lain mengatakan bahwa : “Tarawih berasal dari kata Mirwahah (المروحة ) yaitu perbuatan yang berulang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa nama yang disebutkan oleh ulama kita terhadap shalat lail, yang mana kita bisa simpulkan bahwa kesemuanya mempunyai dasar; baik yang berasal dari Al Qur’an, As Sunnah ataupun ditinjau dari segi bahasa. Dan tidak didapatkan seorang pun dari ulama salaf dan khalaf yang mempermasalahkan penamaan/istilah shalat tersebut. Hal ini disebabkan kaidah yang dikenal diantara mereka : “Laa Musyahata fil Ishthilah” “ لاَ مُشَاحَةَ فِي الاِصْطِلاَحِ ” (tidak ada pertentangan/perdebatan dalam hal istilah). Karenanya sangatlah mengherankan apabila ada orang di akhir zaman mencoba mempermasalahkan dan menggugat istilah shalat tarawih, padahal para ulama sejak dahulu telah menamakannya demikian. Wallahul Musta’an !&lt;br /&gt;II. HUKUM DAN FADHILAH SHALAT TARAWIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat lail merupakan salah satu diantara shalat sunnah yang hukumnya sunnah muakkadah yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan, dan dia merupakan shalat sunnah yang paling afdhal. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat yang paling afdhal sesudah shalat wajib adalah shalat lail” [ HR. Muslim, lihat Al Minhaj (8 : 295 no. 2747) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu shalat lail pada bulan Ramadhan yang dikenal dengan nama shalat Tarawih, lebih dianjurkan dan dikuatkan hukumnya dari bulan-bulan lainnya karena dikerjakan pada bulan yang paling afdhal. Para ulama kita telah sepakat bahwa shalat tarawih di bulan Ramadhan adalah sesuatu yang disunnahkan dan tidak ada yang menganggapnya bid’ah kecuali dari kalangan ahlu bid’ah yaitu Syi’ah Rafidhah            &lt; Lihat : Shohih Ibnu Khuzaimah (3:335,339), Sa-il Al Jarror (1:329) oleh Imam Syaukani dan Fatawa Al Lajnah Ad Daimah (7:194) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan shalat tarawih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيْمَةٍ , فَيَقُولُ : ] مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Adalah Rasulullah shallallohu alaihi wasallam menganjurkan (untuk melaksanakan) Qiyam Ramadhan, namun beliau tidak mewajibkan atas kaum muslimin, beliau bersabda : “Barang siapa yang menegakkan qiyam Ramadhan / shalat Tarawih dengan dasar iman dan ikhlas (mengharapkan pahala), maka diampuni baginya dosa yang telah lampau”. &lt; Takhrij hadits ini telah disebutkan sebelumnya  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ الْجُهَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ : جَاءَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ مِنْ قُضَاعَةَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ! أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللهِ وَصَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَصُمْتُ الشَّهْرَ وَقُمْتُ رَمَضَانَ وَآتَيْتُ الزَّكَاةَ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم :]  مَنْ مَاتَ عَلىَ هَذَا كَانَ مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Amr bin Murrah Al Juhany radhiyallohu anhu dia berkata : “Seorang laki-laki dari Qudha’ah datang kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam lalu dia berkata : “Wahai Rasulullah ! Bagaimana pendapat anda jika saya bersaksi tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, saya shalat lima kali (sehari), saya berpuasa pada bulan Ramadhan, saya menegakkan qiyam Ramadhan, dan saya menunaikan zakat ?”, Maka Nabi shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan dia melaksanakan hal-hal tersebut (di atas), maka dia termasuk golongan shiddiqin dan para syuhada”. [ HR. Ibnu Khuzaimah (3 : 340 no. 2212) dan lafazh hadits ini baginya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (lihat Al Ihsan 5 : 184) serta sanadnya dinilai shohih oleh Al Albani dalam Shohih At Targhib (1 : 491 no. 989) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. DISYARIATKANNYA SHALAT TARAWIH SECARA BERJAMAAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berikhtilaf tentang shalat Tarawih, apakah lebih afdhal melaksanakannya di rumah sendirian atau berjamaah di masjid ? Jumhur ulama dari kalangan salaf dan khalaf memilih shalat tarawih secara berjamaah &lt; Lihat Al Majmu’ dan Fathul Bari (4:320) &gt; dan sebagian diantara para ulama memilih untuk shalat sendirian terutama jika orang tersebut memiliki hafalan Al Quran yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama yang mengatakan lebih afdhal dikerjakan di rumah berdalilkan dengan beberapa dalil, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ : ] أَمَّا بَعْدُ , فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا [ فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Aisyah radhiyallohu anha bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pernah keluar pada tengah malam lalu shalat di mesjid dan beberapa laki-laki shalat bersama beliau, maka keesokan paginya manusia membicarakan hal itu lalu pada malam berikutnya manusia berkumpul lebih banyak lalu Nabi shallallohu alaihi wasallam shalat dan mereka shalat bersama bersama beliau lalu keesokan paginya mereka kembali membicarakan peristiwa tersebut, lalu pada malam ketiga jumlah jama'ah mesjid makin bertambah lalu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam keluar dari rumahnya melaksanakan shalat dan mereka shalat bersama  beliau. Pada malam keempat mesjid sudah tidak mampu menampung jama'ah, (namun Nabi shallallohu alaihi wasallam tidak hadir) hingga beliau keluar untuk melaksanakan shalat Shubuh, setelah beliau selesai menunaikan shalat Shubuh, beliau menghadap ke jama'ah lalu bersyahadat kemudian bersabda : "Amma ba'du, sesungguhnya saya mengetahui apa yang kalian lakukan (semalam) akan tetapi aku (tidak hadir ke mesjid) karena khawatir jika nantinya diwajibkan atas kalian lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya" Maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam wafat dan perkaranya tetap demikian [ HR. Bukhari (2012) dan Muslim dalam Shohihnya; Kitab Shalat Al Musafirin; Bab At Targhib fi Qiyam Ramadhan (lihat : Al Minhaj 6:284 no.1781) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan dari hadits tersebut : Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada akhirnya shalat di rumahnya setelah beliau sebelumnya melaksanakannya di mesjid .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ حُجْرَةً مِنْ حَصِيرٍ فِي رَمَضَانَ فَصَلَّى فِيهَا لَيَالِيَ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَلَمَّا عَلِمَ بِهِمْ جَعَلَ يَقْعُدُ فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ : ] قَدْ عَرَفْتُ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam membuat bilik yang terbuat dari tembikar di bulan Ramadhan lalu beliau shalat padanya beberapa malam maka ada beberapa orang dari kalangan sahabat yang shalat  bersama beliau, ketika beliau mengetahui perbuatan mereka, beliau tinggal di rumahnya dan tidak keluar untuk shalat bersama mereka lalu beliau bersabda : "Aku telah mengetahui dan melihat apa yang kalian lakukan, maka shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian, karena shalat yang afdhal adalah shalatnya seseorang di rumahnya kecuali jika shalat yang wajib" [ HR. Bukhari (731) dan Muslim dalam Shohihnya; Kitab Shalat Al Musafirin; Bab Istihbab Shalat An Nafilah Fii Baitihi wa Jawaazuha fil Masjid (lihat : Al Minhaj 6: 310-311 no. 1822) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan dari hadits tersebut : Ketika para sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam meminta kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam untuk memimpin mereka melaksanakan shalat tarawih di mesjid , beliau menganjurkan kepada mereka agar shalat di rumah karena shalat sunnah lebih afdhal dikerjakan di rumah. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Diantara dalil yang mereka sebutkan adalah perbuatan sebagian ulama Salaf yang lebih memilih shalat tarawih sendirian di rumah bahkan Umar radhiyallohu anhu sendiri sebagai orang yang memerintahkan shalat tarawih secara berjama’ah namun tidak ada keterangan tegas bahwa beliau juga ikut bersama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi pendalilan dari atsar tersebut : Seandainya shalat tarawih secara berjama’ah lebih afdhal tidak mungkin Umar  radhiyallohu anhu dan beberapa sahabat lainnya meninggalkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil yang diperpegangi Jumhur Ulama dalam masalah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Jumhur Ulama yang mengatakan lebih afdhal dikerjakan di mesjid secara berjamaah telah berdalilkan dengan dalil-dalil khusus yang menyebutkan tentang keutamaan shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah. Dalil-dalil tersebut berasal dari hadits-hadits  Nabi shallallohu alaihi wasallam yang terbagi atas tiga, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Taqrir (persetujuan) dari Nabi shallallohu alaihi wasallam sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Tsa’labah bin Abi Malik Al Qurazhi radhiyallohu anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فيِ رَمَضَانَ ، فَرَأَى نَاساً فيِ نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ يُصَلُّوْنَ ، فَقَالَ : مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ ؟ قَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ هَؤُلاَءِ نَاسٌ لَيْسَ مَعَهُمْ قُرْآنٌ وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ يَقْرَأُ ، وَهُمْ مَعَهُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَتِهِ ، فَقَالَ : ] قَدْ أَحْسَنُوْا  أَوْ قَدْ أَصَابُوْا [ وَلَمْ يَكْرَهْ ذَلِكَ لَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada suatu malam keluar (dari rumahnya) di bulan Ramadhan lalu beliau melihat orang-orang di sudut masjid sedang melaksanakan shalat, maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bertanya : “Apa yang sedang dikerjakan orang-orang tersebut ?”, seseorang berkata : “Wahai Rasulullah mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedang Ubay bin Ka’ab membaca (Al Qur’an dalam shalat) karenanya mereka shalat di belakang Ubay secara berjamaah. Lalu Rasulullah r bersabda : “Mereka telah (melakukan) yang baik atau benar”, dan beliau tidak membenci perbuatan  mereka tersebut”. [ HR. Al Baihaqi dalam As Sunan (2 : 495) dan beliau berkata hadits ini mursal hasan. Asy Syaikh Al Albani رحمه الله mengatakan : “Hadits ini telah diriwayatkan secara maushul (bersambung) dari jalan yang lain yakni dari Abu Hurairah dengan sanad yang tidak mengapa (boleh) untuk dijadikan mutaba’at dan syawahid, yaitu  yang dikeluarkan oleh Ibnu An Nashr dan Abu Dawud serta Baihaqi”.  ( Shalat At Tarawih hal .9 ) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fi’il (perbuatan) Rasulullah shallallohu alaihi wasallam sendiri, sebagaimana yang ditunjukkan oleh banyak hadits diantaranya hadits Nu’man bin Basyir radhiyallohu anhu, beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَ عِشْرِيْنَ فيِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلىَ ثُلُثِ اللَّيْلِ اْلأَوَّلِ ، ثُمَّ قُمْنَا مَعَهُ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَ عِشْرِيْنَ إِلىَ نِصْفِ اللَّيْلِ ، ثُمَّ قَامَ بِنَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَ عِشْرِيْنَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنْ لاَ نُدْرِكَ الْفَلاَحَ ، قَالَ وَ كُنَّا نَدْعُو السَّحُوْرَ الْفَلاَحَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami pernah shalat berjamaah bersama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada malam ke-23 di bulan Ramadhan hingga sepertiga malam, kemudian pada malam ke-25 hingga seperdua malam, kemudian beliau shalat memimpin kami pada malam ke-27 hingga kami menyangka tidak akan mendapat Al Falah, dan dulu kami menamakan sahur sebagai Al Falah”. [ HR. Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Nashr (hal. 216), Nasai (1605), Ahmad (17935) dan Imam Hakim serta dishohihkan sanadnya oleh Al Albani dalam Shalat At Tarawih (hal .10) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Imam Hakim رحمه الله tentang hadits ini : “Dan hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari namun tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Dan hadits ini merupakan dalil yang gamblang bahwa shalat Tarawih di masjid-masjid kaum muslimin merupakan sunnah, dan adalah Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu menganjurkan Umar radhiyallohu anhu untuk melaksanakannya hingga akhirnya beliau melaksanakannya”. [ Al Mustadrak (1 : 607) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Qaul (perkataan) dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam yang menunjukkan keutamaan dilakukan secara berjamaah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abu Dzar radhiyallohu anhu, dimana beliau berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صُمْنَا فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنَ الشَّهْرِ ، فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ، ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فيِ السَّادِسَةِ وَ قَامَ بِنَا فيِ الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوْ نَفَّـلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ ، فَقَالَ : ] إِنَّـهُ مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتِّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَـهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ …[&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami telah berpuasa (pada bulan Ramadhan) dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam belum pernah shalat bersama kami, hingga tersisa tujuh malam dari bulan Ramadhan, lalu beliau shalat bersama kami hingga lewat sepertiga malam, kemudian beliau tidak shalat bersama kami pada malam berikutnya dan beliau shalat bersama kami pada saat lima malam terakhir bulan Ramadhan hingga lewat pertengahan malam, lalu kami berkata : “Wahai Rasulullah seandainya engkau menambah (shalatmu) kepada kami dari sisa seperdua malam ini”, maka beliau shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya barang siapa yang shalat bersama imam hingga selesai maka dicatat baginya (seperti) dia shalat (tarawih) sepanjang malam”. [ HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud (1375), At Tirmidzi (806), An Nasaai (1604), Ibnu Majah (1327), At Thahawi dalam Syarhu Ma’ani Al Atsar (1: 349 no. 2056), Ibnu Nashr (hal. 216) dan Al Baihaqi (2 : 494). Berkata Al Albani رحمه الله dalam Shalat At Tarawih (hal.15): “Sanad mereka (seluruhnya) shahih” ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga dalil tadi menunjukkan dengan jelas kepada kita bahwa shalat Tarawih afdhal dilakukan secara berjamaah di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Jumhur Ulama terhadap dalil-dalil ulama yang mengutamakan shalat tarawih dilakukan sendiri di rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ketiga dalil para ulama yang mengutamakan dikerjakan sendiri di rumah, telah dijawab oleh jumhur ulama sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam hadits Aisyah di atas disebutkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam shalat tarawih bersama kaum muslimin di mesjid, hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dianjurkan. Adapun Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada akhirnya meninggalkannya, hal itu disebabkan kekhawatiran beliau jika akan diwajibkan kepada ummatnya yang akan memberatkan mereka, sebagaimana disebutkan dalam bagian akhir hadits tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] وَلَكِنِّيْ خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلاَةُ اللَّيْلِ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tetapi (yang menyebabkan saya tidak mengerjakan shalat Tarawih berjamaah secara terus- menerus) karena saya khawatir akan diwajibkan atas kalian shalat lail (secara berjamaah) lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ‘illah (sebab) ini telah hilang dengan wafatnya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dimana telah sempurna Ad Din ini dan beliau telah meninggalkannya dalam keadaan hukum shalat Tarawih “Sunnat” dan tidak wajib lalu tidak mungkin datang hukum baru sesudah wafatnya beliau shallallohu alaihi wasallam. Karenanya Umar bin Al Khaththab radhiyallohu anhu kembali menghidupkan sunnah ini pada masa kekhalifaan beliau yang terus diwarisi oleh ummat Islam sampai pada hari ini. Al Hafizh Al Iraqy رحمه الله berkata : “… Qiyam Ramadhan afdhal dilaksakan di masjid secara berjamaah, karena Nabi shallallohu alaihi wasallam melakukan hal tersebut. Dan beliau pernah meninggalkan berjamaah tersebut hanya disebabkan suatu hal (yang beliau khawatirkan) dan setelah wafatnya beliau shallallohu alaihi wasallam (kita) sudah aman dari hal tersebut, yaitu beliau shallallohu alaihi wasallam khawatir akan diwajibkan atas kita. Dan hal ini (shalat tarawih secara berjama'ah lebih utama) adalah pendapat Syafi’i dan jumhur pengikutnya juga pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan sebagian Malikiyah… dan hal ini telah diperintahkan oleh Umar bin Khaththab radhiyallohu anhu dan demikianlah diamalkan seterusnya oleh para sahabat sehingga merupakan syiar-syiar Islam yang nampak. &lt; Tharhu At Tatsrib (3 : 94)&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu dapat dijawab dengan dua jawaban berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Sebagaimana hadits Aisyah di atas sebab Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak memenuhi panggilan para sahabat untuk shalat tarawih secara berjama'ah adalah karena kekhawatiran beliau shalat tarawih secara berjama'ah akan diwajibkan atas kaum muslimin dan alasan ini disebutkan dalam salah satu jalur periwayatan hadits Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اتَّخَذَ حُجْرَةً فِي الْمَسْجِدِ مِنْ حَصِيرٍ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيهَا لَيَالِيَ حَتَّى اجْتَمَعَ إِلَيْهِ نَاسٌ ثُمَّ فَقَدُوا صَوْتَهُ لَيْلَةً فَظَنُّوا أَنَّهُ قَدْ نَامَ فَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَتَنَحْنَحُ لِيَخْرُجَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ مَا زَالَ بِكُمْ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ صَنِيعِكُمْ حَتَّى خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ كُتِبَ عَلَيْكُمْ مَا قُمْتُمْ بِهِ فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu bahwasanya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam membuat bilik di mesjid yang terbuat dari tikar , lalu beliau shalat padanya beberapa malam hingga berkumpul  beberapa orang dari kalangan sahabat (untuk shalat  bersama beliau), kemudia pada suatu malam para sahabat tidak mendengarkan lagi suara bacaan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam maka mereka menyangka jika beliau ketiduran lalu sebagian dari mereka berdehem-dehem agar beliau keluar menemui mereka lalu beliau bersabda :  "Aku senantiasa melihat apa yang kalian lakukan hingga aku khawatir diwajibkan atas kalian dan seandainya diwajibkan atas kalian tentu kalian tidak sanggup melaksanakannya, maka shalatlah wahai manusia di rumah-rumah kalian! karena shalat yang afdhal bagi seseorang adalah ketika dia shalat di rumahnya kecuali jika shalat yang wajib" [ HR. Bukhari (7290) dan Muslim dalam Shohihnya; Kitab Shalat Al Musafirin; Bab Istihbab Shalat An Nafilah Fii Baitihi wa Jawaazuha fil Masjid (lihat : Al Minhaj 6: 310-311 no. 1822) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini menunjukkan bahwa beliau menyuruh para sahabat untuk shalat di rumahnya masing-masing karena kekhawatiran beliau shalat tarawih akan diwajibkan atas mereka secara berjama’ah maka pada saat itu shalat tarawih di rumah lebih afdhal bagi mereka daripada mengerjakannya di mesjid. Ketika Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam telah wafat jumlah shalat-shalat yang diwajibkan telah ditentukan sehingga tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan maka kembalilah pada hukum yang asal yaitu shalat tarawih dikerjakan di mesjid secara berjama’ah; jawaban seperti ini dikemukakan oleh Imam Baihaqi rahimahullah &lt; Lihat : Silsilah Al Fatawa Asy Syar’iyyah (hal 151) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Hadits Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu berlaku bagi shalat-shalat yang tidak ada nash (dalil tegas) dianjurkannya dilakukan secara berjama’ah di mesjid adapun jika terdapat dalil yang mengkhususkan maka itu memperkecualian keumuman hadits tersebut. Mengenai shalat Tarawih terdapat banyak dalil yang mengkhususkan keutamaannya dilakukan secara berjamaah di masjid. Dan kaidah yang dikenal oleh para ulama : “Jika terdapat pertentangan  hukum antara dalil yang umum dan khusus maka dalil  yang khusus didahulukan dari pada dalil yang umum”. &lt; Lihat : Al Wadhih fi Ushul Al Fiqh (hal 200) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits Zaid bin Tsabit radhiyallohu anhu di atas beliau berkata : Hadits ini sifatnya umum untuk seluruh shalat sunnat rawatib dan shalat sunnat mutlak terkecuali shalat sunnat yang termasuk syiar-syiar Islam seperti : shalat ied, gerhana, istisqa (minta hujan) dan demikian pula shalat tarawih; menurut pendapat yang rajih shalat tarawih disyariatkan untuk dilaksanakan di mesjid, dan shalat istisqa serta shalat ied disyariatkan di padang yang luas jika mesjidnya sempit. Wallohu a’lam &lt; Al Minhaj (5:311) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adapun alasan ketiga yang mereka kemukakan bahwa Umar radhiyallohu anhu sendiri tidak mengerjakan secara berjama’ah yang menunjukkan bahwa beliau memandang lebih afdhal dilakukan bersendirian di rumah, maka hal ini dapat dijawab dengan beberapa jawaban berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Yang benar bahwa Umar radhiyallohu anhu juga melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah walaupun hal itu tidak dilakukannya secara terus menerus &lt; Lihat : Fathul Bari 4 : 321 &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Boleh jadi yang menghalangi beliau untuk ikut melaksanakan tarawih secara berjamaah adalah kesibukan beliau mengurus kaum muslimin. Jawaban seperti ini dikemukakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah &lt; Lihat : Silsilah Al Fatawa Asy Syar’iyyah (hal 151) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Beberapa atsar menunjukkan bahwa Umar radhiyallohu anhu menganggap lebih afdhal shalat tarawih di akhir waktu tapi hal itu tidak berarti bahwa beliau mengutamakan shalat tarawih bersendirian dibandingkan secara berjamaah &lt; lihat penjelasan Al Hafizh Ibnu Hajar di Fathul Bari &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menguatkan afdhalnya shalat Tarawih secara berjamaah apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad رحمه الله sebagaimana yang dinukil oleh murid beliau Imam Abu Dawud رحمه الله : “Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya : “Yang mana lebih engkau sukai seseorang shalat Tarawih di bulan Ramadhan berjamaah atau sendirian ?, beliau menjawab : “Shalat berjamaah”. Dan beliau (Imam Ahmad) pernah berkata : “Saya menyukai seseorang shalat bersama imam dan ikut witir bersamanya karena Nabi shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya seseorang jika shalat bersama imam hingga selesai maka Allah mencatat baginya (pahala) shalat sepanjang malam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Imam Abu Dawud رحمه الله berkata : “Imam Ahmad pernah ditanya (lagi) sedang saya mendengar : “Apakah (lebih afdhal) mengakhirkan shalat Tarawih hingga akhir malam ?”, beliau menjawab : “Tidak, kebiasaan kaum muslimin lebih saya sukai”. &lt; Lihat Al Mughni (2 : 607) dan Shalat At Tarawih (hal.15) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Asy Syaikh Al Albani رحمه الله menjelaskan perkataan Imam Ahmad yang terakhir ini : “Yakni beliau lebih menyukai shalat Tarawih secara berjamaah di awal waktu dari pada shalat sendirian, walaupun shalat yang dilaksanakan di akhir malam mempunyai keutamaan khusus, namun berjamaah lebih afdhal karena Rasulullah shallallohu alaihi wasallam melaksanakannya dan menghidupkannya bersama kaum muslimin di masjid. Oleh karena itu hal ini (shalat Tarawih berjamaah) terus dilakukan oleh kaum muslimin sejak zaman Umar radhiyallohu anhu hingga saat ini”. &lt; Shalat At Tarawih (hal .15) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hukum ini berlaku pula bagi kalangan wanita sebagaimana yang disebutkan dalam potongan hadits Abu Dzar radhiyallohu anhu yang tadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] … وَدَعَى أَهْلَهُ وَ نِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا … [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“… Dan beliau mengajak keluarga dan istri-istrinya kemudian beliau shalat (memimpin kami) …”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan boleh juga bagi wanita untuk mengadakan jamaah tersendiri berpisah dari laki-laki sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallohu anhu dimana beliau menjadikan Ubay bin Ka’ab radhiyallohu anhu sebagai imam kaum laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hatsmah radhiyallohu anhu sebagai imam kaum wanita &lt; Lihat Mukhtashar Qiyam Al Lail (hal. 226) &gt; dan hal yang sama dilakukan pula oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallohu anhu; Arfajah Ats Tsaqofi رحمه الله  bertutur : “Adalah Ali bin Abi Thalib menyuruh manusia untuk melaksanakan qiyam Ramadhan dan beliau menunjuk untuk kaum laki-laki seorang imam dan untuk kaum wanita seorang imam, dan aku adalah imam bagi wanita”. [  Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam As Sunan (2 : 494) dan Ibnu Nashr dalam Qiyamul Lail(lihat Al Mukhtashar hal. 226) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seseorang yang memilih untuk melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah perlu memperhatikan beberapa hal yang disyaratkan dan diingatkan para ulama, diantaranya dia memiliki hafalan Al Quran dan dia tidak khawatir akan malas mengerjakannya pada saat dia bersendiri serta jangan sampai mesjid menjadi kosong dari jama’ah dan tidak diadakan sama sekali shalat tarawih. Kapan salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi maka berjamaah lebih afdhal tanpa ada perbedaan pendapat dari kalangan ulama &lt; Lihat At Tamhid ( 8 : 117, 120), Al Mughni (2:605) dan Al Majmu’ &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. WAKTU SHALAT TARAWIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu shalat lail/ Tarawih adalah sesudah shalat isya hingga terbit fajar, berdasarkan sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menambah untuk kalian satu shalat yaitu witir, maka shalat witirlah antara (sesudah) shalat isya hingga (masuknya) shalat shubuh”. [HR. Ahmad (26687) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam memberikan kebebasan kepada kita untuk shalat witir baik di awal, pertengahan atau di akhir malam. Bahkan beliau juga kadang melakukannya di awal malam, sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallohu ‘anha :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنْ كُلِّ اللَّيْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ فَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di setiap malam Rasulullah shallallohu alaihi wasallam melaksanakan shalat witir baik pada awal malam, pertengahan atau akhir malam hingga masuk waktu sahur” [HR. Muslim ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi ketika menerangkan makna hadits ini, beliau menyatakan : “Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat witir di seluruh bagian malam jika telah masuk waktunya. Para ulama telah berbeda pendapat tentang awal waktu (shlat lail/witir) ; pendapat yang shohih dari madzhab kami dan  pendapat yang masyhur dari Syafi’I dan pengikutnya adalah shalat lail/witir masuk waktunya sejak selesai mengerjakan shalat isya hingga terbit fajar, pendapat yang kedua : waktunya telah masuk bersamaan dengan masuknya waktu shalat isya, pendapat yang lain mengatakan tidak sah mengerjakan shalat witir satu raka’at kecuali jika telah mengerjakan shalat sunnah ba’diyah isya…” &lt; Al Minhaj (6 : 267) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan shalat pada akhir malam inilah yang paling sering dikerjakan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan waktu inilah yang lebih afdhal bagi yang mampu melaksanakannya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang khawatir tidak mampu bangun pada akhir malam maka hendaklah dia melaksanakan witir pada awal malam, dan barang siapa yang merasa (sanggup) untuk bangun pada akhir malam hendaklah dia berwitir pada akhir malam, karena sesungguhnya shalat pada akhir malam itu disaksikan (oleh malaikat) dan lebih afdhal”. [ HR. Muslim (lihat Al Minhaj 6 : 277 no. 1763) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika seseorang diperhadapkan dengan dua alternatif antara shalat di awal malam secara berjamaah atau shalat di akhir malam secara sendiri maka shalat secara berjamaah lebih afdhal sebagaimana telah kami jelaskan di pembahasan yang sebelumnya. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. JUMLAH RAKA’AT SHALAT TARAWIH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terjadi ikhtilaf dikalangan ulama tentang jumlah raka’at shalat tarawih. Diantara jumlah yang disebutkan dan pernah dikerjakan adalah 23 raka’at, 39 raka’at, 41 raka’at, 49 raka’at dan seterusnya &lt; Lihat : Bidayatul Mujtahid (1 : 380), At Tamhid (8 : 113), Al Mughni (2 : 604) dan Mukhtashar Qiyam Al Lail (hal 220-222) &gt;. Adapun jumlah yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam adalah 11 raka’at sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Aisyah  رضي الله عنها  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adalah Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tidak pernah menambah di bulan Ramadhan dan bulan lainnya dari 11 raka’at. Beliau shalat 4 raka’at, jangan tanya tentang baiknya dan panjangnya, beliau shalat 4 raka’at, jangan tanya tentang baiknya dan panjangnya, kemudian beliau shalat (witir) 3 raka’at” [ HR. Bukhari (1147) dan Muslim (lihat : Al Minhaj 6 : 260 no. 1720) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kabar dari ‘Aisyah رضي الله عنها  ini bukanlah merupakan batasan maksimal rakaat shalat tarawih yang tidak boleh ditambah, karena kabar tersebut sekedar menceritakan tentang jumlah raka’at yang selalu dikerjakan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam dan adalah beliau shallallohu alaihi wasallam jika mengerjakan suatu shalat selalu mengerjakannya secara dawam (kontinu) sebagaimana yang disebutkan oleh ‘Aisyah رضي الله عنها :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً دَاوَمَ عَلَيْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan adalah Rasulullah shallallohu alaihi wasallam jika mengerjakan suatu shalat dia selalu mengerjakannya secara kontinu”. [ HR. Bukhari (1970) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perkataan ‘Aisyah رضي الله عنها : melaksanakannya secara kontinu mencakup juga jumlah raka’at dan sifatnya. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallohu alaihi wasallam sendiri tidak pernah membuat batasan tertentu tentang jumlah raka’at shalat Tarawih, karenanya tidak kita dapati dari kalangan ulama salaf yang membatasi jumlah raka’at. Imam Syafi’i رحمه الله berkata : “Saya mendapati penduduk Madinah melaksanakan sebanyak 39 raka’at, dan di Makkah sebanyak 23 raka’at dan tidak ada kesempitan (pembatasan) dalam hal tersebut (yaitu jumlah raka’at shalat tarawih)”. &lt; Lihat : Fathul Bari (4 : 322), Tharhu At Tatsrib (3 : 98) dan Mukhtashar Qiyam Al Lail (hal.222) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menuturkan : “Sesungguhnya Nabi shallallohu alaihi wasallam tidak menetapkan jumlah raka’at yang tertentu pada qiyam Ramadhan, adalah beliau shallallohu alaihi wasallam tidak menambah di bulan Ramadhan dan selainnya lebih dari 13 rakaat akan tetapi beliau memanjangkan rakaat-rakaatnya. Maka ketika Umar radhiyallohu anhu mengumpulkan kaum muslimin (untuk shalat Tarawih berjamaah) yang diimami oleh Ubay bin Ka’ab, beliau shalat sebanyak 20 rakaat kemudian witir sebanyak 3 rakaat. Beliau meringankan bacaan sesuai jumlah rakaat yang ditambah karena hal itu lebih ringan bagi para makmum dibandingkan dengan memanjangkan bacaan di satu rakaat. Kemudian sebagian salaf mengerjakan tarawih sebanyak 40 rakaat dan witir dengan 3 rakaat, yang lainnya mengerjakan 36 rakaat dan witir sebanyak 3 rakaat. Kesemuanya ini benar, maka kapan seseorang melakukan qiyam Ramadhan dengan cara seperti itu maka itu baik. Dan yang afdhal jumlah rakaat disesuaikan dengan keadaan jamaah. Jika mereka sanggup memanjangkan berdiri maka shalat dengan 10 rakaat dan 3 rakaat witir sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam dan selainnya, dan ini yang afdhal. Namun jika mereka tidak sanggup melakukannya, maka shalat dengan 20 rakaat itu yang lebih afdhal sebagaimana yang dilakukan kebanyakan kaum muslimin”. Kemudian beliau menutup penjelasan beliau dengan perkataannya : “Dan barang siapa yang menyangka bahwa ada jumlah rakaat yang ditetapkan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam dalam qiyam Ramadhan yang tidak boleh ditambah dan dikurangi maka sungguh dia telah salah”. &lt; Majmu’ Fatawa (22 : 272) atau (11 : 520 – cet. Ubaikan) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Hajar رحمه الله setelah beliau menyebutkan perbedaan-perbedaan tentang jumlah raka’at yang pernah dikerjakan oleh kaum muslimin : “Dan untuk menggabungkan beberapa riwayat yang berbeda dalam jumlah raka’at, bisa (dikatakan) bahwa jumlah raka’at tersebut tergantung keadaan, yaitu tergantung keadaan panjang dan pendeknya bacaan, dimana jika panjang bacaannya maka raka’atnya sedikit dan sebaliknya”. &lt; Al Fath (4 : 321) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy Syaukani رحمه الله juga menegaskan : “Walhasil adapun yang ditunjukkan hadits-hadits bab (tentang shalat Tarawih) dan yang serupa dengannya adalah disyariatkannya Qiyam Ramadhan, dan boleh dikerjakan secara berjamaah atau sendiri-sendiri. Adapun membatasi shalat Tarawih dengan jumlah raka’at yang tertentu dan mengharuskannya dengan bacaan yang tertentu maka hal itu tidak ada disebutkan dalam sunnah”. &lt; Nailul Authar (3 : 66) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dalil yang menunjukkan tidak adanya batasan jumlah raka’at adalah sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّـبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat lail itu dua raka’at, dua raka’at, jika salah seorang diantara kalian khawatir (masuk) waktu shubuh, maka shalatlah satu raka’at untuk mengganjilkan jumlah raka’at yang telah dikerjakan”. [  HR. Bukhari dan Muslim ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadits ini Rasulullah shallallohu alaihi wasallam mengizinkan untuk mengerjakan shalat lail dua raka’at – dua raka’at lalu witir diperintahkan untuk dikerjakan ketika khawatir akan masuk waktu shubuh, jika seandainya ada batasan jumlah raka’at yang tidak boleh dilewati tentu beliau shallallohu alaihi wasallam mengatakan : “Jika telah cukup 10 raka’at maka witirlah satu raka’at…”. Wallahu A’lam. &lt; Baca juga penjelasan Asy Syaikh Bin Baz dalam Al Jawab Ash Shohih (hal 3-8) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtilaf yang disebutkan di atas adalah jumlah raka’at yang lebih dari 11 raka’at. Adapun kurang dari itu maka semuanya sepakat akan bolehnya, berdasarkan beberapa hadits, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْتِرْ بِخَمْسٍ ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْتِرْ بِثَلاَثٍ ، وَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْتِرْ بِوَاحِدَةٍ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Witir adalah haq. Maka barangsiapa yang ingin maka laksanakan  lima raka’at, dan barangsiapa yang ingin maka laksanakan 3 raka’at dan barangsiapa yang ingin maka laksanakan satu raka’at”. [HR. Thahawi (1 : 291 no. 1733), Hakim (1 : 444 no. 1128) lafazh ini baginya dan beliau menshahihkannya serta disetujui oleh Al Albani sebagaimana dalam Shalat At Tarawih (hal. 84) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. BACAAN PADA QIYAM RAMADHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya jumlah raka’at, maka tidak ada bacaan yang tertentu dan kadar yang tertentu dalam shalat Tarawih. Bahkan adalah bacaan Nabi shallallohu alaihi wasallam berbeda-beda; kadang panjang dan kadang pertengahan. Kadang beliau shallallohu alaihi wasallam membaca pada setiap raka’at sekadar membaca surah Al Muzzammil yaitu 20 ayat, dan kadang sekitar 50 ayat, dan beliau shallallohu alaihi wasallam pernah bersabda : “Barangsiapa yang shalat malam membaca 100 ayat maka dia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai”. Dan beliau shallallohu alaihi wasallam mengatakan juga : “Barangsiapa yang shalat malam membaca 200 ayat maka dia dicatat termasuk orang-orang yang ta’at dan ikhlas” [ HR. Hakim (1 : 452 no. 1161), beliau berkata hadits shohih sesuai dengan syarat Muslim, dan disetujui oleh Adz Dzahabi ]. Dan beliau shallallohu alaihi wasallam pernah membaca dalam satu malam dalam keadaan sakit tujuh  surah yang panjang yaitu : Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa, Al Maidah, An An’am, Al A’raf dan At Taubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pernah ketika Hudzaifah bin Yaman radhiyallohu anhu shalat di belakang Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam membaca di satu raka’at : Al Baqarah kemudian An Nisaa kemudian Ali Imran, dan adalah beliau shallallohu alaihi wasallam membacanya dengan perlahan-lahan dan teratur. Dan Ubay bin Ka’ab radhiyallohu anhu ketika menjadi imam shalat Tarawih pada zaman Umar radhiyallohu anhu membaca ratusan ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar radhiyallohu anhu pernah memanggil para pembaca/ penghafal Al Qur’an di bulan Ramadhan, lalu beliau memerintahkan kepada yang paling cepat bacaannya untuk membaca 30 ayat, dan kepada yang bacaannya sedang untuk membaca 25 ayat dan yang bacaannya lambat untuk membaca 20 ayat  &lt; Lihat atsar-atsar ini dalam Qiyam Ramadhan (hal 23-25) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu barangsiapa yang shalat sendirian maka hendaknya dia memanjangkan sekehendaknya, begitu pula ketika yang ikut dengannya orang yang setuju dan cocok dengannya. Dan semakin panjang bacaannya maka itu semakin afdhal, sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوتِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat yang paling afdhal adalah yang panjang/lama berdirinya”. [  HR. Muslim dari Jabir radhiyallohu anhu  (lihat : Al Minhaj 6 : 278 no. 1765) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang shalat menjadi imam maka hendaknya memanjangkan bacaan dengan tidak memberatkan orang yang di belakangnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمُ الْمَرِيضَ وَالضَّعِيْفَ وَذَا الْحَاجَةِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka barang siapa diantara kalian shalat mengimami manusia maka hendaknya meringankan shalatnya, karena diantara mereka ada orang yang sakit, yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan”. [  HR. Bukhari (90) dan Muslim (lihat : Al Minhaj 4 : 406 no. 1044) dari sahabat Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallohu anhu, dalam riwayat Muslim ada tambahan: "orang tua". ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun maksud meringankan tidaklah disesuaikan dan diserahkan kepada keinginan atau hawa nafsu para ma’mum, namun hendaknya dikembalikan kepada sunnah Nabi shallallohu alaihi wasallam  &lt; Untuk masalah ini baca kitab : Ash Shalat oleh Ibnul Qoyyim (hal. 147 – 170) &gt;. Wallahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengkhatamkan Al Quran di bulan Ramadhan pada saat shalat Tarawih, maka hal ini telah dianjurkan oleh sebagian ulama. Al Imam An Nawawi رحمه الله menjelaskan : “Adapun bacaan pada shalat Tarawih maka yang dipilih oleh mayoritas ulama dan diamalkan oleh kaum muslimin adalah mengkhatamkan Al Quran pada saat Tarawih dalam waktu sebulan; maka imam membaca satu juz setiap malamnya dan dianjurkan membaca Al Quran secara tartil dan memperjelas huruf-hurufnya serta hendaknya para imam berhati-hati jangan sampai memperpanjang bacaan lebih dari satu juz yang akan memberatkan bagi ma’mum”. &lt; Al Adzkar (hal. 238) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh bin Baz رحمه الله ketika ditanya tentang mengkhatamkan Al Quran pada saat shalat Tarawih selama sebulan, beliau menjawab : “Jika imam mengkhatamkan Al Quran dan memperdengarkannya kepada ma’mum secara keseluruhan tanpa memberatkan mereka (para ma’mum) maka ini perbuatan yang baik”. &lt; Al Jawab Ash Shohih (hal. 12) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengatakan ketika menjelaskan beberapa faidah datangnya Jibril kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam di bulan Ramadhan untuk mudarasah Al Quran : “Dan mungkin dipahami dari hal itu bahwa membaca Al Quran secara sempurna dari imam kepada para jama’ah bagian dari mudarasah tersebut, karena hal ini memberikan faidah kepada mereka seluruh isi Al Quran. Karenanya Imam Ahmad رحمه الله suka bagi siapa yang menjadi imam untuk mengkhatamkan Al Quran bersama ma’mum. Dan ini termasuk amal Salaf yang suka mendengarkan Al Quran secara keseluruhan (selama bulan Ramadhan)”. &lt; Al Jawab Ash Shohih (hal. 14) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika jama’ah menginginkan mengkhatamkan Al Quran pada Tarawih selama bulan Ramadhan namun tidak ada yang menghafal Al Quran maka dibolehkan membaca lewat mushaf demi merealisasikan maksud yang baik tersebut”. &lt; Lihat : Fatawa Islamiyah (1 : 341) dan Fatawa Al Lajnah Ad Daimah (7 : 203 – 206).&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. BEBERAPA KAIFIYAT PELAKSANAAN SHALAT TARAWIH DAN WITIR &lt; Lihat : Al Muhalla (3: 42-49) dan Shalat At Tarawih (hal 86-98) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 13 raka’at, dimulai dengan dua raka’at yang ringan kemudian dua raka’at yang panjang sekali, kemudian dua raka’at lebih ringkas dari sebelumnya dan demikian seterusnya hingga jumlah 12 raka’at, lalu witir dengan satu raka’at.&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 13 raka’at, dimulai dengan delapan raka’at dan bersalam setiap dua raka’at, kemudian witir dengan lima raka’at dan tidak duduk dan tidak pula salam kecuali pada raka’at kelima.&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 13 raka’at, bersalam setiap dua raka’at kemudian witir dengan satu raka’at.&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 11 raka’at, mengerjakan empat raka’at lalu salam, kemudian empat raka’at lalu salam, kemudian witir dengan tiga raka’at. &lt;Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallohu ‘anha yang terkenal dimana disebutkan bahwa Nabi shallallohu alaihi wasallam shalat empat rakaat kemudian empat rakaat dst. Para ulama kita telah berbeda pendapat tentang hal ini; sebagian ulama kita memandang perbuatan tersebut makruh bahkan haram dan mereka mengatakan bahwa maksud dari empat rakaat adalah dua dua rakaat yang diantarai dengan salam berdasarkan hadits-hadits banyak yang menunjukkan bahwa shalat lail itu dua dua rakaat , pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Ibn Baz (lihat Fatawa Islamiyah 2:156 dan Al Mulakhkhash Al Fiqhi 1:117). Ulama yang lain mengambil zhohir hadits tersebut dan mengatakan bahwa ini menunjukkan bahwa bolehnya shalat lail empat rakaat sekaligus dengan satu kali salam namun yang lebih afdhal dilakukan dua dua rakaat (lihat : Al Minhaj 6:263 dan Shalat At Tarawih hal 17) &gt;&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 11 raka’at, mengerjakan dua-dua raka’at hingga delapan raka’at, kemudian witir dengan tiga raka’at.&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak 11 raka’at, yaitu mengerjakan delapan raka’at dengan tidak duduk kecuali pada raka’at kedelapan, lalu membaca tasyahhud dan shalawat kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam, kemudian berdiri tanpa salam lalu witir dengan satu raka’at kemudian salam, maka jumlahnya sembilan, lalu ditambah dua raka’at dalam keadaan duduk.&lt;br /&gt;    Shalat sebanyak sembilan raka’at, yaitu enam raka’at dan tidak duduk kecuali pada raka’at ke enam kemudian bertasyahhud dan membaca shalawat lalu berdiri tanpa salam, lalu witir dengan satu raka’at kemudian salam, maka jumlahnya tujuh, lalu ditambah dua raka’at dalam keadaan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa kaifiyat shalat Tarawih yang disebutkan secara nash dalam hadits-hadits dan mungkin ditambah dalam bentuk yang lain, yaitu dengan mengurangi jumlah raka’at hingga walau hanya satu raka’at. Dan jika mengerjakan lima raka’at atau tiga maka boleh dengan satu kali duduk dan satu salam sebagaimana pada point ke-2 atau boleh dengan cara bersalam setiap dua raka’at sebagaimana point ke-3 dan cara ini lebih afdhal. Adapun witir yang dikerjakan dengan tiga raka’at maka tidak boleh duduk pada raka’at kedua lalu salam pada raka’at ketiga, karena cara tersebut sama dengan shalat maghrib, padahal Nabi shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang shalat witir yang tiga raka’at :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] وَلاَ تُشَبِّهُوا بِصَلاَةِ الْمَغْرِبِ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kalian serupakan (shalat witir) dengan shalat maghrib”. [ HR. Ath Thahawi dalam Syarhu Ma’ani Al Atsaar (1 : 293) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu barangsiapa yang berwitir dengan tiga raka’at, maka boleh dengan dua cara &lt; Lihat : Mukhtashar Qiyam Al Lail (hal 284) dan Qiyam Ramadhan (hal 30) &gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bersalam antara raka’at kedua dan ketiga&lt;br /&gt;    Tidak duduk kecuali pada raka’at ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang melaksanakan lebih dari 11 atau 13 raka’at, maka caranya dua-dua raka’at lalu menutupnya dengan witir sebagaimana sabda Nabi shallallohu alaihi wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّـبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat lail itu dua raka’at-dua raka’at maka jika khawatir salah seorang diantara kalian (masuk waktu) shubuh maka hendaknya shalat witir satu raka’at”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu Ta’ala A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. BEBERAPA HAL YANG BERKAITAN DENGAN SHALAT WITIR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagi yang melaksanakan shalat witir sebanyak tiga raka’at, maka sunnah baginya membaca surah Al A’laa pada raka’at pertama, surah Al Kaafirun pada raka’at kedua dan surah Al Ikhlas pada raka’at ketiga [ HR. Abu Daud (1423), An Nasaai (1729) dan Ibnu Majah (1171) ]. Dan sebagian ulama menganjurkan agar kadang menambah pada raka’at ketiga dengan surah Al Falaq dan An Naas [ Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (463) dan Hakim (1:447-448, no.1143&amp;1148). Hadits ini yang memuat tambahan bacaan surat Al Falaq dan An Naas pada rakaat ketiga witir walaupun dinilai shohih oleh Imam Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi serta Al Albani, namun sebagian dari ulama besar hadits melemahkannya diantaranya Imam Ahmad dan Yahya bin Ma'in (lihat : At Talkhish Al Habir 2:19). Karena itu sekedar membaca surat Al Ikhlash pada rakaat ketiga witir sudah dianggap cukup apalagi haditsnya lebih shohih, wallohu a'lam. ] Namun bacaan-bacaan ini tidaklah wajib karena Rasulullah r pernah juga membaca 100 ayat dari surah An Nisaa pada raka’at shalat witir. [  HR. Nasaai (1728) dan Ahmad (19261) ]&lt;br /&gt;    Sunnah membaca qunut pada raka’at terakhir dari shalat witir sebelum atau sesudah ruku’, dengan bacaan yang ma’tsur (yang berdasarkan dalil). Dan bacaan pada qunut witir adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam kepada cucunya Hasan bin Ali radhiyallohu anhuma :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ إِنَّكَ تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ [ ( رواه أبو داود والنسائي)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah ! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak disukai) sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi, pelihara aku sebagaimana orang yang telah Engkau pelihara. Dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan jauhkanlah aku dari kejelekan apa yang Engkau tetapkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan qadha (ketetapan) dan tidak ada yang menetapkan sesuatu atasmu, sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau lindungi dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi”. [ HR. Abu Dawud (1425) , Tirmidzi (464) dan Nasai serta dishahihkan oleh Al Albani dalam Shifatu Ash Shalah (hal 180) dan Syaikh Bakar Abu Zaid dalam Du'a Al Qunut (hal 18) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada pertengahan bulan terakhir dari Ramadhan boleh menambah doa qunut tadi dengan doa laknat atas kaum kuffar dan shalawat kepada Nabi shallallohu alaihi wasallam serta doa untuk kebaikan kaum muslimin sebagaimana yang dilakukan oleh banyak kaum salaf &lt; Lihat : Mukhtashar Qiyam Al Lail (hal 314-315) dan Qiyam Ramadhan (hal 31) &gt;. Namun sebaiknya pada beberapa malam kita meninggalkan qunut pada shalat witir sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallohu anhu untuk menjelaskan kepada jama’ah bahwa hukumnya tidak wajib  &lt; Baca : Fatawa Islamiyah (2:159) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Termasuk sunnah membaca pada akhir witir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan pemaafan-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu, aku tidak (kuasa) menghitung pujian atas-Mu, Engkau (Maha Terpuji) sebagaimana Engkau pujikan atas diri-Mu”. [HR. Abu Dawud (1427) dan dishohihkan oleh Al Albani dalam Al Irwa’ (2 : 175 no. 430). Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan bahwa bacaan di akhir witir mengandung dua kemungkinan sebelum salam atau sesudahnya (lihat Zaadul Ma’ad 1 : 325) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selesai salam hendaknya membaca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha Suci Allah yang memiliki kerajaan dan Maha Suci, 3 X”. [HR. Abu Dawud (1430) dan Nasaai (1733) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca tiga kali dengan memanjangkan suara serta meninggikan suara pada bacaan yang ketiga. Adapun menambah pada bacaan yang ketiga dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَ الرُّوْحِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan para malaikat dan Jibril”. [HR. Ad Daraquthni dan dishahihkan sanadnya oleh Al Arnouth dalam tahqiq beliau terhadap Zaadul Ma’ad (1 : 326) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah disebutkan oleh beberapa ulama diantaranya Ibnul Qoyyim namun hadits ini dihukumi mungkar oleh sebagian ulama &lt; Lihat Al Fatawa Asy Syar’iyyah oleh Syaikh Abul Hasan Mushtafa bin Ismail (6 : 156) &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagi yang telah melaksanakan shalat witir pada awal malam kemudian terbangun pada akhir malam maka pendapat yang rojih –insya Allah- bahwa dibolehkan baginya melaksanakan shalat lail lagi, karena Nabi shallallohu alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat sesudah sholat witir &lt; Lihat : Kasyfus Sitr ‘An Hukmi Ash Sholah Ba’da Al Witr oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalaani &gt;, namun hendaknya tidak mengulangi witir, karena tidak ada dua witir dalam satu malam dan hendaknya shalat pada waktu malam jumlahnya ganjil. &lt; Baca masalah ini dalam Tuhfatul Ahwadzi (2:469-470) &gt; Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. PENUTUP DAN KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kami tutup risalah yang sederhana tentang shalat Tarawih ini, maka kami ingatkan kepada kaum muslimin bahwa bulan Ramadhan adalah bulan shiyam dan qiyam yang penuh dengan keberkahan, karena itu hendaknya seorang muslim memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya bulan yang mulia ini dengan cara beribadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita kembali melihat bagaimana junjungan kita melaksanakan shalat lail/Tarawih, sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah رضي الله عنها  tentang shalat Tarawih beliau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan tanyakan tentang baiknya dan panjangnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau رضي الله عنها mengabarkan bahwa panjangnya sujud Rasulullah r seperti jika kita membaca 50 ayat Al Qur’an. Lalu Hudzaifah radhiyallohu anhu ketika menceritakan kepada kita tentang shalatnya bersama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pernah membaca pada raka’at pertama surah Al Baqarah secara lengkap dan sempurna, lalu beliau shallallohu alaihi wasallam mengatakan bahwa panjang ruku’nya pun seperti (panjang) berdirinya demikian pula dalam i’tidal dan sujudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sifat shalat nabi ini telah diikuti oleh salaf kita dengan baik, karenanya kita dapati pada masa Umar radhiyallohu anhu mereka membaca sekitar 300 ayat sampai-sampai mereka baru selesai dari shalat Tarawih ketika waktu shubuh hampir masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sepantasnya bagi kita sekalian yang mau memanfaatkan dengan benar-benar dan sebaik-baiknya bulan mulia ini untuk berusaha menjadikan shalat kita mirip dengan shalat para salaf, yaitu dengan cara memanjangkan bacaan, memperbanyak dzikir dan tasbih pada ruku’ dan sujud serta pada gerakan-gerakan lainnya. Mudah-mudahan dengan cara itu kita dapat merasakan kekhusyu’kan shalat yang merupakan ruh dan inti shalat tersebut. Dan cukuplah dua hadits berikut merupakan peringatan bagi kita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ صَلاَتَهُ [ قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، وَ كَيْفَ يَسْرِقُ صَلاَتَهُ ؟ قَالَ : ] لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهَا وَ سُجُوْدَهَا [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pencuri yang paling buruk/jelek adalah yang mencuri pada saat shalat”. Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana dia mencuri pada waktu shalat ?”. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya”. [ HR. Hakim (1 : 353 no. 836) dan beliau menshahihkannya serta disetujui oleh Adz Dzahabi ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Ammar bin Yasir radhiyallohu anhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;] إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلاَةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلاَّ عُشْرُهَا تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا [&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang hamba melaksanakan shalat namun tidak dicatat baginya pahala kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya”. [HR. Abu Dawud (796), Ahmad (1846) dan Al Baihaqi (2 : 281) serta dishahihkan oleh Al Iraqy  dalam Al Mughni 'An Hamlil Asfar (1 : 119 no. 462) ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa kesimpulan penting dari risalah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Shalat Tarawih adalah shalat sunnat yang dikerjakan pada malam-malam bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;    Hukum shalat tarawih sunnah muakkadah dan termasuk diantara shalat-shalat sunnah yang paling afdhal&lt;br /&gt;    Afdhal dikerjakan secara berjamaah di mesjid-mesjid kaum muslimin&lt;br /&gt;    Shalat Tarawih  boleh dikerjakan pada awal atau pertengahan malam namun yang  afdhal pada akhir malam.&lt;br /&gt;    Tidak ada ketentuan tentang jumlah raka’at, namun afdhal dengan 11 raka’at dengan tetap memperbanyak bacaan dalam tiap raka’at dan jika tidak mampu maka afdhal memperbanyak raka’at dengan tetap menjaga thuma’ninah.&lt;br /&gt;    Tidak ada ketentuan dalam bacaan shalat Tarawih namun sebagian ulama menganjurkan untuk mengkhatamkan Al Quran selama bulan Ramadhan dalam shalat Tarawih&lt;br /&gt;    Shalat Tarawih boleh dilaksanakan dengan berbagai cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallohu alaihi wasallam, dan cara yang paling umum adalah mengerjakannya dengan dua raka’at – dua raka’at kemudian ditutup dengan witir.&lt;br /&gt;    Sunnah membaca doa qunut pada shalat witir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAROJI’ (SUMBER-SUMBER RUJUKAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Adabul Masy-yi Fish Shalah, Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab&lt;br /&gt;    Al Adzkar, Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An Nawawi, Maktabah Al Muayyad- Riyadh dan Maktabah Daar Al Bayan-Damaskus, cetakan II tahun 1414 H .&lt;br /&gt;    Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd&lt;br /&gt;    Du’a Al Qunut, Asy Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid&lt;br /&gt;    Fatawa Islamiyah, Samahatu Asy Syaikh Ibnu Baaz dll&lt;br /&gt;    Fatawa Al Lajnah Ad Daimah&lt;br /&gt;    Fathul Bari, Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalany, Daar As Salaam- Riyadh, Cetakan I-1421 H&lt;br /&gt;    Fiqhus Sunnah, Asy Syaikh Sayyid Saabiq&lt;br /&gt;    Al Fatawa Asy Syar’iyyah , Syaikh Abul Hasan Mushtafa bin Ismail , Darul Hadits – Ma’rib , 1418 H&lt;br /&gt;    Irwa’ Al Ghalil, Asy Syaikh Al Albani, Al Maktab al Islami-Beirut, Cetakan kedua 1405 H&lt;br /&gt;    Al Ihsan bi tartib Shohih Ibn Hibban, Ibn Balaban, Tahqiq : Kamal Yusuf Al Hut, Daar Al Kutub A;l Ma’rifah-Beirut, Cetakan Kedua-1417 H&lt;br /&gt;    Al Jawab Ash Shohih ‘An Ahkam Shalat At Tarawih, Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz&lt;br /&gt;    Kasyfus Sitr ‘An Hukmi Ash Sholah Ba’da Al Witr , Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalaani&lt;br /&gt;    Majaalis Syahri Ramadhan, Asy Syaikh Muhammad Ibnu Sholih Al ‘Utsaimin, Tahqiq : Abu Muhammad Asyraf Ibn Abdul Maqshud, Adhwaau As Salaf , Cetakan kedua-1417 H&lt;br /&gt;    Majmu’ Fatawa Syaikh Al Islam Ibn Taimiyah&lt;br /&gt;    Mukhtashar Qiyam al Lail lii Muhammad bin Nashr Al Marwazi , Al Allamah Ahmad bin Ali Al Maqrizi, Muassah Ar Risalah, cetakan kedua 1414 H&lt;br /&gt;    Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Al Imam Yahya bin Syaraf Nawawi&lt;br /&gt;    Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah , Wizarah Al Awqaaf wa Asy Syuun Al Islamiyyah Al Kuwaitiyyah&lt;br /&gt;    Al Minhaj Syarhu Sohih Muslim bin Hajjaj, Imam Nawawi, tahqiq : Khalil Ma’mun Syiha, Daarul Ma’rifah- Beirut, cetakan kedua 1415 H&lt;br /&gt;    Al Mughni ‘An Hamlil Asfar Fil Asfar , Al Imam Al ‘Iraqy, tahqiq : Asyraf Abdul Maqshud, Maktabah Daar Thabariyah-Riyadh, Cetakan I- 1415 H&lt;br /&gt;    Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Tahqiq : DR. Abdullah Ibn Abdul Muhsin At Turki, Cetakan 1419 H&lt;br /&gt;    Al Muhalla , Al Imam Ibnu Hazm, Tahqiq : Ahmad Syakir, Darut Turots- Al Qahirah&lt;br /&gt;    Al Mulakhkhash Al Fiqhi , Syaikh Sholih Al Fauzan&lt;br /&gt;    Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain, Imam Hakim , Dirasah wa Tahqiq : Mushtahafa Abd. Qadir ‘Atha, Daar Al Kutub Al Ilmiyah –Beirut, cetakan pertama tahun 1411 H&lt;br /&gt;    Nailul Authar, Al Imam Asy Syaukani&lt;br /&gt;    Qiyamu Ramadhan, Asy Syaikh Al Albani, Al Maktabah Al Islamiyah Yordania, Cetakan Ketujuh-1417 H&lt;br /&gt;    Ruhbanul Lail , DR. Sayyid bin Husain Al ‘Afani, Maktabah Ibn Taymiyah – Kairo, Cetakan Ketiga – 1416 H&lt;br /&gt;    Sa-il Al Jarror , Imam Syaukani&lt;br /&gt;    Shahih Ibnu Khuzaimah, Al Imam Ibnu Khuzaimah, Tahqiq : DR. Muh.Mushtafa Al A’zhamy, Al Maktab Al Islamy-Beirut, Cetakan II- 1412 H&lt;br /&gt;    Ash Shalah, Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah&lt;br /&gt;    Shalatut Tarawih, Asy Syaikh Al Albani, Al Maktab Al Islami-Beirut,   Cetakan Kedua-1405 H&lt;br /&gt;    Shifatu Sholatin Nabi, Asy Syaikh Al Albani&lt;br /&gt;    Shifatu Shaum An Nabi, Ali bin Hasan bin Abdul Hamid dan Salim bin ‘Ied Al Hilaly, Al Maktab Al Islami-Beirut,   Cetakan Kelima-1413 H&lt;br /&gt;    Shohih At Targhib wa At Tarhib, Asy Syaikh Albani&lt;br /&gt;    Subulus Salam, Ash Shon’any&lt;br /&gt;    As Sunan Al Kubro , Al Baihaqi&lt;br /&gt;    Syarh Ma’aani Al Atsaar, Imam Ath Thahawi&lt;br /&gt;    At Tahajjud wa Qiyamul Lail, Ibnu Abid Dunya&lt;br /&gt;    At Talkhish Al Habir, Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalany, Tahqiq : Abdullah Hasyim Al Yamani Al Maidani, Daarul Ma’rifah-Beirut.&lt;br /&gt;    Taudhihul Ahkaam, Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassam, Maktabah wa Mathba’ah An Nahdhah Al Haditsah- Makkah Al Mukarramah, Cetakan kedua 1414 H&lt;br /&gt;    Tharhu At Tatsrib, Ibn Al ‘Iraqy&lt;br /&gt;    Tuhfatul Ahwadzi, Al Hafizh Muhammad Abdurrahman Al Mubarakfury, Daar Al Kutub Al Ilmiyah-Beirut&lt;br /&gt;    Za’adul Ma’aad, Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah&lt;br /&gt;sumber: markazassunnah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-8999902750346482159?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/8999902750346482159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/menghidupkan-malam-ramadhan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8999902750346482159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8999902750346482159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/menghidupkan-malam-ramadhan-dengan.html' title='MENGHIDUPKAN MALAM RAMADHAN DENGAN SHALAT TARAWIH'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-I8AR8t6ftE0/TiQ0gfPmf6I/AAAAAAAAAHM/gWpy9oJfgKA/s72-c/index.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-7583959662202944275</id><published>2011-07-18T06:05:00.001-07:00</published><updated>2011-07-18T06:15:33.913-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>HADITS-HADITS TENTANG KEISTIMEWAAN DAN KEKHUSUSAN HARI JUMAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Dc2c3dtv00U/TiQx10EEP7I/AAAAAAAAAHE/1ENylHhsykc/s1600/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Dc2c3dtv00U/TiQx10EEP7I/AAAAAAAAAHE/1ENylHhsykc/s200/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630680234698489778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat adalah hari yang memiliki arti yang sangat istimewa bagi ummat Islam karena merupakan hari raya bagi mereka. Sangat banyak hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan dan kekhususan hari Jumat dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh dalam kitabnya Zaadul Ma’ad memuat hadits-hadits tersebut hingga beliau berkesimpulan paling tidak ada 33 kekhususan hari Jumat dari hari-hari yang lain.&lt;br /&gt;Al Hafizh Suyuthi menulis kitab yang beliau beri judul Al Lum’ah fi Khashoish Al Jumu’ah. Beliau di kitab ini menyebutkan hadits-hadits yang sangat banyak -termasuk diantaranya hadits-hadits lemah- yang menerangkan keutamaan dan kekhususan Jumat; dimana beliau berkesimpulan ada 101 kekhususan Jumat dari hari selainnya.&lt;br /&gt;Di silsilah pertama dari kumpulan hadits-hadits tentang Jumat kali ini kami memilihkan untuk antum sekalian hadits-hadits yang insya Allah dijamin keabsahannya yang kami cukupkan dengan sepuluh point kekhususan hari Jumat dari sekian banyak kekhususannya, Wallohu Waliyyut Taufiq.&lt;br /&gt;1. Hari Ied yang Berulang Setiap Pekan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari ini (Jumat) Allah menjadikannya sebagai hari Ied bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang menghadiri shalat Jumat hendaknya mandi, jika ia memiliki wangi-wangian maka hendaknya dia memakainya dan bersiwaklah” (HR. Ibnu Majah dan haditsnya dinyatakan hasan oleh Al Albani)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Setiap ummat memiliki hari Ied (hari raya)&lt;br /&gt;• Hari Ied bagi kaum muslimin dalam setiap pekannya adalah hari Jumat&lt;br /&gt;• Disyariatkannya mandi bagi setiap yang mau menghadiri shalat Jumat&lt;br /&gt;• Pada saat menghadiri shalat Jumat dianjurkan memakai wewangian bagi yang memilikinya dan juga diperintahkan bersiwak&lt;br /&gt;• Disyariatkan mengagungkan hari raya&lt;br /&gt;2. Diharamkan mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat dan dimakruhkan mengkhususkan malamnya untuk shalat malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ » (متفق عليه)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat kecuali jika engkau juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Jangan kalian mengkhususkan malam Jumat dari malam-malam lainnya untuk shalat lail dan jangan kalian mengkhususkan hari Jumat dari hari-hari lainnya untuk berpuasa kecuali jika bertepatan dengan waktu yang seseorang yang biasa berpuasa padanya” (HR. Bukhari dan Muslim,lafal hadits ini baginya)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Larangan mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa sunnah&lt;br /&gt;• Boleh berpuasa sunnah di hari Jumat jika berpuasa sebelumnya atau sehari sesudahnya atau jika bertepatan dengan puasa yang memiliki sebab tertentu seperti puasa Arafah dan lainnya&lt;br /&gt;• Larangan mengkhususkan malam Jumat untuk shalat lail&lt;br /&gt;3. Disunnahkan membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan Al Insan di rakaat kedua pada saat sholat shubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِـ”ألم تَنْزِيلُ” فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى وَفِي الثَّانِيَةِ “هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam membaca pada shalat shubuh di hari Jumat Alif Laam Miim Tanzil (surat As Sajdah) di rakaat pertama dan Hal Ataa ‘alal Insan Hiinun Min Ad Dahr Lam Yakun Syaian Madzkuura (surat Al Insan) (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Perhatian para sahabat terhadap surat/ayat yang dibaca oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada saat shalat&lt;br /&gt;• Penjelasan kadar bacaan imam pada saat shalat shubuh&lt;br /&gt;• Disyariatkannya membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan surat Al Insan di rakaat kedua pada saat shalat Shubuh di hari Jumat&lt;br /&gt;4. Pada hari Jumat ada waktu mustajab untuk berdoa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits ini :&lt;br /&gt;• Keutamaan berdoa pada hari Jumat&lt;br /&gt;• Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya&lt;br /&gt;• Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhal untuk berdoa&lt;br /&gt;• Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jumat; Al Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan 42 pendapat para ulama beserta dalilnya dalam menentukan waktu tersebut. Diantara sekian banyak pendapat ada dua pendapat yang paling kuat karena ditopang oleh hadits shohih, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Pertama : Waktu antara duduknya imam di mimbar hingga selesainya shalat. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua menetapkan waktu ijabah tersebut adalah ba’da ashar terutama menjelang maghrib. Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaai dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda(artinya), “Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar…”&lt;br /&gt;5. Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi di hari Jumat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وأحمد)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aus bin Aus radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang afdhal bagi kalian adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari Jumat juga sangkakala (pertanda kiamat) ditiup dan padanya juga mereka dibangkitkan, karena itu perbanyaklah bershalawat kepadaku karena shalawat kalian akan diperhadapkan kepadaku” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat yang kami ucapkan untukmu bisa diperhadapkan padamu sedangkan jasadmu telah hancur ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi tanah untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Nasaai, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shohih)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain&lt;br /&gt;• Diantara kekhususan hari Jumat : Adam alaihissalam diciptakan dan diwafatkan padanya, hari kiamat dan hari kebangkitan juga terjadi padanya&lt;br /&gt;• Perintah memperbanyak shalawat pada hari Jumat&lt;br /&gt;• Shalawat yang kita peruntukkan kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam akan disampaikan kepada beliau&lt;br /&gt;• Jasad para nabi tidak hancur dimakan tanah&lt;br /&gt;6. Hari Kiamat terjadi pada hari Jumat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : » خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ « رواه مسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan juga dikeluarkan darinya serta kiamat tidak terjadi melainkan pada hari Jumat” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hari Jumat adalah hari yang terbaik diantara hari-hari yang ada&lt;br /&gt;• Nabi Adam alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan darinya pada hari Jumat&lt;br /&gt;• Kiamat terjadi pada hari Jumat&lt;br /&gt;7. Seorang yang meninggal dunia di hari Jumat akan dilindungi dari siksa kubur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ » (رواه الترمذي وأحمد)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu anhuma berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jumat atau pada malamnya melainkan Allah melindunginya dari fitnah kubur” (HR. Tirmidzi dan Ahmad serta dinilai hasan atau shohih oleh Al Albani berdasarkan banyaknya jalur periwayatannya yang saling mendukung dan menguatkan)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Keutamaan muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat&lt;br /&gt;• Adanya fitnah kubur&lt;br /&gt;• Sebagian hamba Allah yang muslim diselamatkan dari fitnah kubur&lt;br /&gt;8. Anjuran membaca surat Al Kahfi di malam Jumat dan pada hari Jumat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu berkata, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di malam Jumat niscaya Allah akan meneranginya dengan cahaya antara dia dengan Ka’bah” (Riwayat Darimi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : Sanad riwayat ini shohih mauquf dari perkataan Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu akan tetapi hukumnya marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam) karena pengabaran hal yang ghoib seperti ini tidak mungkin hanya berdasarkan pendapat pribadi para sahabat. Wallohu A’lam. Beberapa riwayat hadits menyebutkan kata hari Jumat.&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Keutamaan membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat dan hari Jumat&lt;br /&gt;• Membaca surat Kahfi pada waktu di atas diantara amalan yang diganjar oleh Allah Azza wa Jalla berupa cahaya&lt;br /&gt;9. Dibolehkan shalat di pertengahan siang di hari Jumat sebelum zawal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عن سَلْمَان الْفَارِسِيّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَتَطَهَّرَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ثُمَّ ادَّهَنَ أَوْ مَسَّ مِنْ طِيبٍ ثُمَّ رَاحَ فَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَصَلَّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ أَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى « رواه البخاري&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Salman Al Farisi radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya kemudian memakai wewangian lalu menuju ke mesjid dimana dia tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk di mesjid) lalu dia shalat sesuai dengan yang ditetapkan Allah (sekemampuannya) kemudian jika imam keluar dari tempatnya untuk berkhutbah dia diam mendengarkan khutbah niscaya akan diampuni dosanya yang terjadi diantara kedua Jumat” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penjelasan beberapa adab yang harus diperhatikan pada saat menunaikan shalat Jumat&lt;br /&gt;• Pahala Jumat berupa pengampunan dosa hanya akan diraih oleh hamba yang menjalankan adab-adab tersebut&lt;br /&gt;• Bolehnya seseorang yang masuk di mesjid pada hari Jumat melaksanakan shalat sebanyak-banyaknya walaupun dipertengahan siang(zawal) hingga imam naik di atas mimbar. Diantara ulama yang menjelaskan masalah ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim dan Allamah Syamsul Haq Azhim Abadi rahimahumulloh.&lt;br /&gt;10. Seseorang yang mandi di hari Jumat maka itu merupakan pembersih baginya hingga Jumat berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : « مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ فِي طَهَارَةٍ إِلَى الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ». (رواه الطبراني وغيره)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shalllallohu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat maka dia berada dalam keadaan suci hingga Jumat berikutnya” (HR. Thabrani, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan : Hadits ini dinilai shahih oleh Suyuthi dan dinyatakan hasan oleh Mundziri dan disetujui oleh Albani&lt;br /&gt;Diantara fiqh hadits ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Anjuran mandi pada hari Jumat&lt;br /&gt;• Keutamaan mandi pada hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain&lt;br /&gt;sumber : markazassunnah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-7583959662202944275?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/7583959662202944275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-tentang-keistimewaan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/7583959662202944275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/7583959662202944275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/hadits-hadits-tentang-keistimewaan-dan.html' title='HADITS-HADITS TENTANG KEISTIMEWAAN DAN KEKHUSUSAN HARI JUMAT'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Dc2c3dtv00U/TiQx10EEP7I/AAAAAAAAAHE/1ENylHhsykc/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-8689890560590937336</id><published>2011-07-18T05:51:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T05:56:12.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>DERAJAT HADITS KEUTAMAAN BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-LSgh7cE1mkk/TiQtSs9Po_I/AAAAAAAAAG0/BKKewk2_eyo/s1600/ramadhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 302px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-LSgh7cE1mkk/TiQtSs9Po_I/AAAAAAAAAG0/BKKewk2_eyo/s400/ramadhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630675233448895474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SOAL : assalamu alaikum.. ana mau tanyakan tentang hadist  ”kegembiraan seseorang menanti bulan ramadhan adalah surga” apa shahih sukran jazakumullahu khairan (Abdul Mun’im)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAWAB : Wa’alaikum salam warahmatullah, teks hadits yang&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; antum sebutkan belum kami dapatkan dalam buku-buku hadits mu’tabar  namun ada sebuah hadits yang semakna dan cukup populer di sebagian masyarakat kita yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takhrij : Hadits ini disebutkan oleh Al Khubawi (penulis kitab Durratun Nashihin) dalam kitabnya tanpa menyebutkan sanad dan sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kami ingatkan bahwa sebagian buku-buku yang menjadi pegangan masyarakat kita banyak memuat hadits-hadits lemah dan palsu; diantara kitab-kitab tersebut adalah Ihya’ Ulumiddin yang mana hadits-haditsnya telah ditakhrij olrh Imam Al ‘Iraqi, kitab Irsyad Al ‘Ibad oleh Zainuddin Al Malaibari,   kitab Tanbihul Ghafilin oleh Abu Layts As Samarqandi dan kitab Durratun Nashihin oleh Al Khubawi. Kitab yang terakhir ini telah diteliti oleh Ustadz DR. Ahmad Lutfi Fathulloh, MA pada disertasi doktor beliau dalam bidang hadits di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Dalam disertasi tersebut beliau menyimpulkan bahwa kitab Durratun Nashihin sangat banyak memuat hadits-hadits lemah, palsu bahkan yang tidak memiliki asal sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hadits di atas beliau menghukuminya sebagai hadits maudhu’/palsu. Beliau menjelaskan, “Melihat lafaz dan kandungan hadits ini, ia mempunyai ciri-ciri hadits palsu, yaitu satu amalan kecil yang menjanjikan pahala yang begitu besar. Alasan kedua adalah hadits ini tidak dijumpai dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar, termasuk dalam kitab-kitab yang mengandung hadits-hadits dha’if, maka hadits ini dapat digolongkan sebagaimana yang dikenali dalam istilah ilmu hadits dengan la yu’raf lahu ashlun atau la ashla lahu (tidak diketahui sumber asalnya), ini akan menyebabkan hadits itu dihukumi palsu. Oleh karena itu, hadits ini adalah palsu karena sebab di atas.” (lihat buku : Hadits-hadits Lemah dan Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin oleh DR. Ahmad Lutfi Fathullah,  halaman 75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan : Hadits yang antum tanyakan tidak didapatkan dalam buku-buku hadits yang mu’tabar oleh karena itu tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam hingga kita mendapatkan sanadnya yang diriwayatkan dengan derajat shohih atau hasan. Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, bahkan sudah sepatutnya Ramadhan yang merupakan keutamaan dan rahmat yang Allah datangkan kepada kita disambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal sholeh di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya), Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus ayat 58), Wallohu a’lam bish shawab wahuwa waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;sumber : markazassunnah.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-8689890560590937336?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/8689890560590937336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/derajat-hadits-keutamaan-bergembira.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8689890560590937336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8689890560590937336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/derajat-hadits-keutamaan-bergembira.html' title='DERAJAT HADITS KEUTAMAAN BERGEMBIRA MENYAMBUT BULAN RAMADHAN'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LSgh7cE1mkk/TiQtSs9Po_I/AAAAAAAAAG0/BKKewk2_eyo/s72-c/ramadhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-8915133086851059374</id><published>2011-07-16T05:14:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T05:20:11.546-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hadits'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>HADITS “PERBEDAAN DIANTARA UMMATKU ADALAH RAHMAT”</title><content type='html'>Alih Bahasa: Abu Shafa Luqmanul Hakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Segala puji bagi Allah –subhanahu wa ta’ala- atas anugerah yang senantiasa tercurah, shalawat dan salam semoga terhatur bagi Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat dan seluruh umatnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Redaksi hadits di atas sangatlah masyhur di tengah kaum muslimin dewasa ini, hampir seluruh lapisan masyarakat menghafalnya, mimbar-mimbar jum’at terguncang olehnya, lisan-lisan begitu fasih mengumbarnya, namun satu hal yang perlu kita pertanyakan, bagaimanakah derajat hadits diatas menurut para pakar hadits?, untuk menjawab pertanyaan diatas, kami suguhkan dalam artikel ini hasil kajian Fadhilatus Syaikh Muhadditsul ‘Ashr Muhammad bin Nashiruddin al-Albani –rahimahullah- terhadap hadits ini, semoga artikel sederhana ini bisa mengobati kegusaran kita atas pertanyaan di atas, wallahu waliyyut taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi Hadits:&lt;br /&gt;اختلاف أمتي رحمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Perbedaan di antara ummatku adalah rahmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Nashirudin al-Albani mengatakan: ”hadits ini tidak ada asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sungguh para ulama pakar hadits telah berupaya untuk mendapatkan sanad[1] hadits ini, namun mereka tidak mendapatkannya, sampai as-Suyuthi –rahimahullah- mengatakan: ”Mungkin hadits ini diriwayatkan dalam kitab para ulama yang [kitab tersebut] hilang sehingga tidak sampai ke tangan kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Menurut pendapatku [Fadhilatus Syaikh Albani], pernyataan ini jauh dari kebenaran, karena konsekwensi dari ucapan ini adalah justifikasi atas lenyapnya hadits-hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-, tentunya sangat tidak layak bagi seorang muslim untuk meyakini pernyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Al-Munawi –rahimahullah- menukil pernyataan Tajuddin as-Subki –rahimahullah-, bahwa beliau mengatakan:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; ”hadits ini tidak dikenal di kalangan para ahli hadits, dan saya belum mendapatkan sanadnya, baik yang derajatnya shahih, hasan, maupun yang derajatnya palsu”. Fadhilatus Syaikh Zakariya al-Anshari –rahimahullah- menyepakati pernyataan tersebut dalam komentarnya atas tafsir al-Baidhawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Adapun kritikan dari sisi makna hadits, maka sesungguhnya makna yang terkandung dalam hadits ini telah diingkari oleh para ulama peneliti, Ibnu Hazm ad-Dhahiri –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya “al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam”, setelah beliau mentarjih bahwa riwayat diatas [perbedaan diantara umatku adalah rahmat] bukanlah hadits Nabi: ”pernyataan ini sangat rusak, sebab jika kita terima bahwa perselisihan diantara umatku adalah rahmat maka konsekwensinya adalah kesepakatan umat adalah kebencian [Allah], dan seorang muslim tentu tidak akan mengucapkan perkataan ini, karena hanya ada dua opsi, kesepakatan atau perselisihan, maka hasilnya-pun salah satu diantara dua hal, rahmat atau kebencian [Allah]. Dan di halaman lain dari kitabnya beliau mengatakan:”hadits ini batil dan palsu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Diantara dampak negatif dari hadits ini adalah tenggelamnya para penganut empat madzhab dalam perselisihan dan perpecahan, dan nampaknya tidak ada upaya untuk merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih [untuk mentarjih perselisihan tersebut], sebagaimana yang dianjurkan oleh para imam mereka –radhiyallahu ‘anhum-, bahkan mereka mengumpamakan madzhab-madzhab yang beragam bak syariat yang beragam, mereka mengatakan pernyataan ini, padahal mereka mengetahui bahwa sebagian perselisihan dan kontradiksi tidak bisa ditarjih kecuali setelah merujuk kepada dalil, dan menolak pendapat yang menyelisihi dalil serta menerima pendapat yang lebih dekat kepada dalil, namun mereka tidak melaksanakan hal tersebut, maka dengan ini seakan mereka menisbatkan kepada agama ini kontradiksi, dan hal ini merupakan bukti kuat bahwa perselisihan tersebut bukan datang dari Allah –subhanahu wa ta’ala- jika mereka benar-benar merenungi firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Dan seandainya [al-Qur’an] datang dari selain Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di dalamnya perselisihan yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ayat di atas dengan gamblang menyatakan bahwa perselisihan bukan datang dari Allah, maka sangat keliru apabila menjadikannya [perselisihan] sebagai bagian syariat, dan amat besar salahnya apabila menjadikannya [perselisihan] sebuah rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dan disebabkan hadits ini pula, mayoritas kaum muslimin -pasca berakhirnya masa imam empat madzhab-  terjerembab dalam jurang perselisihan dalam masalah ilmiah [aqidah] maupun amaliyah [ibadah], alangkah indahnya apabila mereka mengetahui bahwa perselisihan adalah sebuah keburukan –sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud- yang ditaqrir  di dalam al-Qur’an dan hadits yang shahih, niscaya mereka akan berbondong-bondong untuk bersepakat dalam banyak permasalahan yang telah Allah tegakkan dalil tentangnya, dan kemudian berupaya membuka pintu udzur bagi beberapa masalah yang mungkin masih terbuka pintu perbedaan di dalamnya, namun bagaimana mereka akan melaksanakan hal ini jika menurut anggapan mereka bahwa perselisihan adalah Rahmat dan keberagaman madzhab bagaikan  keanekaragaman syariat. Dan jika anda ingin mengetahui betapa besar perselisihan dalam tubuh umat ini, maka tiliklah beberapa masjid di tengah kaum muslimin, niscaya anda akan mendapatkan beberapa diantaranya memiliki empat buah mihrab, yang kemudian masing-masing mihrab menjadi tempat shalat madzhab-madzhab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bahkan lebih dari itu, sebagian penganut madzhab rela mengakhirkan shalat demi melaksanakannya bersama sang imam madzhab, seakan-akan madzhab adalah agama yang berbeda-beda,  dan hal ini tentunya tidaklah aneh, sebab para ulama madzhab tersebut membisikan kepada mereka:”bahwa madzhab-madzhab tersebut bak syariat yang beragam”, lupakah gerangan mereka dengan sabda Nabi - shallallahu ‘alaihi wa sallam-:”Apabila iqamat telah terdengar, maka tidak ada shalat selain shalat wajib [dengan berjamaah]”[2]. Namun ternyata mereka berani menyelisihi hadits tersebut demi menjaga fanatisme terhadap madzhab, seakan keagungan madzhab lebih besar dibanding  keagungan hadits-hadits Rasulullah - shallallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ringkasnya, perselisihan merupakan hal tercela dalam syariat islam, olehnya kewajiban kita adalah menjauhinya sesuai kemampuan, sebab hal itu merupakan faktor pelemah umat, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian menjadi lenyap.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Adapun sikap ridha terhadap perselisihan, bahkan menyifatinya dengan rahmat, maka hal ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang mencelanya, dan ungkapan tersebut tidak berpijak pada dalil kecuali hadits  yang tidak memiliki asal usul ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah pembahasan ini, mungkin akan terbetik dalam sanubari kita sebuah pertanyaan besar, sesungguhnya para sahabat berselisih dengan sahabat yang lain, apakah mereka tercakup pula dalam celaan yang kita bahas tadi?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Ibnu Hazm –rahimahullah-, beliau berkata: ”sekali-kali tidak, sesungguhnya para sahabat tidak tercakup dalam celaan diatas, sebab setiap dari mereka berupaya untuk menapaki jalan Allah, apabila mereka terjatuh pada kesalahan maka satu pahala tercatat untuk mereka atas niat terpuji dalam hati mereka berupa upaya untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak tercatat atas kesalahan tersebut sebagai dosa karena terjatuhnya mereka ke dalam kesalahan bukan disebabkan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam menuntut kebenaran, dan apabila pendapat mereka benar maka dua pahala tercatat untuk mereka, hal ini berlaku pula bagi seluruh kaum muslimin yang samar bagi mereka kebenaran dan belum sampai kepada mereka dalil. Adapun celaan yang tercantum dalam nash-nash al-qur’an dan sunnah, berlaku bagi orang yang meninggalkan dalil al-qur’an dan assunnah setelah sampainya dalil dan hujjah kepadanya, dan bergantung kepada pendapat si fulan dan si fulan, lebih mengutamakan taklid buta dan bermaksud untuk berselisih, mengajak pada fanatisme golongan dan seruan jahiliyah, sengaja untuk berpecah belah, menolak dalil dari al-qur’an dan assunnah, apabila dalil sesuai dengan nafsunya maka dia akan mengambilnya, namun jika dalil tersebut berkontradiksi dengan nafsunya, maka dalilpun akan dicampakkan[4], Wallahu Musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berakhirlah kajian kita tentang hadits “perselisihan diantara umatku adalah rahmat”, semoga artikel sederhana ini bisa memberikan faedah bagi segenap kaum muslimin tentang titik lemah dari hadits tersebut, dan bisa membangkitkan semangat untuk mentarjih pendapat yang memiliki pijakan dalil dari al-qur’an maupun assunnah. Dan akhirnya, serangkaian doa kami hadiahkan untuk Fadhilatus Syaikh, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amalan beliau serta menempatkan beliau di surga-Nya, akhirul kalam, Shalawat dan Salam semoga tercurahkan untuk Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, kerabat, dan seluruh pengikutnya sampai datangnya hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Mata rantai perawi hadits yang meriwayatkan hadits ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. HR. Muslim dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. Surat al-Anfal 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. Sumber dari artikel ini adalah kitab “ Silsilah Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi’ Fil Ummah, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-.&lt;br /&gt;sumber: http://markazassunnah.wordpress.com/2011/06/06/hadits-%E2%80%9Cperbedaan-diantara-ummatku-adalah-rahmat%E2%80%9D/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-8915133086851059374?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/8915133086851059374/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/kedudukan-hadits-tawassul-nabi-adam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8915133086851059374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8915133086851059374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/kedudukan-hadits-tawassul-nabi-adam.html' title='HADITS “PERBEDAAN DIANTARA UMMATKU ADALAH RAHMAT”'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-137876734981406363</id><published>2011-07-16T04:39:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T04:42:06.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>ADA APA DENGAN BULAN RAJAB ?</title><content type='html'>Penamaan Bulan Ini&lt;br /&gt;Rajab adalah salah satu dari nama bulan Islam yang disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallohu alaihi wasallam. Rajab dalam bahasa Arab bermakna agung dan terhormat, bulan ini disebut dengan Rajab yang berarti agung dan terhormat karena kaum Jahiliyah dulu sangat mengagungkan dan menghormati bulan ini. Imam Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Lathoif Al Ma’arif menyebutkan dari nukilan sebagian ulama ada 14 nama untuk bulan ketujuh ini dan sebagian lagi menyebut hingga 17 nama. Al Hafizh Ibnu Hajar menukil penjelasan dari Ibnu Dihyah bahwa bentuk jamak dari kata Rajab adalah Arjaab, Rajabaanaat, Arjabah, Araajib dan Rajaabii, lalu beliau (Ibnu Dihyah) menyatakan bahwa bulan ini memiliki 18 nama kemudian beliau merinci satu demi satu nama tersebut (lihat Muqaddimah Tabyiin Al ‘Ajab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajab Termasuk dari Bulan-Bulan Haram&lt;br /&gt;Rajab merupakan salah satu diantara&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; bulan yang memiliki kemuliaan selain Ramadhan karena dia termasuk diantara empat bulan yang haram. Kemuliaan dan keagungan ini telah diisyaratkan dalam Firman Allah Azza wa Jalla,&lt;br /&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ&lt;br /&gt;Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(QS. At Taubah : 36)&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Bakrah Nufai’ bin Harits radhiyallohu anhu dari Nabi shallallohu alaihi wasallam, beliau menerangkan keempat bulan haram yang dimaksud dengan sabdanya:&lt;br /&gt;« إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ ...»&lt;br /&gt;“Sesungguhnya zaman telah beredar sebagaimana yang ditentukan di waktu Dia menciptakan langit dan bumi,dalam setahun terdapat dua belas bulan diantaranya empat bulan haram; tiga bulan diantaranya berurutan, (keempat bulan haram itu adalah) Dzulqa’dah, Dzulhijjah Muharram dan Rajab bulan Mudhar yang berada diantara Jumada (Akhiroh) dan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dinamakan bulan-bulan haram ?&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat mengapa keempat bulan tersebut dinamakan dengan bulan haram, ada dua pendapat yang terkenal :&lt;br /&gt;Pendapat Pertama : Dinamakan bulan haram dikarenakan besarnya kehormatan dan keagungan bulan-bulan tersebut serta besarnya akibat dari dosa yang dilakukan padanya. Abdullah bin Abbas radhiyallohu ‘anhuma berkata, “Allah mengkhususkan empat bulan yang dijadikannya sebagai bulan-bulan haram, kehormatannya sangat agung, dosa-dosa pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) dan Dia menjadikan amal sholeh dan pahalanya (di bulan tersebut) juga lebih besar” (lihat: Latho’if Al Ma’arif oleh Ibnu Rajab) . Salah seorang mufassir dari kalangan tabi’in yang bernama Qatadah bin Diamah As Sadusi ketika menjelaskan makna firman Allah di surat At Taubah ayat 36, “...maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...”, beliau berkata, “Amalan sholeh di bulan-bulan haram lebih besar pahalanya sebagaimana perbuatan menganiaya lebih besar dosanya di bulan-bulan haram walaupun secara umum di bulan mana saja perbuatan menganiya adalah dosa besar” (lihat Tafsir Al Baghawi)&lt;br /&gt;Pendapat Kedua : Dinamakan bulan-bulan haram karena peperangan diharamkan pada bulan-bulan tersebut dan hal ini sudah dikenal sejak zaman Jahiliyah bahkan konon sejak zaman Nabi Ibrahim alaihis salam. Dalam Al Quran Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan haramnya berperang di bulan-bulan haram, (artinya) :&lt;br /&gt;“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh...(QS. Al Baqarah : 217).&lt;br /&gt;Akan tetapi para ulama berbeda pendapat apakah larangan berperang di bulan haram hukumnya tetap berlaku atau sudah mansukh? Jumhur ulama berpendapat hukumnya telah mansukh karena para sahabat sepeninggal Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam banyak mengadakan penaklukan di berbagai negeri dan berjihad lalu tidak dinukil bahwa mereka berhenti pada saat memasuki bulan haram, hal ini menunjukkan bahwa mereka ijma’ larangan tersebut telah mansukh. Sebagian ulama salaf diantaranya ‘Atho’ memandang hukumnya tetap berlaku dan tidak mansukh, sebagian ulama lain merinci hukumnya dan mengatakan larangan tersebut berlaku jika mengawali peperangan di bulan-bulan haram adapun jika awalnya terjadi di luar bulan haram lalu berlanjut hingga bulan-bulan haram maka hal tersebut tidak mengapa atau rincian lain bahwa larangan tersebut jika jihad yang ofensif (menyerang) adapun jika jihad dalam rangka mempertahankan diri maka boleh di bulan apa saja , wallohu a’lam (lihat : Tafsir al Qurthubi, Zaadul Masir, tafsir as Sa’di dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Keistimewaan dan Amalan Khusus yang Dianjurkan di Bulan Rajab?&lt;br /&gt;Para ulama kita menjelaskan bahwa keempat bulan haram tersebut memiliki keistimewaan dan keutamaan jika dibandingkan bulan-bulan lainnya kecuali bulan Ramadhan. Namun mereka berbeda pendapat manakah diantara empat bulan haram tersebut yang lebih afdhal; sebagian ulama Syafi’iyyah mengatakan yang paling afdhal bulan Rajab akan tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi, Tabi’in yang mulia Hasan al Bashri mengatakan bulan Muharram dan ini yang ditarjihkan oleh imam Nawawi dan pendapat ketiga mengatakan bulan Dzulhijjah, pendapat terakhir ini diriwayatkan dari Said bin Jubair dan ini yang cenderung dipilih oleh Ibnu Rajab al Hanbali rahimahumullohu jami’an.&lt;br /&gt;Kemudian telah kita sebutkan sebelumnya beberapa perkataan ulama yang menjelaskan keutamaan beramal sholeh di bulan-bulan haram, dengan demikian semua jenis ibadah dan amalan sholeh yang disyariatkan sepanjang tahun dianjurkan untuk diperbanyak pada bulan-bulan haram termasuk diantaranya bulan Rajab. Akan tetapi adakah amalan sholeh yang khusus dianjurkan di bulan Rajab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan Khusus yang Banyak Dikerjakan di Bulan Rajab dan Hukumnya&lt;br /&gt;Jika kita melihat realita ummat kita maka kita dapati ada beberapa amalan yang dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin secara khusus di bulan ini. Sebagian dari amalan tersebut memiliki dasar yang butuh penjelasan akan hakikatnya dan sebagian lagi tidak memiliki dasar sama sekali. Berikut ini beberapa contoh amalan yang banyak dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin di bulan Rajab beserta penjelasan singkat tentang hukumnya :&lt;br /&gt;1. Umroh di bulan Rajab&lt;br /&gt;Dalil yang digunakan untuk menganjurkan umroh adalah atsar dari Ibnu Umar radhiyallohu anhuma&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَمَرَ أَرْبَعًا إِحْدَاهُنَّ فِي رَجَبٍ&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan umrah sebanyak empat kali. Salah satunya pada bulan Rajab. (HR. Tirmidzi dan dishohihkan oleh Albani).&lt;br /&gt;Atas dasar itu maka Abdullah bin Umar radhiyallohu anhuma mengutamakan umroh di bulan Rajab. Salim bin Abdullah bin Umar mengatakan, “Adalah Abdullah bin Umar menyukai berumroh di bulan Rajab -yang merupakan bulan haram- dari bulan-bulan yang ada dalam setahun” (Atsar ini shohih diriwayatkan oleh Abu Muhammad Hasan Al Khallal dalam Fadhoil Syahr Rajab, no.9)&lt;br /&gt;Namun pendapat ini telah dibantah oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallohu anha; sebagaimana diceritakan oleh tabi’in mulia Mujahid bin Jabr, beliau berkata, Aku dan Urwah bin Zubair masuk ke mesjid Nabawi ternyata ada Abdullah bin Umar yang duduk menghadap kamar Aisyah...kemudia aku bertanya kepada Ibnu Umar, “Berapa kali Rasulullah shallallohu alaihi wasallam berumroh? Beliau menjawab, “Empat kali, salah satunya di bulan Rajab” Mujahid berkata, “Kami tidak suka membantah perkataan beliau, lalu kami mendengar suara siwak Aisyah Ummul Mukminin dari kamar beliau maka Urwah bertanya, “Wahai Ibu,wahai ummul mukminin, apa engkau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Abdirrahman(Ibnu Umar)? Beliau bertanya, “Apa yang beliau (Ibnu Umar) katakan?” Urwah menjawab, “Beliau (Ibnu Umar) berkata sesungguhnya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam telah berumroh empat kali dan salah satunya di bulan Rajab” Aisyah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdirrahman, beliau shallallohu alaihi wasallam tidak pernah berumrah kecuali dia menyaksikannya dan beliau tidak pernah umroh sekalipun di bulan Rajab” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Pernyataan Aisyah radhiyallohu anhu ditarjihkan dan didukung oleh banyak ulama diantaranya Al Allamah Al Muhaqqiq Ibnu Qayyim Al Jauziyah di kitab beliau Zaadul Ma’ad (2/116), bahkan beliau menegaskan kekeliruan orang menyatakan hal itu,wallohu a’lam&lt;br /&gt;2. Menyembelih di bulan Rajab&lt;br /&gt;Mikhnaf bin Sulaim radhiyallohu anhu berkata, kami sedang berwukuf dengan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam di padang Arafah lalu beliau mengatakan,&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَّةً وَعَتِيرَةً أَتَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ هَذِهِ الَّتِي يَقُولُ النَّاسُ الرَّجَبِيَّةُ&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya atas setiap keluarga dalam setiap tahunnya berudhiyyah dan ‘atirah, tahukah kalian apa yang dimaksud dengan ‘Atirah? Ini yang orang menamakannya dengan Rajabiyyah” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud serta dihasankan oleh Albani)&lt;br /&gt;‘Atirah atau Rajabiyyah adalah sembelihan yang dikenal di zaman Jahiliyah dimana mereka melakukannya di sepuluh hari pertama dari bulan Rajab dalam rangka taqarrub kepada Allah. Di zaman Jahiliyyah mereka persembahkan sembelihan tersebut kepada berhala-berhala mereka, kadang didahului dengan nadzar dan kadang tanpa ada nadzar sebelumnya.&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang hukum ‘atirah dalam syariat Islam dan yang rojih insya Allah hukumnya telah mansukh (tidak berlaku lagi) dan ini adalah pendapat mayoritas para ulama sebagaimana yang dinukil oleh imam Nawawi dari al Qadhi ‘Iyadh rahimahumalloh, karenanya imam Abu Daud setelah meriwayatkan hadits di atas beliau menegaskan bahwa hadits ini mansukh hukumnya,wallohu a’lam&lt;br /&gt;Diantara dalil yang menunjukkan bahwa hal ini telah mansukh, sabda Rasulullah shallallohu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa beliau bersabda,&lt;br /&gt;لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ قَالَ وَالْفَرَعُ أَوَّلُ نِتَاجٍ كَانَ يُنْتَجُ لَهُمْ كَانُوا يَذْبَحُونَهُ لِطَوَاغِيَتِهِمْ وَالْعَتِيرَةُ فِي رَجَبٍ&lt;br /&gt;"Tidak ada Fara' dan Atirah. Fara' adalah anak pertama seekor unta yang mereka sembelih untuk sesembahan mereka, dan Atirah adalah hewan (kambing) yang mereka sembelih di bulan Rajab." (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;3. Puasa sunnah&lt;br /&gt;Tidak ada hadits shohih marfu’ yang mengkhususkan puasa sunnah di bulan Rajab, karenanya sebagian dari ulama Salaf diantaranya Ibnu Umar radhiyallohu anhuma, Hasan al Bashri dan Abu Ishaq as Sabi’i rahimahumallohu memperbanyak puasa sunnah di keseluruh bulan haram tanpa mengkhususkannya di bulan Rajab.&lt;br /&gt;Beberapa sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam diantaranya Aisyah, Umar bin Khaththab, Abu Bakrah, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallohu anhum jami’an telah mengingkari orang yang berpuasa penuh di bulan Rajab atau mengkhususkan puasa di bulan Rajab.&lt;br /&gt;Ibnu Sholah rahimahulloh berkata, “Tidak ada hadits shohih yang melarang atau menganjurkan secara khusus berpuasa di bulan Rajab maka hukumnya sama saja dengan bulan lainnya yaitu anjuran berpuasa secara umum”&lt;br /&gt;Imam Nawawi rahimahulloh berkata, “Tidak ada larangan demikian pula anjuran secara khusus untuk berpuasa di bulan Rajab akan tetapi secara umum hukum asal puasa adalah dianjurkan&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahulloh berkata tentang hadits-hadits keutamaan berpuasa dan sholat khusus di bulan Rajab, “Seluruhnya dusta menurut kesepakatan para ulama”&lt;br /&gt;Asy Syaikh Utsaimin rahimahulloh berkata, “Tidak ada keutamaan khusus yang dimiliki oleh bulan Rajab dibandingkan dengan bulan-bulan haram lainnya, tidak dikhususkan umroh, puasa, shalat, membaca al quran bahkan dia sama saja dengan bulan haram lainnya. Seluruh hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan shalat atau puasa padanya maka derajatnya lemah yang tidak boleh dibangun di atasnya hukum syar’i”&lt;br /&gt;4. Sholat Raghaib&lt;br /&gt;Sholat ini jumlah rakaatnya 12 dengan enam kali salam, biasanya dikerjakan setelah shalat Maghrib di Jumat pertama bulan Rajab. Bacaan dalam setiap rakaat setelah surat Al Fatihah adalah surat Al Qadar sebanyak 3 kali dan surat Al Ikhlash sebanyak 12 rakaat. Setelah shalat biasanya mereka bershalawat sebanyak 70 kali lalu mereka berdoa sesukanya. Sholat yang seperti ini tidak diragukan lagi termasuk shalat yang bid’ah karena hadits yang menyebutkannya termasuk hadits palsu sebagaimana yang diterangkan oleh imam Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’aat.&lt;br /&gt;Imam Nawawi berkata, “Para ulama berhujjah dengan larangan mengkhususkan malam Jumat untuk shalat dan puasa sebagai dalil tidak dibencinya shalat bid’ah yang dinamakan dengan shalat raghaib, semoga Allah membinasakan orang yang membuatnya, karena shalat tersebut bid’ah mungkar yang sesat dan tanda kejahilan, di dalamnya terdapat kemungkaran yang jelas. Sekelompok dari para imam telah menyusun tulisan yang berharga dalam menjelaskan keburukannya dan sesatnya orang yang mengerjakan dan melakukan bid’ahnya. Dalil-dali tentang keburukan, kebatilan dan kesesatan pelakunya sangatlah banyak tidak terhingga” (Syarah shohih Muslim)&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Adapun ibadah sholat maka tidak ada dalil shohih yang mengkhususkannya, hadits-hadits yang diriwayatkan tentang keutamaan sholat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab dusta dan batil serta tidak shohih. Sholat raghaib termasuk bid’ah menurut mayoritas para ulama...Bid’ah ini pertama kalinya muncul setelah tahun 400-an hijriyah oleh karena itu para ulama terdahulu tidak mengetahuinya dan tidak membicarakannya” (Lathoif al Ma’arif)&lt;br /&gt;Termasuk bid’ah dalam persoalan shalat di bulan Rajab adalah sholat yang dikerjakan secara khusus di pertengahan bulan Rajab. (lihat al Muadhu’aat oleh Ibnul Jauzi)&lt;br /&gt;5. Peringatan Isra’ dan Mi’raj&lt;br /&gt;Tidak ada hadits-hadits yang shahih yang menentukan kapan sebenarnya terjadi malam Isra’ dan Mi’raj apakah dia di bulan Rajab atau selainnya. Dan setiap hadits yang menentukan waktu terjadinya malam tersebut adalah hadits lemah menurut para ulama hadits. Dan dilupakannya manusia akan waktu terjadinya merupakan hikmah besar yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan sekiranya ada dalil shahih yang menentukan kapan terjadinya Isra’ Mi’raj maka tidak boleh bagi kaum muslimin mengkhususkannya dengan ibadah-ibadah tertentu dan tidak boleh pula merayakannya karena Nabi shallallohu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallohu anhum tidak pernah merayakannya dan tidak pula mengkhususkan malam tersebut dengan sesuatu kegiatan. Seandainya perayaan tersebut disyariatkan tentu Rasulullah shallallohu alaihi wasallam telah menjelaskannya kepada ummatnya, baik dengan perkataan ataupun dengan perbuatan dan seandainya hal itu pernah dilakukan tentu para sahabat akan menukilkan kepada kita karena mereka telah menukil dari Nabi mereka, segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ummat ini dan mereka tidak pernah lalai menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan Ad Dien, bahkan mereka adalah orang-orang yang bersegera kepada setiap kebaikan, maka seandainya memperingati malam tersebut disyariatkan tentu mereka orang yang paling pertama melakukannya. Hudzaifah radhiyallohu anhu berkata : Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah maka jangan kamu beribadah dengannya”. Said bin Jubair rahimahulloh juga telah mengatakan : “ Apa yang tidak dikenal oleh ahli Badar bukanlah bagian dari Ad Dien&lt;br /&gt;Nabi shallallohu alaihi wasallam juga orang yang paling banyak bernasehat kepada manusia dan menyampaikan seluruh risalah ini serta telah menunaikan amanah. Maka seandainya mengagungkan dan merayakan malam tersebut merupakan bagian dari Ad Dien tentu Nabi shallallohu alaihi wasallam telah menyampaikannya dan tidak akan menyembunyikannya. Karenanya ketika hal itu tidak beliau sampaikan, maka diketahuilah bahwa merayakan dan mengagungkannya bukanlah bagian dari Islam sedikitpun, dan Allah Azza wa Jalla telah menyempurnakan bagi ummat ini dien mereka serta mencukupkan nikmat-Nya atas mereka dan Dia mengingkari siapa saja yang membuat syariat yang tidak diizinkan-Nya, sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al Maidah:3&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam jadi agama bagimu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;      Dari pemaparan yang telah disebutkan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa bulan Rajab adalah salah satu diantara bulan-bulan suci yang dihormati, seyogyanya bagi seorang muslim yang mengagungkan Rabbnya memuliakan bulan ini dengan memperbanyak amalan-amalan sholeh dan menghindarkan dirinya dari segala macam yang dilarang dalam syariat berupa maksiat dan lainnya. Tidak ada dalil shohih yang menganjurkan amalan khusus di bulan ini karena itu bagi yang ingin meraih kemuliaan bulan ini, hendaknya mencukupnya dirinya dengan amalan-amalan yang disyariatkan dan jangan melakukan hal-hal baru dalam peribadatan yang menjerumuskan dirinya dalam bid'ah yang justru akan menodai kehormatan bulan ini dan menjadikannya terjatuh dalam dosa besar, Wallohu A'lam wahuwa Waliyyut Taufiq &lt;br /&gt;sumber: http://www.markazassunnah.com/2010/06/ada-apa-dengan-bulan-rajab.html#comment-form&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-137876734981406363?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/137876734981406363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/ada-apa-dengan-bulan-rajab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/137876734981406363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/137876734981406363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/ada-apa-dengan-bulan-rajab.html' title='ADA APA DENGAN BULAN RAJAB ?'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-15077952617878557</id><published>2011-07-16T04:09:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T04:24:54.059-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>Bid’ahnya Perayaan Nifsu Sya’ban</title><content type='html'>Penulis: Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz-rahimahullah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat. Amma ba’du : Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al Maidah, 3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dhalim itu akan memperoleh azab yang pedih.” (QS. Asy-Syuro, 21). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah, Radliyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah bersabda:“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata: bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’at nya: “Amma ba’du: sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah Kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi hadits hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya, Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka, Dia tidak akan mewafatkan Nabi Muhammad kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umatnya, dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Beliau menjelaskan bahwa segala&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; sesuatu yang akan diada adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbatkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid’ah yang ditolak, meskipun niatnya baik.Para Sahabat dan para ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya, hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang penerapan Sunnah dan pengingkaran bid’ah, seperti Ibnu Waddhoh At Thorthusyi dan Asy Syaamah dan lain lain.Di antara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya’ban (tanggal 15 sya’ban, red), dan menghususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu, padahal tidak ada satu pun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits yang menerangkan tentang fadhilah malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dhoif sehingga tidak dapat dijadikan landasan, adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan sholat pada hari itu adalah maudlu/palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, banyak diantara para ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan penghususan puasa dan fadlilah sholat pada hari Nisfu Sya’ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka.Pendapat para ahli Syam di antaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya semuanya lemah, hadits yang lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits yang shohieh, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya’ban tidak ada dasar yang shohih, sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-hadits yang dlo’if. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini, dan kami akan menukil pendapat para ulama kepada para pembaca, sehingga masalahnya menjadi jelas. Para ulama telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul (Al Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu dari padanya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya dan menganggapnya baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An Nisa’:“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesutu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, KepadaNya-lah aku bertawakkal dan kepadaNya-lah aku kembali” (QS. Asy syuro, 10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu ” (QS. Ali Imran, 31). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ” (QS. An Nisa’, 65). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an yang semakna dengan ayat ayat diatas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al Qur’an dan Al Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hal itu adalah konsekwensi iman, dan merupakan perbuatan baik bagi para hamba, baik di dunia atau di akherat nanti, dan akan mendapat balasan yang lebih baik. Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya’ban, Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” : para Tabi’in penduduk Syam (Syiria sekarang) seperti Kholid bin Ma’daan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfi Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan bentuk pengagungan itu dari mereka. Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, ketika masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya, golongan yang menerima adalah ahli Bashrah dan lainnya, sedangkan golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas penduduk Hijaz (Saudi Arabia sekarang), seperti Atho dan Ibnu Abi Mulaikah, dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ulama fiqih Madinah, yaitu ucapan para pengikut Imam Malik dan lain lainnya; mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid’ah, adapun pendapat ulama Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan adanya dua pendapat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1- Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya’ban dalam masjid dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah). Dahulu Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar kemenyan, memakai sipat (celak), dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid, ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih, ia berkata: “Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara berjamaah tidak dibid’ahkan”, keterangan ini dicuplik oleh Harbu Al Karmaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2- Berkumpulnya manusia pada malam Nisfi Sya’ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdoa adalah makruh hukumnya, tetapi boleh dilakukan jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri.Ini pendapat Auza’iy, Imam ahli Syam, sebagai ahli fiqh dan ulama mereka, Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkan pendapat Imam Ahmad tentang malam Nisfu Sya’ban ini, tidak diketahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua riwayat yang menjadi sebab cenderung diperingatinya malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Iedul Fitri dan Iedul Adha), dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, riwayat yang lain berpendapat bahwa memperingati malam tersebut dengan berjamaah disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk Tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula tentang malam nisfu sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan Tabiin ahli fiqh (yuris prudensi) yang di Syam (syiria), demikian maksud dari Al Hafidz Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya). Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfi Sya’ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para Sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat Imam Auza’iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan sholat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al Hafidz Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dloif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil dalil syar’i tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada-adakan dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu maupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi sembunyi ataupun terang terangan, landasannya adalah keumuman hadits Nabi:“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Bakar At Thorthusyi berkata dalam bukunya “Al Hawadits wal bida” : diriwayatkan oleh Wadhoh dari zaid bin Aslam berkata : kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqh kami yang menghadiri perayaan malam nisfu sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul yang dloif, dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam malam lainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Zaid An numairy berkata : “Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya’ban menyamai pahala lailatul qadar, Ibnu Abi Mulaikah menjawab : “Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya pukul, Zaid adalah seorang penceramah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al ‘Allamah Asy Syaukani menulis dalam bukunya “Al Fawaidul Majmuah” sebagai berikut: bahwa hadits yang mengatakan:“Wahai Ali, barangsiapa yang melakukan shalat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya.” Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab “Al Mukhtashor” Syaukani melanjutkan: hadits yang menerangkan tentang sholat Nisfu Sya’ban adalah bathil, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu: jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dloif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku “Allaali” diriwayatkan bahwa: “Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya bahwa itu semua maudlu’ (palsu), dan mayoritas perowinya pada ketiga jalur sanadnya majhul (tidak diketahui) dan dloif (lemah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam As Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan (membaca surat) Al Ikhlas tiga puluh kali itu maudlu’ (palsu), dan hadits empat belas rakaat… dan seterusnya adalah maudlu’ (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para fuqaha (ahli yurisprudensi) banyak yang tertipu dengan hadits hadits diatas, seperti pengarang Ihya Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian dari para ahli tafsir, karena sholat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad, semuanya adalah bathil/tidak benar dan haditsnya adalah maudlu’. Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat Turmudzi dan hadits Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing, karena pembicaraan kita berkisar tentang sholat yang diadakan pada malam Nisfu Sya’ban itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqothi’ (tidak bersambung) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan diatas, mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa sholat (khusus pada) malam itu juga lemah dasar hukumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafidz Al Iraqi berkata: hadits (yang menerangkan) tentang sholat Nisfi Sya’ban itu maudlu dan pembohongan atas diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.Dalam kitab “Al Majmu” Imam Nawawi berkata: shalat yang sering kita kenal dengan sholat Roghoib ada (berjumlah) dua dua belas rakaat, dikerjakan antara maghrib dan Isya’, pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan munkar, tidak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu, hanya karena disebutkan di dalam buku “Quutul qulub” dan “ Ihya Ulumuddin” (Al Ghozali, red) sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan), kita tidak boleh cepat mempercayai orang orang yang tidak jelas bagi mereka hukum kedua hadits itu, yaitu mereka para imam yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits itu, karena ia telah salah dalam hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail Al Maqdisi telah mengarang sebuah buku yang berharga, beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas (tentang malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin, dalam hal ini telah banyak pendapat para ulama, jika kita hendak menukil pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq. Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa hadits, serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa, itu semua adalah bid’ah dan munkar, tidak ada landasan dalilnya dalam syariat Islam, bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, marilah kita hayati ayat Al Qur’an di bawah ini: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas, selanjutnya marilah kita hayati sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka ia tertolak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum’at dari pada malam malam lainnya dengan sholat tertentu, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya dari pada hari-hari lainnya dengan berpuasa tertentu, kecuali jika hari bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa (bukan puasa khusus tadi)” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pengkhususan malam itu dengan ibadah tertentu diperbolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum’at itu lebih baik dari pada malam malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari oleh matahari? hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shohih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu dari pada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lainpun lebih tidak boleh dihususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shohih yang mengkhususkan/menunjukkan adanya pengkhususan, ketika malam Lailatul Qadar dan malam malam bulan puasa itu disyariatkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, maka Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih:“Barangsiapa yang berdiri (melakukan sholat) pada bulan Ramadlan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosanya yang telah lewat, dan barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada malam lailatul qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alaih). Jika seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama pada bulan Rajab, serta malam isra’ dan mi’raj itu diperintahkan untuk dikhususkan, dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, atau beliau melaksanakannya sendiri, jika memang hal itu pernah terjadi niscaya telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan paling banyak memberi nasehat setelah para Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pendapat para ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari sini kita mengetahui bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid’ah yang diada adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan malam tersebut dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar, sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dihususkan dengan ibadah ibadah tertentu, selain tidak boleh dirayakan dengan upacara upacara ritual, berdasarkan dalil dalil yang disebutkan tadi. Hal ini, jika (malam kejadian Isra’ dan Mi’raj itu) diketahui, padahal yang benar adalah pendapat para ulama yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra’ dan Mi’raj secara tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omongan orang bahwa malam Isra’ dan Mi’raj itu pada tanggal 27 Rajab adalah bathil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits yang shahih, maka benar orang yang mengatakan:“Sebaik-baik perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para Salaf, yang telah mendapatkan petunjuk dan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada adakan berupa bid’ah bid’ah” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahlah tempat bermohon untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten kepada ajarannya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah lah Maha Pemberi dan Maha Mulia. Semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba-Nya dan RasulNya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya, Amien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip dari الحذر من البدع Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia dalam Majmu’ Fatawa Samahat al-Shaykh ‘Abdul-‘Aziz ibn Baz, 2/882. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”.). &lt;br /&gt;di copas dari:&lt;br /&gt; http://sunniy.wordpress.com/2007/08/18/bidahnya-perayaan-nifsu-syaban/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-15077952617878557?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/15077952617878557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/bidahnya-perayaan-nifsu-syaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/15077952617878557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/15077952617878557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/bidahnya-perayaan-nifsu-syaban.html' title='Bid’ahnya Perayaan Nifsu Sya’ban'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-2049583650884673028</id><published>2011-07-16T02:59:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T03:07:44.898-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-N38JexqWch8/TiFilDD4MPI/AAAAAAAAAGc/uqmwTWDV8zI/s1600/268513_231596350195763_100000362008393_787146_1347495_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 261px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-N38JexqWch8/TiFilDD4MPI/AAAAAAAAAGc/uqmwTWDV8zI/s400/268513_231596350195763_100000362008393_787146_1347495_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629889397806084338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-2049583650884673028?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/2049583650884673028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/2049583650884673028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/2049583650884673028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/blog-post.html' title=''/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-N38JexqWch8/TiFilDD4MPI/AAAAAAAAAGc/uqmwTWDV8zI/s72-c/268513_231596350195763_100000362008393_787146_1347495_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-4444294248082257685</id><published>2011-07-15T05:45:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T06:05:53.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqafah Islamiyyah'/><title type='text'>Begini Seharusnya Menyambut Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-89GYoFpTN08/TiA6rXBjcTI/AAAAAAAAAGU/umsNTGxRqZw/s1600/gambar-ramadhan-2.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 223px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-89GYoFpTN08/TiA6rXBjcTI/AAAAAAAAAGU/umsNTGxRqZw/s320/gambar-ramadhan-2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629564050802438450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya  seorang tamu yang Anda cintai dan Anda muliakan menghubungi Anda, dan mengabarkan bahwa dia akan datang kepada Anda, dan akan tinggal bersama Anda selama beberapa hari, maka tentu Anda akan senang dan bahagia. Karenanya, Anda akan bersiap-siap untuk menyambut kunjungannya. Anda melakukan apa yang Anda sanggupi, mulai dari menyiapkan diri sendiri, menata rumah dan mempersiapkan acara bagi tamu agung itu selama Anda menjamunya.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana menurut Anda jika tamu yang datang ini ternyata bukan hanya Anda yang mencintainya, bahkan dia &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; kecintaan Allah dan Rasul-Nya  serta seluruh kaum muslimin? Bagaimana jika tamu ini membawa kebaikan dan keberkahan?&lt;br /&gt;Tamu yang mulia itu adalah bulan Ramadhan. Bulan Qur’an dan puasa, bulan tahajjud dan tarwih, bulan kesabaran dan ketakwaan, bulan rahmat. Pengampunan dan pembebasan dari api neraka. Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang diborgol padanya setan. Ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu-pintu surga. Kita memohon kepada Allah  untuk mendapatkan keutamaan bulan tersebut. Bulan yang digandakan padanya kebaikan dan ketaatan. Bulan yang di dalamnya terdapat pahala-pahala yang agung dan keutamaan-keutamaan yang besar.&lt;br /&gt;Inilah tamu agung kita. Karenanya, kita perlu menyambutnya dengan sambutan yang sebaik-baiknya. Bersiap menyambutnya dalam bentuk amaliyah agar meraih manfaat yang sangat agung, sehingga keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan ruhnya telah suci dan jiwanya telah bersih. Firman Allah &lt;br /&gt;“Sangat beruntunglah orang-orang yang membersihkan jiwanya”  (QS. As Syams: 9).&lt;br /&gt;Sayangnya, jika Anda perhatikan keadaan dunia Islam dalam menyambut bulan Ramadhan, Anda akan dapati mereka menyambutnya dengan hal-hal yang kebanyakan bertentangan dengan syariat Allah .&lt;br /&gt;Allah  berfirman (artinya),&lt;br /&gt;“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”. (QS. Yusuf:103)&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang menyambutnya dengan perayaan-perayaan, konser-konser musik, dan sebagainya. Ada yang menyambutnya dengan mempersiapkan tayangan sinetron-sinetron sepanjang Ramadhan. Mereka menyebutnya sinetron dan film-film islami, tapi sebenarnya di dalamnya terdapat banyak hal terlarang untuk dipertontonkan. Sebagian yang lain menyambutnya dengan berdesak-desakan di pasar. Membeli aneka macam makanan dan minuman.&lt;br /&gt;Amat sayang, bulan yang seharusnya disambut dengan taubat, amal shaleh dan bersyukur kepada Allah  dengan hati, lisan dan seluruh anggota tubuh, diganti dengan memperbanyak jenis makanan dan minuman. Seakan-akan, Ramadhan adalah bulan makan, minum, dan tidur di siang hari serta begadang pada malam hari dengan kesia-siaan. Padahal Rasulullah  bersabda,&lt;br /&gt;“Sejelek–jelek umatku adalah yang dikenyangkan dengan kenikmatan yaitu mereka yang memakan aneka macam makanan.” (HR. Baihaqi, hadits hasan).&lt;br /&gt;Ini hanya secuil dari sekian banyak fenomena yang terjadi pada kaum muslimin yang bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad . Kepada saudara-saudara kita tersebut, kita ingatkan firman Allah  (artinya),&lt;br /&gt;“Sesungguhnya petunjuk Allah adalah sebenar-benarnya petunjuk”  (QS. al-Baqarah : 120).&lt;br /&gt;Bagaimana Seharusnya Menyambut Ramadhan&lt;br /&gt;1. Berdoa&lt;br /&gt;Yaitu berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf. Demikian pula memohon kepada Allah pertolongan-Nya dalam melaksanakan puasa, shalat dan amalan-amalan shaleh lainnya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;2. Bersuci dan membersihkan diri.&lt;br /&gt;Yang dimaksudkan di sini adalah kebersihan yang sifatnya maknawi, yaitu taubat nashuha dari segala dosa dan maksiat,  meskipun sebenarnya hal ini wajib di setiap waktu.&lt;br /&gt;Kepada saudara-saudara kita yang saat ini masih bergelimang dalam kemaksiatan, kita ingatkan:&lt;br /&gt;Bagaimana pantas Anda menyambut hadiah Allah  kepada Anda sedangkan Anda dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya?&lt;br /&gt;Bagaimana Anda berpuasa dan berbuka dengan barang-barang yang haram ?&lt;br /&gt;Wahai yang meninggalkan shalat, bagaimana mungkin puasa Anda diterima sedangkan Anda meninggalkan rukun yang kedua, yang mana orang yang meninggalkannya, tidak akan diterima seluruh amal-amalnya?&lt;br /&gt;Wahai para pemakan riba, suap, dan harta haram lainnya, bagaimana Anda menahan diri (berpuasa) dari segala yang mubah (makan dan minum) lalu berbuka dengan sesuatu yang  haram?&lt;br /&gt;Wahai anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, bagaimana jiwa Anda bisa tenang berpuasa,  padahal malaikat Jibril  telah mendoakan kejelekan bagi Anda dan telah diaminkan oleh Nabi !&lt;br /&gt;Wahai yang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan hal-hal yang haram, bagaimana anda mengharapkan puasa Anda diterima dan bermanfaat, padahal Anda dalam keadaan seperti ini? Belumkah Anda mendengar sabda Nabi ,&lt;br /&gt; مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ &lt;br /&gt;“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah  kepentingan terhadap puasanya (yang sekedar meninggakan makan dan minum)”  (HR. Bukhari).&lt;br /&gt;Dan sabda beliau  yang lain&lt;br /&gt; رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ &lt;br /&gt;“Boleh jadi orang yang berpuasa namun bagian yang didapatkannya hanyalah lapar dan haus” (HR. Ahmad, hadits shahih).&lt;br /&gt;Maka marilah kita bertaubat dengan taubat yang benar dan nasuha, karena Alhamdulillah pintu taubat senantiasa terbuka. Taubat bukanlah sekadar meninggalkan dosa-dosa, namun taubat yang hakiki adalah kembali kepada Zat Yang Mahamengetahui yang gaib Jalla Wa ‘Alaa dengan jiwa dan raga. Allah   berfirman (artinya),&lt;br /&gt;“Maka segeralah kamu kembali kepada (menaati) Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50).&lt;br /&gt;3. Mempersiapkan jiwa untuk menyambut bulan puasa&lt;br /&gt;Perbanyak puasa di bulan Sya’ban semampu Anda. Demikian pula amal-amal shaleh lainnya, karena bulan Sya’ban adalah bulan yang diangkat padanya amalan-amalan kepada Allah . Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Usamah bin Zaid  yang diriwayatkan oleh Nasaai dan Ibnu Khuzaimah serta dihasankan oleh al-Albani, bahwasanya Rasulullah  berpuasa penuh pada bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa pada bulan tersebut.&lt;br /&gt;4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan dan mengenal petunjuk Nabi  sebelum memasuki Ramadhan&lt;br /&gt;Pelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang membatalkannya, hukum berpuasa di hari syak, perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti mengadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita berilmu sebelum memahami dan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah  (artinya),&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu.” (QS. Muhammad:19)&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini Allah  mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat. Rasulullah  bersabda,&lt;br /&gt;مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ&lt;br /&gt;“Barang siapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan kepadanya, maka Allah memahamkannya dalam ilmu ad-Diin.” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;5. Mengatur dengan sebaik-baiknya program bagi tamu yang agung ini dengan mempersiapkan program untuk diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang kita cintai demi memanfaatkan bulan yang mulia ini sebaik-baiknya, seperti membaca, mempelajari dan menghafal al-Qur’an, qiyamul lail, memberikan buka bagi orang-orang yang berpuasa, umrah, i’tikaf, sedekah, zikir, tazkiyatun nafs dan berbagai jenis ketaatan yang lain.&lt;br /&gt;Ya Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan bantulah kami dalam berpuasa, shalat tarawih dan amal shaleh lainnya. Ya Allah, teguhkanlah kami dalam ketaatan hingga kami berjumpa dengan-Mu, sesungguhnya Engkau Mahamendengar lagi Mahamengabulkan permohonan. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;Shalawat Allah dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad , keluarga beliau dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdillah&lt;br /&gt;Maraji’: Lembaran dakwah yang ditulis oleh Abu Mush’ab Riyadh bin Abdir Rahman Al-Haqiil dengan beberapa perubahan dari redaksi&lt;br /&gt;di copas dari : http://stibamakassar.wordpress.com/2011/07/15/begini-seharusnya-menyambut-ramadhan/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-4444294248082257685?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/4444294248082257685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/begini-seharusnya-menyambut-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/4444294248082257685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/4444294248082257685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/begini-seharusnya-menyambut-ramadhan.html' title='Begini Seharusnya Menyambut Ramadhan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-89GYoFpTN08/TiA6rXBjcTI/AAAAAAAAAGU/umsNTGxRqZw/s72-c/gambar-ramadhan-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-8861418600144441480</id><published>2011-07-15T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T05:36:21.137-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tsaqfah Islamiyyah'/><title type='text'>Seputar Bulan Syaban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-aqET-jlKkLE/TiAz8N2uHKI/AAAAAAAAAGE/QuWx_ySKuwU/s1600/moodflow_7.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-aqET-jlKkLE/TiAz8N2uHKI/AAAAAAAAAGE/QuWx_ySKuwU/s320/moodflow_7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629556643817462946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaum di bulan Sya’ban&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa asatu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai. Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:&lt;br /&gt;Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.&lt;br /&gt;3.Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan –sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa pada Akhir bulan Sya’ban&lt;br /&gt;Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri –meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini dibenci (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah serta berbaring-baring sesaat sesudahnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).&lt;br /&gt;Barangkali sebagian orang yang jahil mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu. Wallahu ta’ala a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’: Lathaaiful Ma’arif fi ma Limawasimil ‘Aami minal Wadhaaif, Ibnu Rajab Al-Hambali.&lt;br /&gt;Al-Ilmam bi Syai’in min Ahkamish Shiyam, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diterjemahkan dari artikel berjudul Haula Syahri Sya’ban di www.islam-qa.com oleh Abu Abdurrahman Umar Munawwir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://www.perpustakaan-islam.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=255:seputar-bulan-syaban&amp;catid=39:fikih&lt;br /&gt;juga di copas dari : http://stibamakassar.wordpress.com/2011/07/08/seputar-bulan-syaban/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-8861418600144441480?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/8861418600144441480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/seputar-bulan-syaban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8861418600144441480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/8861418600144441480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/seputar-bulan-syaban.html' title='Seputar Bulan Syaban'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-aqET-jlKkLE/TiAz8N2uHKI/AAAAAAAAAGE/QuWx_ySKuwU/s72-c/moodflow_7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-5651047544096836103</id><published>2011-07-15T04:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T05:02:11.580-07:00</updated><title type='text'>24 Kelemahan Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BIWDLz2l9ms/TiAsEdCHCFI/AAAAAAAAAF0/7bzAT4VREZk/s1600/Sejarah-Berdarah-Sekte-Salafi-Wahabi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 184px; height: 269px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-BIWDLz2l9ms/TiAsEdCHCFI/AAAAAAAAAF0/7bzAT4VREZk/s400/Sejarah-Berdarah-Sekte-Salafi-Wahabi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629547989237696594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;24 Kelemahan Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah artikel yang telah ditranslasikan dari rekaman ceramah bedah buku yang berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama” yang pernah disampaikan oleh Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA pada kajian sabtu malam di Masjid Darul Ulum SMA 11 Yogyakarta. Sebelum menyampaikan bedah buku ini, Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA juga telah diminta untuk membedah buku yang sama di Jakarta. Acara tersebut diselenggarakan oleh Kementrian Agama Bidang Litbang. Pada acara tersebut dihadiri oleh tiga orang pembicara diantaranya, Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. M.A, DR. Harpandi selaku Rektor Universitas Al-Aqidah Jakarta, Abdul Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diberi pengantar oleh Prof. DR. KH Said Aqil Siradj, MA yang merupakan ketua umum PBNU. Dalam pengantarnya disampaikan bahwa buku ini adalah sebuah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; sebuah buku yang secara ilmiah menguak kebenaran ramalan Rasululloh Shalallahu Alaihi wa Salam melalui sabdanya, akan lahir dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tapi tidak sampai melewati batas tenggorokan, mereka keluar dari agama seperti anak panah tembus keluar dari badan binatang buruan, mereka memerangi orang Islam namun membiarkan para penyembah berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang membuat buku ini semakin tersebar juga karena adanya testimoni dari beberapa tokoh diantaranya Arifin Ilham yang telah menyampaikan bahwa rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini agar anak-anak mereka juga turut membacanya untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus, Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian testimoni lain juga hadir dari Ketua MUI Ma’ruf Amin yang menyampaikan bahwa buku ini layak dibaca oleh siapapun, beliau berharap setelah membaca buku ini seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan dan adil dalam menyikapi permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini cukup laris karena telah dicetak sebanyak 7 kali cetakan dalam tahun 2011 ini. Ustadz Ridwan Hamidi menyampaikan pula bahwa masih terbuka lebar untuk membuat sanggahan dalam bentuk buku, tulisan dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Ridwan Hamidi menyampaikan beberapa kelemahan yang terdapat dalam buku ini, yang pertama dari sisi penulisnya. Penulis buku ini adalah Syaikh Idahram dan penulis ini adalah majhul (tidak dikenal). Semua pembicara dan termasuk yang hadir pada acara bedah buku sebelumnya di Jakarta baik dari kalangan perguruan tinggi, ormas-ormas Islam kemudian dari beberapa pesantren juga sudah mencoba mencari dan tidak menemukan nama sang penulis. Ustadz Ridwan Hamidi juga menjelaskan bahwa nama ini sepertinya adalah nama samaran atau nama pena. Bisa beberapa kemungkinan seperti “Marhadi” (dibalik dari kata idahram) atau “Rahmadi” (hasil rangkaian kata dari idahram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kedua adalah tidak konsisten dalam tujuan penulisan buku ini (terdapat dibagian pengantar buku). Disampaikan bahwa buku ini ditulis bukan untuk memperbesar jurang dan perpecahan tersebut melainkan untuk memperbaiki keadaan yang tidak nyaman itu dan meluruskan apa yang seharusnya diluruskan dengan cara menyingkap kekeliruan-kekeliruan pemahaman kaum salafi wahabi yang sangat tersembunyi dan hampir tidak pernah disadari oleh para pengikutnya dan bahkan tokoh-tokohnya sekalipun. Itu adalah keinginan dari penulis akan tetapi sebaliknya buku tersebut justru memunculkan masalah-masalah baru karena jurang yang muncul bertambah semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang ketiga ialah dalam definisi salaf, salafi dan seterusnya. Pada tidak lebih dari lima halaman awal sumber rujukan dari pendefinisian cukup bagus akan tetapi pada halaman-halaman selanjutnya menjadi tidak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keempat ialah kesalahan dari sisi penulisan dan pencetakan seperti kesalahan dalam penyebutan pencetakan Kamus Lisanul Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kelima ialah klaim yang terlalu cepat membuat hukum, vonis dengan kalimat bahwa tidak ada satupun riwayat shohih yang menerangkan bahwa ada diantara para sahabat Nabi, ulama salaf, ulama mujtahid (Imam 4 Mahdzab seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad) yang menyampaikan bahwa mereka adalah kelompok salafi. Dan tentu ini perlu dicek ulang dan diklarifikasi dengan melihat beberapa riwayat yang disampaikan oleh beberapa ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keenam buku tersebut menyatakan bahwa Syaikh Nashiruddin Al-Albani yang pertama kali mempopulerkan istilah salafi ini. Dan tentu ini merupakan kekeliruan. Kalau dikarenakan kita sering baca buku beliau dan tidak membaca buku dari ulama lain mungkin bagi sebagian orang akan begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang ketujuh penulis sepertinya merasa sakit hati dengan Syaikh Nashiruddin Al-Albani (Syaikh Al-Albani) sehingga menggunakan bahasa-bahasa yang provokatif dan menghujat. Sebagai contoh dengan menyebutkan bahwa Syaikh Al-Albani “mengaduk-aduk hadits”. Syaikh Al-Albani dikatakan sebagai pendatang baru di ranah wahabi dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kedelapan ketidakpahaman penulis dalam menterjemahkan bahasa Arab atau ketidakpahaman dalam memahami konteks kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kesembilan ketidakpahaman penulis dalam memahami biografi dan sejarah Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab sehingga yang ada adalah klaim subjektif. Sebagai contoh dengan mengatakan secara tersirat bahwa ilmu agama Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab cetek dan semisalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kesepuluh kesalahan penulis dengan berusaha menghubung-hubungkan bahwa nabi-nabi palsu termasuk Musailamah Al-Kadzab dari Bani Tamim dan termasuk juga Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab juga dari Bani Tamim sehingga saling berhubungan. Jika hal ini masuk dalam kaidah salah dan benar sebuah pemahaman tentu banyak sekali orang-orang yang bisa masuk ke dalam kaidah tersebut. Seperti sebagai contoh Abu Lahab. Abu Lahab memiliki seorang putra bernama Ikrimah dan ini jelas sangat dekat hubungannya (hubungan keturunan). Akan tetapi Abu Lahab musuh Islam sedangkan Ikrimah adalah sahabat Nabi. Apalagi jika dibandingkan antara Musailamah dengan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab tentu sangat jauh sekali. Musailamah di abad keberapa dan Syaikh Muhammad Ibn Abdul Wahab di abad keberapa. Ini benar-benar tidak nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kesebelas ialah tambahan terjemahan ketika menukil dari buku. Sebagai contoh dengan menambahkan kata-kata “pengkafiran-pengkafiran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduabelas ialah kesalahan dalam harokat. Dalam bahasa Arab kesalahan dalam harokat berakibat dalam kesalahan arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang ketigabelas ialah kesalahan dalam nukilan-nukilan sejarah yang diambilkan dari buku dan tidak dijelaskan siapa penulis buku sejarah tersebut. Apakah dia pakar sejarah atau sekedar orang yang menulis saja. Dan buku-buku sejarah yang tidak jelas memang semangat untuk menghabisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keempatbelas ialah kesalahan yang fatal karena tidak memberikan kriteria atau pemetaan seperti dalam pembagian istilah salafi. Penulis menyebutkan terdapat dua faksi dalam salafi, salafi haroki dan salafi yamani. Pembagian yang disampaikan oleh penulis sangat tidak jelas karena tidak ada pembatasan dalam pembagian tersebut. Sebagai contoh apakah penyebutan salafi yamani itu karena dari yaman ?. Jika demikian berarti ada istilah salafi saudi dan salafi daerah lain. Itu jika memang merujuk berdasarkan daerah atau negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kelimabelas ialah kesalahan dalam penukilan riwayat keturunan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Beliau dikatakan berasal dari keluarga habaib. Di dalam buku ke-Muhammadiyah-an tidak pernah diajarkan bahwa beliau berasal dari keluarga habaib. Tentu ini adalah masalah yang janggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keenambelas adalah kesalahan dalam metodologi. Tidak ada metodologi yang jelas dalam membuat kriteria seseorang disebut salafi atau wahabi. Apa batasan dari wahabi ?. Definisi dari wahabi itu apa ?. Sebagai contoh orang yang tidak mau tahlilan maka disebut sebagai wahabi. Jika ini menjadi sebuah kaidah maka banyak sekali yang disebut sebagai wahabi. Muhammadiyah tidak tahlilan berarti wahabi, PERSIS tidak tahlilan berarti wahabi, Al-Irsyad tidak tahlilan berarti wahabi, Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) tidak tahlilan berarti wahabi. Apakah benar demikian ?. Jika tidak maka batasan yang jelas itu apa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang ketujuhbelas adalah kesalahan dalam istilah wahabi. Batasan saja sudah tidak jelas maka istilah wahabi juga tidak jelas.&lt;br /&gt;Ustadz Ridwan Hamidi juga menjelaskan bahwa daftar nama-nama yang disebut salafi wahabi yang ada di buku merupakan daftar nama-nama yang pernah dipresentasikan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) di depan PP Muhammadiyah dan PBNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kedelapanbelas adalah tidak akurat dalam pendataan. Sebagai contoh data-data alamat ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah juga mengalami kesalahan. Dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang kesembilanbelas adalah kesalahan dalam memahami teks dan pemahaman yang sempit dari penulis. Buku ini ingin menggambarkan bahwa salafi wahabi memiliki aqidah takfir (orang yang beda pemahaman dengan mereka maka kafir). Sebagai contoh jika ditemukan kata-kata “halal darahnya” dan semisalnya maka cepat-cepat penulis langsung menyatakan bahwa ini adalah takfir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduapuluh adalah kesalahan dalam informasi daftar makam yang dihancurkan oleh kaum salafi wahabi. Sebagai contoh pemakaman di Ma’la. Maksud dihancurkan itu seperti apa juga tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduapuluhsatu adalah kesalahan dalam menyebutkan hadits. Takhrij hadits disebutkan lengkap walaupun penyebutan takhrij tidak standar. Hal ini membuktikan penulis tidak menguasai ilmu hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduapuluhdua adalah kesalahan dalam penafsiran hadits. Penafsiran bukan dari ulama tapi dari penulis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduapuluhtiga dalam membuat sebuah rujukan berpaku pada satu sumber. Sebagai contoh penulis menyebutkan bahwa terdapat fatwa-fatwa nyleneh salafi wahabi. Sumber tersebut terdapat pada satu situs. Dalam metode ilmiah maka hal ini menjadi tidak ilmiah karena harusnya nukilan diambil dari sumber aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan yang keduapuluhempat adalah kesalahan dalam metode fatwa. Penulis tidak menyampaikan secara lengkap dalam menukil fatwa. Seperti pertanyaan dari si penanya yang menanyakan fatwa yang bersangkutan. Karena bisa jadi fatwa-fatwa yang ada diambil karena satu kasus-kasus khusus dan kasus-kasus tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang lain dari buku tersebut. Kesimpulan dari bedah buku sebelumnya di Jakarta sepakat dari ketiga pembicara bahwa buku ini buku yang tidak layak disebarkan dan bukan termasuk buku yang ilmiah. Buku ini tidak layak dibaca dan buku ini gagal untuk mematahkan argumen-argumen dalam mengkritisi paham salafi (atau menurut istilah mereka, wahabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lengkap dapat mendengarkan rekaman ceramah Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. MA di http://kajian.belajarislam.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.belajarislam.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-5651047544096836103?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/5651047544096836103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/24-kelemahan-buku-sejarah-berdarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5651047544096836103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5651047544096836103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/24-kelemahan-buku-sejarah-berdarah.html' title='24 Kelemahan Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BIWDLz2l9ms/TiAsEdCHCFI/AAAAAAAAAF0/7bzAT4VREZk/s72-c/Sejarah-Berdarah-Sekte-Salafi-Wahabi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-5283440194991365915</id><published>2011-07-14T23:41:00.000-07:00</published><updated>2011-07-14T23:56:32.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aliran Sesat'/><title type='text'>Syi'ah Agama Tersendiri</title><content type='html'>Syi’ah Agama Tersendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan mencampuradukkan berbagai madzhab ataupun pendekatan madzhab ataupun madzhab lima mengandung makna bahwa Syi’ah itu seakan madzhab dalam Islam. Namun dalam pengkajian Abdul Hakim Abdad, dalam seminar di Bogor 1996 dan bahkan dalam seminar di Masjid Istiqlal Jakarta 1997, Syi’ah itu bukan madzhab dalam Islam, tapi agama tersendiri, maka disebut sebagai agama Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bukti-bukti mengkafirkan para shahabat Nabi Muhammad SAW , Syi’ah memang sangat fatal sekali penyimpangannya di bidang akidah, dan tidak sedikit sekte syi’ah yang menuhankan Sayyidina Ali. Hampir setiap meninggalnya imam mereka, ada sekte yang menganggap imamnya tidak meninggal. Sebaliknya ada juga sekte Syi’ah yang justru mengkafirkan Ali karena mau berdamai dengan Mu’awiyah ataupun membaiat Abu Bakar. Sedang Syi’ah Itsna ‘Asyariyah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; yang menjadi mayotitas kini dalam persyi’ahan, mempercayai imamnya yang ke-12 itu ghaib, hilang waktu kecil, dan nantinya akan muncul sebagai Imam Mahdi. Ini dampaknya amat luas bagi akidah Islam, padahal menurut WAMY, imam ke-12 itu sendiri adalah fiktif. Namun di Bangil Jawa Timur, Husein Al-Habsyi membuat buku tentang Jum’at Menurut Ahli Bait, yang isinya tidak wajib berjumatan selama belum ada Imam Mahdi.&lt;br /&gt;Mendiang tokoh Syi’ah Bangil itu meresahkan umat Islam, namun kegiatannya diteruskan oleh anaknya, Hidayat, yang mengajari Syi’ah kepada orang dari luar Bangil di rumahnya. Karena ajarannya itu meresahkan masyarakat, maka Oktober 1997 lalu Hidayat digrebeg oleh pemuda-pemuda Islam ketika sedang mengajari Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus bentrokan fisik sampai pukul-pukulan pun pernah terjadi sebelumnya antara Hidayat (Syi’ah) dan Hasan (Sunni) sampai ke polisi dan ke pengadilan. Hal yang hampir sama terjadi pula di Pasuruan, Jawa Timur Oktober 1997. Keresahan di masyarakat akibat penyebaran Syi’ah itu tampak nyata, karena bentrokan pun sampai ada penghancuran rumah. Sehingga sebenarnya lengkaplah keresahan masyarakat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam pembukaan seminar Syi’ah di Masjid Istiqlal 1997, KH. Hasan Basri, Ketua Umum MUI mengadu bahwa Syi’ah itu meresahkan batin umat Islam, maka kini terbukti, keresahan itu bukan hanya batin tetapi lahir dan batin. Terbukti panasnya suasana bentrok fisik dan penghancuran bangunan terjadi di Bangil dan Pasuruan Jawa Timur.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara Ahlussunnah Wal Jamaah dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah Khilafiyah Furu’iyyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyyah, antara Madzhab Syafi’I dengan Madzhab Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syi’ah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyyah sekarang bisa diadakan perdekatan-perdekatan demi Ukhuwah Islamiyyah, lalu antara Syi’ah dan Sunni tidak dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di saat Muslimin bangun melawan serangan Syi’ah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka akan hakekat ajaran Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syi’ah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syi’ah seperti perbedaan antara Madzhab Syafi’I dengan Madzhab Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dan Madzhab Syafi’i hanya dalam masalah furu’iyah, sedangkan perbedaan antara Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan Syi’iah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaan di samping dalam furu’ juga dalam ushul.&lt;br /&gt;Rukun iman mereka berbeda dengan rukun iman kita. Rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab- kitab Haditsnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama’-ulama’ Syi’ah bahwa al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Alqur’an kita (Ahlussunnah).&lt;br /&gt;Apabila ada dari ulama mereka yang pura–pura (Taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sanggat berbeda dan berlainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Wal Jamaah mengatakan : Bahwa Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah dengan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ahlussunnah: Rukun Islam kita ada 5 (lima):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) asy-Syahadatain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) as-Sholah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) as-Shoum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) az-Zakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) al-Hajj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Rukun Islam Syi’ah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) as-Sholah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) as-Shoum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) az-Zakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) al-Haj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) al-Wilayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ahlussunnah: Rukun Iman ada 6 (enam):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Iman Kepada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Iman kepada Malaikat-malaikat-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Iman Kepada Kitab-kitab-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Iman Kepada Rasul-rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Iman Kepada Yaum al-Akhir/Hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Iman Kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ahlussunnah: Dua kalimat Syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Tiga kalimat Syahadat. Disamping Asyhadu An Laailaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ahlussunnah: Percaya kepada imam- imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam , sampai Hari Kiamat. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.&lt;br /&gt;Syi’ah: Percaya terhadap imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syi’ah dianggap kafir dan akan masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ahlussunnah: Khulafaurrasyidin yang diakui (sah) adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Abu Bakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Utsman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Ali Radhiyallahu Anhum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syi’ah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ahlussunnah: Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat ma’shum. Berarti mereka dapat berbuat salah/dosa/lupa, Karena sifat ma’shum hanya dimiliki oleh para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Para Imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat ma’shum, seperti para Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ahlussunnah: Dilarang mencaci-maki para Shahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Mencaci-maki para Shahabat tidak apa-apa bahkan Syi’ah berkeyakinan, bahwa para shahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para shahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.&lt;br /&gt;8. Ahlussunnah: Siti Aisyah istri Rasulluah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Ahlussunnah: Kitab-kitab Hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Bukhori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Abu Dawud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Turmudzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Ibnu Majah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) an-Nasa’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kitab-kitab tersebut beredar di mana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Kitab-kitab rujukan Syi’ah ada empat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) al-Kaafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) al-Istibshor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) at-Tahdziib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syi’ah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Ahlussunnah: Al-Qur’an tetap orisinil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syi’ah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para Shahabat (dikurangi dan ditambahi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Ahlussunnah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;Syi’ah: Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali. Walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Ahlussunnah: Akidah Raj’ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok di hari akhir zaman sebelum Kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Raj’ah adalah salah satu akidah Syi’ah. Dimana diceritakan bahwa nanti di akhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimmah, serta Ahlul Bait yang lain. Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali, Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.&lt;br /&gt;Keterangan: Orang Syi’ah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Ahlussunnah: Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syi’ah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syi’ah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Ahlussunnah: Khamer/ Arak tidak suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Khamer/ Arak suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Ahlussunnah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Ahlussunnah: Di waktu Shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.&lt;br /&gt;Syi’ah: Di waktu Shalat meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri membatalkan Shalat. (jadi Shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syi’ah dihukumi tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).&lt;br /&gt;17. Ahlussunnah: Mengucapkan Amin di akhir Surat al-Fatihah dalam Shalat adalah sunnah.&lt;br /&gt;Syi’ah: Mengucapkan “Amin” di akhir Surat al-Fatihah dalam Shalat dianggap tidak sah/batal Shalatnya. (jadi Shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan “Amin” dalam Shalatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Ahlussunnah: Shalat Jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur Syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah: Shalat Jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Ahlussunnah: Shalat Dhuha disunnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syi’ah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan. (padahal semua Auliya’ dan Shalihin melakukan Shalat Dhuha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara akidah Ahlussunah Wal Jamaah dan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.&lt;br /&gt;Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang terpenting dari keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunah Wal Jamaah dan akidah Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushul (pokok/dasar agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila tokoh-tokoh Syi’ah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syi’ah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syi’ah adalah orang-orang yang tersesat, yang ditipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunah dengan Syi’ah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syi’ah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golangan Syi’ah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syi’ah di daerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami mengharap kepada aparat pemerintah untuk lebih peka dalam menangani masalah Syi’ah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terulang di Negara kita.&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syi’ah dan akidahnya. Amin.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Dari buku H. Muhammad Najih Maimoen berjudul Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU Informasi, Penyimpangan dan Jawabannya, postingan www.burhaanms.co.cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(nahimunkar.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Aliran dan Paham Sesat di Indoneasia. Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2002, halaman 134.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-5283440194991365915?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/5283440194991365915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/syiah-agama-tersendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5283440194991365915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5283440194991365915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/syiah-agama-tersendiri.html' title='Syi&apos;ah Agama Tersendiri'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-853950814105697559</id><published>2011-07-12T15:17:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T05:22:04.321-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>Daurah Penyaringan Mahasiswa Univ. Islam Madinah 1432</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EVQd49VGYpg/TiAwNWOSU-I/AAAAAAAAAF8/9RhEfTfVUA8/s1600/universitas-islam-madinah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EVQd49VGYpg/TiAwNWOSU-I/AAAAAAAAAF8/9RhEfTfVUA8/s400/universitas-islam-madinah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629552540075054050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Daurah Penyaringan Mahasiswa Univ. Islam Madinah 1432&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus Universitas Islam Madinah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini kami sampaikan kabar gembira bahwa daurah Universitas Islam Madinah UIM akan kembali mengunjungi Indonesia tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serambimadinah.com mendapatkan informasi dari Pimpinan Daurah Indonesia, Prof. Dr. Ibrahim bin Ali al-’Ubaid bahwa daurah tahun ini insya Allah akan dimulai pada hari Rabu, 12 Sya’ban 1432 H di tiga tempat berikut:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pondok Modern Darussalam Gontor&lt;br /&gt;   2. Pondok Modern Darunnajah Ulujami Jakarta&lt;br /&gt;   3. Universitas Negeri Makassar (UNM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi ini sekaligus menjadi jawaban dari banyaknya pertanyaan pembaca serambimadinah.com di artikel sebelumnya. Semoga informasi ini melecut semangat para penuntut ilmu agama dan memotivasi mereka untuk mempersiapkan diri. Ikuti terus pekembangannya di website anda ini! Tidak lupa, mari kita doakan semoga rencana ini dimudahkan dan diberi taufik oleh Allah Yang Maha Kuasa. Amin.&lt;br /&gt;Sumber:  dicopas dari serambimadinah.com&lt;br /&gt;         juga di copas dari http://stibamakassar.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-853950814105697559?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/853950814105697559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/daurah-penyaringan-mahasiswa-univ.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/853950814105697559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/853950814105697559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/daurah-penyaringan-mahasiswa-univ.html' title='Daurah Penyaringan Mahasiswa Univ. Islam Madinah 1432'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EVQd49VGYpg/TiAwNWOSU-I/AAAAAAAAAF8/9RhEfTfVUA8/s72-c/universitas-islam-madinah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-672024760839380342</id><published>2011-07-11T06:07:00.000-07:00</published><updated>2011-07-17T03:04:28.513-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='info'/><title type='text'>Penerimaan MABA PENDAFTARAN MA'HAD 'ALY AL-WAHDAH/STIBA MAKASSAR</title><content type='html'>Penerimaan MABA&lt;br /&gt;PENDAFTARAN MA'HAD 'ALY AL-WAHDAH/STIBA MAKASSAR &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima Mahasiswa Baru Semester Ganjil &lt;br /&gt;Tahun Akademik 1432 - 1433 H / 2011 - 2012 M&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas Pendidikan&lt;br /&gt;- Tersedia kelas persiapan bahasa bagi mahasiswa yang belum mampu berbahasa Arab&lt;br /&gt;- Laboratorium komputer dengan akses internet&lt;br /&gt;- Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar selama perkuliahan.&lt;br /&gt;- Dosen-dosen alumnus beberapa universitas terkemuka di timur tengah&lt;br /&gt;- Beasiswa bagi mahasiswa berprestasi&lt;br /&gt;- Peluang besar lanjut studi ke Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-Syarat Pendaftaran&lt;br /&gt;- Muslim(ah) lancar membaca al-Qur'an&lt;br /&gt;- Menyerahkan berkas sbb:&lt;br /&gt;   1.    Lembaran formulir yang telah diisi dan ditandatangani.&lt;br /&gt;   2.    Fotocopy Ijazah Pendidikan Terakhir (min. Aliyah/SMA/sederajat) dan Transkrip Nilai terlegalisir.&lt;br /&gt;   3.    Fotocopy KTP/SIM yang masih berlaku.&lt;br /&gt;   4.    Pas foto warna terbaru 3 x 4  (2 lembar).&lt;br /&gt;   5.    Rekomendasi dari lembaga atau tokoh atau murabbi (untuk kader WI).&lt;br /&gt;   6.    Pernyataan kesiapan membiayai kuliah hingga selesai dari pihak yang membiayai (kafil).&lt;br /&gt;- Membayar uang formulir pendaftaran:&lt;br /&gt;   &gt; Rp. 120.000,- untuk gelombang I&lt;br /&gt;   &gt;Rp. 150.000,- untuk gelombang II&lt;br /&gt;   &gt;Potongan 50% bagi siswa peringkat kelas 1 – 5 dengan melampirkan bukti/Rapor.&lt;br /&gt;   &gt;Gratis biaya pendaftaran ditambah potongan biaya masuk sebesar Rp. 400.000,- bagi penghafal Al-Qur’an 30 Juz dengan melampirkan surat keterangan&lt;br /&gt;-  Mengikuti ujian seleksi dan cek kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Proses Penerimaan Calon Mahasiswa Baru&lt;br /&gt;- Pendaftaran dan Pengembalian Formulir Gel. I : 2 Mei - 22 Juli 2011&lt;br /&gt;- Pendaftaran dan Pengembalian Formulir Gel. II : 1 - 19 Agustus dan 12 - 16 September 2011&lt;br /&gt;- Ujian tulisan dan lisan serta cek kesehatan : 19 - 20 September 2011&lt;br /&gt;- Pengumuman lulus Seleksi : 24 September 2011&lt;br /&gt;- Pendaftaran ulang/pembayaran biaya masuk/Masuk asrama : 26 - 29 Sept. 2011&lt;br /&gt;- Daurah Orientasi : 30 September 2011&lt;br /&gt;- Kuliah Perdana : 03 Oktober 2011\&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brosur dan Pendaftaran :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Pendaftaran:&lt;br /&gt;Kampus Ma'had 'Aly al-Wahdah, jln. Inspeksi PAM Manggala Raya Makassar.&lt;br /&gt;Telp. (0411) 4881230, Fax (0411) 4881229.&lt;br /&gt;Contract Person : Mukran Usman, Lc. (081283530473), Akhawat (0411-9287874)&lt;br /&gt;DIBUKA KELAS SORE UNTUK PERSIAPAN BAHASA&lt;br /&gt;www.stibamks.blogspot.com, email: stibamks@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-672024760839380342?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/672024760839380342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/penerimaan-maba-pendaftaran-mahad-aly.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/672024760839380342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/672024760839380342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/penerimaan-maba-pendaftaran-mahad-aly.html' title='Penerimaan MABA PENDAFTARAN MA&apos;HAD &apos;ALY AL-WAHDAH/STIBA MAKASSAR'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-5603054460452598875</id><published>2011-07-11T05:35:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T04:22:51.057-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasehat'/><title type='text'>ومرة أخرى: رفقاً أهل السنة بأهل السنة</title><content type='html'>بسم الله الرحمن الرحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومرة أخرى: رفقاً أهل السنة بأهل السنة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله، ولا حول ولا قوة إلا بالله، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه&lt;br /&gt;وبعد، فإن المشتغلين بالعلم الشرعي من أهل السنة والجماعة السائرين على ما كان عليه سلف الأمة هم أحوج في هذا العصر إلى التآلف والتناصح فيما بينهم، لاسيما وهم قلة قليلة بالنسبة للفرق والأحزاب المنحرفة عما كان عليه سلف الأمة، وقبل أكثر من عشر سنوات وفي أواخر زمن الشيخين الجليلين: شيخنا الشيخ عبد العزيز بن باز والشيخ محمد بن عثيمين رحمهما الله اتجهت فئة قليلة جداً من أهل السنة إلى الاشتغال بالتحذير من بعض الأحزاب المخالفة لما كان عليه سلف الأمة، وهو عمل محمود ومشكور، ولكن المؤسف أنه بعد وفاة الشيخين اتجه بعض هذه الفئة إلى النيل من بعض إخوانهم من أهل السنة الداعين إلى التمسك بما كان عليه سلف الأمة من داخل البلاد وخارجها، وكان من حقهم عليهم أن يقبلوا إحسانهم ويشدوا أزرهم عليه ويسددوهم فيما حصل منهم من خطأ إذا ثبت أنه خطأ، ثم لا يشغلون أنفسهم بعمارة مجالسهم بذكرهم والتحذير منهم، بل يشتغلون بالعلم اطلاعاً وتعليماً ودعوة، وهذا هو المنهج القويم للصلاح والإصلاح الذي كان عليه شيخنا الشيخ عبد العزيز بن باز إمام أهل السنة والجماعة في هذا العصر رحمه الله، والمشتغلون بالعلم من أهل السنة في هذا العصر قليلون وهم بحاجة إلى الازدياد لا إلى التناقص وإلى التآلف لا إلى التقاطع، ويقال فيهم مثل ما قال النحويون: ((المصغَّر لا يصغَّر))، قال شيخ الإسلام في مجموع الفتاوى (28/51): ((وتعلمون أن من القواعد العظيمة التي هي جماع الدين تأليف القلوب واجتماع الكلمة وصلاح ذات البين؛ فإن الله تعالى يقول : ( فاتقوا الله و أصلحوا ذات بينكم ) ويقول: (و اعتصموا بحبل الله جميعا و لا تفرقوا ) ويقول: (و لا تكونوا كالذين تفرقوا و اختلفوا من بعد ما جاءهم البينات و أولئك لهم عذاب عظيم )، وأمثال ذلك من النصوص التي تأمر بالجماعة والائتلاف وتنهى عن الفرقة والاختلاف، وأهل هذا الأصل هم أهل الجماعة؛ كما أن الخارجين عنه هم أهل الفرقة)).&lt;br /&gt;وقد كتبت في هذا الموضوع رسالة بعنوان: ((رفقاً أهل السنة بأهل السنة)) طبعت في عام 1424هـ، ثم في عام 1426هـ، ثم طبعت ضمن مجموع كتبي ورسائلي (6/281ـ327) في عام 1428هـ، أوردت فيها كثيراً من نصوص الكتاب والسنة وأقوال العلماء المحققين من أهل السنة، وقد اشتملت الرسالة بعد التقديم على الموضوعات التالية: نعمة النطق والبيان، حفظ اللسان من الكلام إلا في خير، الظنُّ والتجسُّس، الرِّفق واللِّين، موقف أهل السنَّة من العالم إذا أخطأ أنَّه يُعذر فلا يُبدَّع ولا يُهجَر، فتنة التجريح والهجر من بعض أهل السنَّة في هذا العصر وطريق السلامة منها، بدعة امتحان الناس بالأشخاص، التحذير من فتنة التجريح والتبديع من بعض أهل السنة في هذا العصر.&lt;br /&gt;ومما يؤسف له أنه حصل أخيراً زيادة الطين بلة بتوجيه السهام لبعض أهل السنة تجريحاً وتبديعاً وما تبع ذلك من تهاجر، فتتكرر الأسئلة: ما رأيك في فلان بدَّعه فلان؟ وهل أقرأ الكتاب الفلاني لفلان الذي بدَّعة فلان؟ ويقول بعض صغار الطلبة لأمثالهم: ما موقفك من فلان الذي بدَّعه فلان؟ ولابد أن يكون لك موقف منه وإلا تركناك!!! ويزداد الأمر سوءاً أن يحصل شيء من ذلك في بعض البلاد الأوربية ونحوها التي فيها الطلاب من أهل السنة بضاعتهم مزجاة وهم بحاجة شديدة إلى تحصيل العلم النافع والسلامة من فتنة التهاجر بسبب التقليد في التجريح، وهذا المنهج شبيه بطريقة الإخوان المسلمين الذين قال عنها مؤسس حزبهم: ((فدعوتُكم أحقُّ أن يأتيها الناس ولا تأتي أحداً ... إذ هي جِماعُ كلِّ خير، وغيرها لا يسلم من النقص!!)). (مذكرات الدعوة والداعية ص 232، ط. دار الشهاب) للشيخ حسن البنا، وقال: ((وموقفنا من الدعوات المختلفة التي طغت في هذا العصر ففرَّقت القلوبَ وبلبلت الأفكار، أن نزنها بميزان دعوتنا، فما وافقها فمرحباً به، وما خالفها فنحن براء منه!!!)) (مجموعة رسائل حسن البنا ص 240، ط. دار الدعوة سنة 1411هـ)، ومن الخير لهؤلاء الطلاب ـ بدلاً من الاشتغال بهذه الفتنة ـ أن يشتغلوا بقراءة الكتب المفيدة لأهل السنة لاسيما كتب العلماء المعاصرين كفتاوى شيخنا الشيخ عبد العزيز بن باز وفتاوى اللجنة الدائمة للإفتاء ومؤلفات الشيخ ابن عثيمين وغير ذلك، فإنهم بذلك يحصِّلون علماً نافعاً ويسلمون من القيل والقال وأكل لحوم بعض إخوانهم من أهل السنة، قال ابن القيم في الجواب الكافي (ص203): ((ومن العجب أن الإنسان يهون عليه التحفظ والاحتراز من أكل الحرام والظلم والزنى والسرقة وشرب الخمر ومن النظر المحرم وغير ذلك، ويصعب عليه التحفظ من حركة لسانه، حتى يُرى الرجل يشار إليه بالدين والزهد والعبادة وهو يتكلم بالكلمة من سخط الله لا يلقي لها بالاً ينزل بالكلمة الواحدة منها أبعد مما بين المشرق والمغرب، وكم ترى من رجل متورع عن الفواحش والظلم ولسانه يفري في أعراض الأحياء والأموات ولا يبالي ما يقول)).&lt;br /&gt;وإذا وُجد لأحد من أهل السنة كلام مجمل وكلام مفصَّل فالذي ينبغي إحسان الظن به وحمل مجمله على مفصله؛ لقول عمر رضي الله عنه: ((ولا تظننَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلا خيراً وأنت تجد لها في الخير محملاً)) ذكره ابن كثير في تفسير سورة الحجرات، وقال شيخ الإسلام ابن تيمية في الرد على البكري (ص324): ((ومعلوم أن مفسر كلام المتكلم يقضي على مجمله، وصريحه يُقدَّم على كنايته))، وقال في الصارم المسلول (2/512): ((وأَخْذ مذاهب الفقهاء من الإطلاقات من غير مراجعة لما فسروا به كلامهم وما تقتضيه أصولهم يجرُّ إلى مذاهب قبيحة))، وقال في الجواب الصحيح لمن بدل دين المسيح (4/44): ((فإنه يجب أن يفسر كلام المتكلم بعضه ببعض ويؤخذ كلامه هاهنا وهاهنا، وتُعرف ما عادته يعنيه ويريده بذلك اللفظ إذا تكلم به)).&lt;br /&gt;والناقدون والمنقودون لا عصمة لهم ولا يسلم أحد منهم من نقص أو خطأ، والبحث عن الكمال مطلوب، لكن لا يُزهَد فيما دونه من الخير ويُهدر، فلا يقال: إما كمال وإلا ضياع، أو إما نور تام وإما ظلام، بل يحافظ على النور الناقص ويُسعى لزيادته وإذا لم يحصل سراجان أو أكثر فسراج واحد خير من الظلام، ورحم الله شيخنا الشيخ عبد العزيز بن باز الذي وقف حياته للعلم الشرعي تعلماً وعملاً وتعليماً ودعوةً وكان معنياً بتشجيع المشايخ وطلبة العلم على التعليم والدعوة، وقد سمعته يوصي أحد المشايخ بذلك، فاعتذر بعذر لم يرتضه الشيخ، فقال رحمه الله: ((العمش ولا العمى))، والمعنى: ما لا يُدرك كله لا يترك بعضه، وإذا لم يوجد البصر القوي ووُجد بصر ضعيف وهو العمش فإن العمش خير من العمى، وقد فقد شيخنا رحمه الله بصره في العشرين من عمره ولكن الله عوضه عنه نوراً في البصيرة اشتهر به عند الخاص والعام، وقال شيخ الإسلام في مجموع الفتاوى (10/364): ((فإذا لم يحصل النور الصافي بأن لم يوجد إلا النور الذي ليس بصاف وإلا بقي الناس في الظلمة، فلا ينبغي أن يعيب الرجل وينهى عن نور فيه ظلمة إلا إذا حصل نور لا ظلمة فيه، وإلا فكم ممن عدل عن ذلك يخرج عن النور بالكلية))، ويشبه هذا مقولة بعض الناس: ((الحق كلٌّ لا يتجزأ فخذوه كله أو دعوه كله))، فإنَّ أخْذه كله حق وتركه كله باطل، ومن كان عنده شيء من الحق يوصى بالإبقاء عليه والسعي لتحصيل ما ليس عنده من الحق.&lt;br /&gt;والهجر المحمود هو ما يترتب عليه مصلحة وليس الذي يترتب عليه مفسدة، قال شيخ الإسلام في مجموع الفتاوى (28/173): ((ولو كان كلما اختلف مسلمان في شيء تهاجرا لم يبق بين المسلمين عصمة ولا أخوة))، وقال أيضاً (28/206): ((وهذا الهجر يختلف باختلاف الهاجرين في قوتهم وضعفهم وقلتهم وكثرتهم؛ فإن المقصود به زجر المهجور وتأديبه ورجوع العامة عن مثل حاله، فإن كانت المصلحة في ذلك راجحة بحيث يفضي هجره إلى ضعف الشر وخفيته كان مشروعاً، وإن كان لا المهجور ولا غيره يرتدع بذلك بل يزيد الشر، والهاجر ضعيف، بحيث يكون مفسدة ذلك راجحة على مصلحته لم يشرع الهجر)) إلى أن قال: ((إذا عُرف هذا، فالهجرة الشرعية هي من الأعمال التي أمر الله بها ورسوله، فالطاعة لا بد أن تكون خالصة لله وأن تكون موافقة لأمره، فتكون خالصة لله صواباً، فمن هجر لهوى نفسه أو هجر هجراً غير مأمور به كان خارجا عن هذا، وما أكثر ما تفعل النفوس ما تهواه ظانة أنها تفعله طاعة لله)).&lt;br /&gt;وقد ذكر أهل العلم أن العالم إذا أخطأ لا يتابَع على خطئه ولا يُتبرأ منه وأنه يُغتفر خطؤه في كثير صوابه، ومن ذلك قول شيخ الإسلام ابن تيمية في مجموع الفتاوى (3/349) بعد كلام سبق: ((ومثل هؤلاء إذا لم يجعلوا ما ابتدعوه قولاً يفارقون به جماعة الإسلام، يوالون عليه ويعادون كان من نوع الخطأ، والله سبحانه وتعالى يغفر للمؤمنين خطأهم في مثل ذلك، ولهذا وقع في مثل هذا كثير من سلف الأمة وأئمتها لهم مقالات قالوها باجتهاد، وهي تخالف ما ثبت في الكتاب والسنة، بخلاف من والى موافقه وعادى مخالفه وفرق جماعة المسلمين...))، وقال الذهبي في سير أعلام النبلاء (14/39): ((ولو أنَّا كلَّما أخطأ إمامٌ في اجتهاده في آحاد المسائل خطأً مغفوراً له قُمنا عليه وبدَّعناه وهجَرناه، لَمَا سلم معنا لا ابن نصر ولا ابن منده ولا مَن هو أكبر منهما، والله هو هادي الخلق إلى الحقِّ، وهو أرحم الراحمين، فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة))، وقال أيضاً (14/376): ((ولو أنَّ كلَّ من أخطأ في اجتهاده ـ مع صحَّة إيمانه وتوخِّيه لاتباع الحقِّ ـ أهدرناه وبدَّعناه، لقلَّ مَن يسلم من الأئمَّة معنا، رحم الله الجميعَ بمنِّه وكرمه))، وذكر ابن الجوزي أن من التجريح ما يكون الباعث عليه الهوى، قال في كتابه صيد الخاطر (ص143): ((لقيت مشايخ أحوالهم مختلفة يتفاوتون في مقاديرهم في العلم، وكان أنفعهم لي في صحبته العامل منهم بعلمه وإن كان غيره أعلم منه، ولقد لقيت جماعة من علماء الحديث يحفظون ويعرفون ولكنهم كانوا يتسامحون بغيبة ويخرجونها مخرج جرح وتعديل ... ولقد لقيت عبد الوهاب الأنماطي فكان على قانون السلف ولم يُسمع في مجلسه غيبة...))، وقال في كتابه تلبيس إبليس (2/689): ((ومن تلبيس إبليس على أصحاب الحديث قدح بعضهم في بعض طلباً للتشفي، ويُخرجون ذلك مخرج الجرح والتعديل الذي استعمله قدماء هذه الأمة للذب عن الشرع، والله أعلم بالمقاصد))، وإذا كان هذا في زمن ابن الجوزي المتوفى سنة (597هـ) وما قاربه &lt;span class="fullpost"&gt;فكيف بأهل القرن الخامس عشر؟!&lt;br /&gt;وقد صدر أخيراً رسالة قيمة بعنوان: ((الإبانة عن كيفية التعامل مع الخلاف بين أهل السنة والجماعة)) تأليف الشيخ محمد بن عبد الله الإمام من اليمن وقد قرَّظها خمسة من مشايخ اليمن، وقد اشتملت على نقول كثيرة عن علماء أهل السنة قديماً وحديثاً، ولاسيما شيخ الإسلام ابن تيمية والإمام ابن القيم رحمهما الله، وهي نصيحة لأهل السنة لإحسان التعامل فيما بينهم، وقد اطلعت على كثير من مباحث هذه الرسالة واستفدت منها الدلالة على مواضع بعض النقول التي أوردتها في هذه الكلمة عن الإمامين ابن تيمية وابن القيم، فأنا أوصي بقراءتها والاستفادة منها، وما أحسن ما قاله في هذه الرسالة (ص170): ((وقد يجرِّح المعتبرُ بعضَ أهل السنة فتنشب فتن الهجر والتمزيق والمضاربات، وقد ينشب القتال بين أهل السنة أنفسهم، فعند حصول شيء من هذا يعلم أن الجرح قد أدى إلى الفتن، فالواجب إعادة النظر في طريقة التجريح والنظر في المصالح والمفاسد، وفيما تدوم به الأخوة وتحفظ به الدعوة وتعالج به الأخطاء، ولا يصلح الإصرار على طريقة في الجرح ظهر فيها الضرر)).&lt;br /&gt;وما من شك أن المشايخ وطلبة العلم الآخرين من أهل السنة يشعرون بما شعر به هؤلاء الإخوة اليمنيون ويتألمون لهذه الفُرقة والاختلاف ويرغبون تقديم النصح لإخوانهم وقد سبق إليه الإخوة اليمنيون فجزاهم الله خيراً، ولعل لهذه النصيحة نصيباً من قوله صلى الله عليه وسلم: ((الإيمان يمان والحكمة يمانية)) رواه البخاري (3499) ومسلم (188)، والمأمول أن تكون هذه النصيحة من الإخوة اليمنيين محققة للغرض من كتابتها ونشرها، ولا أظن أن أحداً من أهل السنة يؤيد هذا النوع من التجريح والاهتمام بالمتابعة عليه وهو الذي لا يثمر إلا العداوة والبغضاء بين أهل السنة وغِلظ القلوب وقسوتها.&lt;br /&gt;ولا ينتهي عجب العاقل أنه في الوقت الذي يسعى فيه التغريبيون للإفساد في بلاد الحرمين بعد إصلاحها، ولاسيما الكارثة الأخلاقية في منتداهم في جدة الذي سموه زوراً: ((منتدى خديجة بنت خويلد)) والذي كتبت عنه كلمة بعنوان: ((لا يليق اتخاذ اسم خديجة بنت خويلد عنواناً لانفلات النساء))، أقول: في هذا الوقت يكون بعض أهل السنة منشغلين بنيل بعضهم من بعض والتحذير منهم.&lt;br /&gt;وأسأل الله عز وجل أن يوفق أهل السنة في كل مكان للتمسك بالسنة والتآلف فيما بينهم والتعاون على البر والتقوى ونبذ كل ما يكون فيه فُرقة أو خلاف بينهم، وأسأله تعالى أن يوفق المسلمين جميعاً للفقه في الدين والثبات على الحق، وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله صحبه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عبد المحسن بن حمد العباد البدر 16/1/1432هـ،&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الموضوع الأصلي: ((ومرة أخرى: رفقاً أهل السنة بأهل السنة)): العلامة عبد المحسن العباد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-5603054460452598875?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/5603054460452598875/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/2851.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5603054460452598875'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/5603054460452598875'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2011/07/2851.html' title='ومرة أخرى: رفقاً أهل السنة بأهل السنة'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7631635591702624076.post-6941725004245567762</id><published>2009-05-27T08:32:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T08:33:05.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarbiyah'/><title type='text'>Tarbiyah Gabungan</title><content type='html'>Alumni Islamic University Of Madinah, Ustadz Aswanto,Lc menjadi pembicara tunggal pada acara tarbiyah gabungan STIBA, Rabu, 27 mei 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mewasiatkan kepada para Thullab Stiba untuk memanfaatkan keberadaannya di Ma'had untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sebagai bekal untuk menjadi seorang da'i yang siap diterjunkan ke masyarakat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga memaparkan berbagai pengalaman dakwahnya di Tanah Rencong, Nangroe Aceh Darussalam, tempat beliau ditugaskan sebagai da'i oleh DPP WI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7631635591702624076-6941725004245567762?l=bemstiba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bemstiba.blogspot.com/feeds/6941725004245567762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2009/05/tarbiyah-gabungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/6941725004245567762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7631635591702624076/posts/default/6941725004245567762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bemstiba.blogspot.com/2009/05/tarbiyah-gabungan.html' title='Tarbiyah Gabungan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
